You are here:--Ekspedisi Pamalayu, perjalanan mengunjungi negeri Melayu

Ekspedisi Pamalayu, perjalanan mengunjungi negeri Melayu

pamalayu1

“Sebenarnya untuk melakukan perjalan bermotor, tidak perlu apapun!, …. cukup sebuah tekad sekeras baja-titanium. Itu saja!”

JAKARTA – MERAK

Memang sebulan sebelumnya pernah membicarakan sebuah perjalanan ke Sumatera melalui lintas-timur untuk melengkapi penulisan buku Jurnal Supermoto yang kedua. Benar, hanya sebatas itu saja kesepakatan yang dihasilkan, sedangkan siapa pesertanya, kapan waktunya, dan bagaimana pelaksanaan-nya… belum dibahas, bahkan tujuannya pun belum disepakati!, ..apakah hanya sampai Lampung?, Palembang?, Jambi, atau entah sampai mana!.
Baru pada hari Jumat tanggal 21 november 2014 kepastian keberangkatan didapat!, …dan itu berarti tiga hari lagi!. Lokasi tempat kumpul juga disepakati di kediaman Pak Sis, karena dari sana akan datang mobil pengangkut motor yang dipinjam Pak sis dari teman lamanya yang memiliki dealer motor besar. Sedangkan peserta yang pasti ikut ada empat orang, yaitu : Pak Sis,  Mario, Yogie dan Novan. Yang lain masih menunggu konfirmasi.
Jum’at, 21/11/2014 di hari H, Sambil menunggu datangnya mobil pengangkut motor, diisi dengan percakapan hangat. Saat itu ada tambahan satu peserta lagi yaitu Ramadhan, sehingga yang akan berangkat menjadi lima orang. Kepastian bergabungnya baru didapat sore ini setelah berhasil membereskan KTM 200 Duke yang baru turun mesin, karena mengalami kebocoran seal radiator sehingga olie tercampur air. Selain itu ternyata ijin cuti Ramadhan sampai hari ini belum didapat, sehingga baru sore tadi baru bisa memberi kepastian ikut. Tentu saja  tanpa ada restu atasan.
Ternyata apa yang dialami Ramadan menjadi awal terungkap kekacauan yang menimpa yang lainnya. Ternyata sebelum keberangkatan masing masing peserta mempunyai kendala yang harus diselesaikan. Mario sebelumnya sudah berusaha untuk memperbaiki Sumo SUZUKI DRZ 400, tetapi sampai seminggu sebelum berangkat belum bisa selesai karena ada sparepart yang belum datang. Akhirnya diputuskan untuk memakai Yamaha Tenere 600cc yang sudah dilengkapi dengan side box sehingga bisa difungsikan sebagai motor logistic.
Husqvarna 610 SM Milik Pak Ustad ( Yogie ) yang baru saja digunakan mengelilingi pulau Madura, hanya sempat dicek kelistrikannya saja. Memang dalam perjalanan itu sempat mengalami trouble, yaitu Accu-nya mendadak mati. Sama seperti Pak Sis yang juga berpartisipasi mengililingi Madura dengan Honda XR 650R, juga harus membenahi radiator karena bocor terkena baut kipas. KTM 250 EXC yang ditunggangi Novan sendiri juga bikin ulah karena baut pada dudukan setandar patah terus, meskipun sudah diganti baut baja yang kuat sampai tiga kali. Bisa dikatakan selama perjalanan motor itu harus diganjal batu agar setandar bisa menopang motor dengan kuat. Nantinya baru diketahui kalau ternyata ada per-penahan yang hilang sehingga setandar tidak bisa berfungsi maksimal.
Itu baru motor, belum masalah yang dihadapi penunggangnya. Mario terkendala jadwal pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum bisa bergabung, demikian juga dengan yang dialami Pak Ustad yang dipusingkan dengan jadwal waktunya. Pak Sis juga harus menyesuaikan waktu cutinya dengan pekerjaan kantor yang harus diselesaikan sebelum akhir tahun. Sedang Novan lebih parah lagi karena sore tadi anaknya harus masuk rumah sakit karena demam yang tinggi. Mungkin hanya komitmen yang membuat kami bisa memiliki tekad baja untuk melakukan perjalanan ini.
Malam itu juga diperoleh khabar bila ada team lain yang akan  bergabung dan langsung menuju Merak, meskipun belum bisa dipastikan. Sejam kemudian kami berangkat dengan dua mobil ; satu untuk mengangkut penumpang, dan yang lain untuk mengangkut serta menarik trailer yang berisi motor.

MERAK – BAKAUHENI

Sabtu, 22/11/2014, Selepas tengah malam rombongan sampai di Merak, dan langsung menurunkan motor dari mobil pengangkut. Karena Novan yang paling mengenal tempat ini maka yang lain mengikuti kemudian bergegas ke pelabuhan untuk membeli tiket penyeberangan. Setelah itu segera menuju dermaga yang saat itu cukup ramai oleh kendaraan yang mengantri di depan ferry yang sedang membongkar muatan. Disini tampak sekali keunggulan motor yang tidak perlu antri karena bisa menyodok langsung ke depan.
Pada pukul 02.00 WIB, Ternyata didalam perut kapal hanya ada Novan dan Pak Ustad, sedangkan yang lain tidak tampak. Baru disadari tadi mereka berdua terlalu keasikan meliuk-liuk dan menyelinap di antara antrian truk, bus, pick-up dan mobil …sehingga lupa bahwa Yamaha Tenere tunggangan  Mario tersangkut di antara celah kendaraan yang membentuk lorong sempit. Dan karena posisinya tepat di belakang Pak Ustad yang membuntuti Novan, membuat  lorong pun tersumbat. Akibatnya dua motor yang paling belakang, Pak Sis dan Ramadhan ikut terhalang. Terpaksa mereka bertiga memutar mencari-cari lorong agar bisa menyodok antrian kendaraan.
Dengan bobot dua kuital membuat Yamaha Tenere paling tambun diantara supermoto yang lain. Apalagi tambahan side-box membuat posturnya menjadi semakin gemuk. Tentunya membuat motor ini kerepotan mengikuti supermoto yang ramping dan gesit, ketika diajak menyelinap di antara kemacetan lalu lintas atau melintasi gang-gang dan jalan tikus di perkotaan. Meskipun demikian, kemampuan angkutnya terhitung luar biasa untuk ukuran motor. Sehingga selain memuat semua logistik yang dibawa Mario, juga  masih mampu dijejali sebagian logistik milik Pak Sis dan Pak Ustad.
Setelah memarkir dan membongkar bagasi yang berupa tas ransel kecuali Mario, yang kini keropotan harus membawa dua box ditambah dry-bag sehingga harus dibantu yang lain. Sasaran selanjutnya adalah menemukan ruangan yang nyaman untuk beristirahat. Beruntung masih mendapatkan ruang lesehan sehingga menjamin bisa tidur dengan nyenyak  selama pelayaran.
pamalayu-2

BAKAUHENI-SUKADANA-MENGALA –PALEMBANG

Pukul 05.00 WIB, Kapal memasuki perairan Bakauheni yang tenang dan berkabut akibat hujan semalam. Sebelum meninggalkan kapal, disempatkan berdoa bersama dipimpin oleh Pak Ustad. Kemudian disusul briefing singkat yang dipimpin Pak Sis. Saat itu lah beliau mengusulkan untuk tidak melewati Jalan Raya yang langsung mengarah ke Bandar Lampung, yang bila terus ke utara akan memasuki Lintas Timur. Alasannya sederhana, karena dua tahun yang lalu pernah dilewati oleh SMOG saat menuju Padang.
Sepertinya Pak Sis sudah melihat ada Jalur Alternatif yang menjulur ke utara sejajar dengan Jalan Raya. Jalur ini awalnya menyusuri pesisir timur Lampung. Seratus kilometer kemudian mulai berbelok memasuki pedalaman, hingga bertemu Lintas Timur di utara Mengala.
Pukul 06.00 WIB, Begitu mendarat, konvoi supermoto ini segera keluar dari pelabuhan Bakauheni, dan memasuki jalan raya yang mengarah ke Bandar Lampung. Namun tiga ratus meter kemudian terdapat persimpangan dan motor pun dibelokan ke timur hingga sekarang memasuki jalan alternatif yang jalurnya menanjak. Sesampainya di puncak tanjakan tiba-tiba terhampar panorama perairan Bakauheni yang elok dan mistis dengan berselimut kabut, yang menutupi cahaya pagi yang teduh.
Acara selanjutnya adalah menikmati kebebasan. Bisa dikatakan jalan dilintasan ini meskipun tidak terlalu lebar namun kondisinya cukup bagus sehingga berbahaya. Kenapa? ….karena aspal hotmix nya yang mulus, jalanan yang terbuka dan lalu lintasnya yang sepi, pasti mengoda siapun untuk memacu motor. Namun semua itu bisa berubah ketika menemukan tikungan tajam yang tertutup. Karena dibaliknya bisa jadi jalanan langsung berubah menjadi hamparan tanah berlubang-lubang, yang bercampur batu dan kerikil.  Begitu juga yang kami alami. Begitu memasuki tikungan dengan kecepatan cukup tinggi, tiba-tiba di balik tikungan mendapati aspal hotmix lenyap. Yang bisa dilakukan hanya melawan panik ; menstabilkan motor, melepaskan gas sambil perlahan menekan dan mengijak rem,…dan bersiap menghadapi benturan!.
Beruntung kami mengendari supermoto yang memiliki rangka kokoh dan suspensi handal. Dengan berdiri diatas footstep dan mencoba bermanuver menghindari lubang yang dalam,kami libas ruas yang hancur itu. Selanjutnya kami cukup memacu motor pada kecepatan jelajah antara 60 sampai 90 kilometer perjam, sesuai kondisi dan situasi saja.
Pagi ini kami membentuk konvoi longar yang jarak antara satu motor dengan yang lain bisa satu atau bahkan lima kilometer. Juga disepakati untuk beristirahat dan berkumpul setiap menempuh jarak seratus kilometer.
07.30 WIB, Seratus kilometer pertama terjelang ketika konvoi sampai di Pelabuhan Maringai. Bila ditarik garis lurus ke barat, kota ini sejajar dengan Bandar lampung yang terpisah oleh jarak sejauh 70 kilometer. Ketika menemukan sebuah rumah makan yang tampaknya nyaman, kami pun berhenti dan beristirahat.
pamalayu-3
Sekarang perjalanan dilanjutkan dengan memasuki pedalaman Lampung. Setelah melewati Way Jepara, persimpangan kearah pelatihan gajah di Way Kambas, Sukadana,.. akhirnya sampai di perkebunan tebu yang amat luas. Kondisi jalan disini bagus, datar dan lurus, dengan lalu luintas yang bisa dikatakan kosong!.  Pak Ustad, Pak Sis dan Mario kegirangan saat menemukan surga para pemuja topspeed ini. Karena  bisa berekpresi tanpa perlu kuatir akan menggangu siapapun di tempat sesepi ini. Sedangkan Topan dan Ramadhan tetap asik menikmati panorama alam yang melaju dengan kecepatan jelajah.
10.00 WIB,  Jalur Alternatif ini akan bertemu dengan Lintas Timur di sebelah utara Mangala. Ketika jarak tempuh kembali mencapai seratus kilometer, kami pun mencari-cari warung kopi yang nyaman untuk beristirahat. Setengah jam kemudian perjalanan dilanjutkan, namun tiba-tiba hujan lebat turun dengan derasnya. Akibatnya formasi menjadi berantakan dan terpecah menjadi tiga kelompok.
Ketika hujan turun Pak Uztad dan Mario yang berada paling depan sudah sampai di Mesuji, dan memutuskan untuk berteduh sambil menunggu yang lain di sebuah rumah makan yang lokasinya sedikit menjorok kedalam. Sedangkan Pak Sis yang berada dibelakang mereka langsung berhenti  untuk berganti raincoat, kemudian bergegas menyusul.
Meskipun kedua rekannya sempat melihat, namun Pak Sis tidak melihat dan tanpa sadar malah melewatinya hingga melintasi perbatasan provinsi Lampung dengan Sumatera Selatan.  Sedangkan Novan dan Ramadhan yang berada di posisi paling belakang terpaksa berteduh di sebuah warung akibat derasnya hujan.
Mungkin karena gangguan cuaca buruk, ternyata saat itu kami tidak bisa saling menghubungi lewat handhone, sekitar dua jam mereka tidak saling mengetahui kondisi dan lokasi kelompok yang lain. Ketika hujan mulai reda Novan dan Ramadhan yang berada paling belakang bergegas menyusul yang lain. Entah kenapa, sama seperti Pak Sis ternyata mereka berdua juga tidak melihat Pak Uztad dan Mario yang sedang beristirahat di Mesuji.
Setelah melintasi sungai Mesuji yang menjadi perbatasan kedua provinsi, Novan dan Ramadhan memutuskan berhenti di emperan sebuah toko yang tutup dan memarkir motor dibahu jalan agar mudah dilihat. Diputuskan untuk menunggu khabar apakah posisinya sudah didepan atau malah masih dibelakang.
14.00 WIB : Pak Uztad dan  Mario menemukan Novan dan Ramadhan di dekat perbatasan. Sekarang posisi menjadi jelas bahwa Pak Sis pasti ada didepan, sehingga diputuskan untuk menyusul. Tidak lupa untuk mengirimkan pesan melalui SMS agar Pak Sis bisa mengetahui posisi kami, karena hubungan lewat telepon masih belum memungkinkan .
15.00 WIB : Di tengah perjalanan akhirnya Pak Sis menghubungi dan memberitahukan posisinya yang sudah sampai di Kayu Agung. Akhirnya diputuskan Pak Sis tetap maju kearah Palembang sedangkan kami berempat membuntuti.
18.00 WIB : Hujan yang masih turun serta stamina yang mulai terkuras membuat perjalanan menjadi lambat dan sulit. Apalagi ketika malam tiba….ternyata listrik disepanjang jalan yang kami lewati padam sehingga suasana menjadi gelap gulita. Masih ditambah dengan gerimis dan aspal yang basah sehingga memantulkan lampu motor dan berbalik menyilaukan mata. Belum lagi ketika berpapasan dengan kendaraan disini yang tanpa dosa mengunakan lampu led yang sanggup membutakan pandangan selama beberapa saat. Pak Sis yang paling susah, karena lampu utama motor mati sehingga terpaksa meneruskan perjalanan hanya dengan menyalakan lampu sein.
19.00 WIB : Para rider dari Sriwijaya Supermoto dan rombongan dari Jambi  sudah menunggu dipinggir kota Palembang, dan Pak Sis ternyata sudah bisa melakukan kontak dengan anak-anak tadi. Diputuskan Pak Uztad dan Mario untuk bergegas menuju titik kumpul, yang selanjutnya menuju Hotel. Sedangkan Novan dan Ramadhan yang kelelahan memilih berhenti dan beristirahat di sebuah warung.
21.00 WIB : Semua sudah berkumpul di Palembang,…namun tidak seorangpun yang mengetahui bahwa hari ini adalah ulang tahun Novan yang ke 41. Apapun itu tampaknya perjalanan dan kebersamaan ini adalah kado yang indah.
Acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan malam. Selanjutnya tuan rumah mempersilahkan kelima tamu dari Jakarta dan tiga tamu dari Jambi untuk beristirahat. Namun tidak untuk motornya, karena anak-anak supermoto Sriwijaya itu ingin meredakan hiruk pikuk segerombolan penunggang motor yang  dengan provokatif berkumpul disekitar Hotel sambil memamerkan gelegar knalpot motornya. . . .  Akhirnya Husqvarna 610SM unjuk kebolehan dan ditangan anak-anak Sriwijaya Supermoto , aksinya ternyata mampu menggentarkan motor-motor yang lain. Apalagi motor itu sudah dilengkapi knalpot TERMOGNINI buatan Italy.
Minggu, 23/11/2014 H+1 ; 07.00 WIB : Esok paginya setelah sarapan diisi acara menyiapkan motor . Baru diketahui kalau bola lampu utama Pak Sis remuk sehingga harus diganti.  Selanjutnya mereka bergegas menuju Benteng kuto Besak yang terletak di pinggir sungai Musi. Namun saat sedang mengisi bensin disebuah SPBU, tiba-tiba dudukan setandar Honda XR650R yang ditunggangi Pak Sis patah, sehingga harus mencari tukang las untuk diperbaiki. Tanpa setandar Pak Sis tidak bisa menyalakan motor yang tidak dilengkapi electric-starter itu. Namun tidak kekurangan akal, empat orang segera menahan motor agar mantap berdiri sehingga Pak Sis bisa bisa menendang engkol untuk menyalakan motor.
Akhirnya mereka sampai dilokasi yang letak tempat itu tidak jauh dari jembatan Ampera yang menjadi latar penyerahan Plakat Pengukuhan dari Presiden SMOG, Sdr. Mario kepada Sriwijaya Supermoto atas berdiri dan bergabungnya Sriwijaya Supermoto dikeluarga besar Supermoto Owner Group sebagai Grup para pemilik Supermoto di Indonesia.
pamalayu-4
Saat itu Novan menyatakan keinginan untuk menyudahi perjalanan di Palembang karena anaknya masih dirawat di rumah sakit. Ternyata Ramadhan berniat menemaninya karena mempertimbangkan cutinya yang belum disetujui. Diputuskan untuk berbalik ke Bandar Lampung, dari sana motor akan dipaketkan ke Jakarta dan orangnya bisa mengunakan pesawat terbang atau bus Damri jurusan Lampung-Jakarta.
Pukul 11.00 WIB, Novan dan Ramadhan berpisah, sedang  Pak Sis, Pak Uztad dan Mario serta rekan-rekan dari Jambi yang ikut menjemput di Palembang, melanjutkan perjalanan menuju Jambi, sedangkan Novan dan Ramadhan balik menuju Lampung dengan memilih jalur yang berbeda dengan saat kedatangan, yaitu Lintas Tengah. Cabangnya ada di Indralaya yang jika ke keselatan akan memasuki Lintas Timur, sedangkan bila terus ke barat memasuki koridor yang menghubungkan dengan Lintas Tengah.

PALEMBANG-MUARAENIM-BATURAJA

(Ramadan & Novan)
Dalam perjalanan tengah hari, cuaca cukup terik meskipun berawan. Mereka beristirahat di sebuah rumah makan di Prabumulih yang merupakan pertemuan dengan Lintas Tengah Sumatera. Jalan raya ini adalah jalur darat tertua yang dibuat kolonial Belanda di Sumatera yang menghubungkan bagian selatan Sumatera di Bandar Lampung, hingga Banda Aceh di utara. Disini terdapat persimpangan yang ke selatan menuju Baturaja, sedangkan yang ke Barat menuju Muaraenim.
Karena jalur yang melewati Lintas Tengah dari Prabumulih menuju Baturaja di selatan relatif datar dan monoton dengan hamparan kebun kelapa sawit dan karet yang luas. Diputuskan melalui Muara Enim yang melambung.Dari Prabumulih jalurnya menyusuri salah satu anak sungai Musi, yaitu Lematang hingga sampai di Muara Enim. Setelah itu baru berbelok ke selatan menerobos pegunungan melalui jalur alternative yang akan bertemu Lintas Timur lagi di Baturaja .
16.00 WIB : Sesampainya di Muara Enim diputuskan untuk beristirahat. Baru selepas magrib perjalanan dilanjutkan memasuki jalur alternatif yang berupa jalan pegunungan yang gelap, sepi, sempit, naik-turun dan berkelak-kelok.
19.00 WIB : Hujan deras yang turun memaksa berteduh selama dua jam di sebuah masjid di Muara Pandan. Nyaris tidak ditemukan kendaraan lain yang melintas, bahkan di kampung-kampung nya pun tidak terlihat seorangpun yang tampak.
22.00 WIB, Akhirnya Ramadhan dan Novan keluar dari pegunungan yang gelap, dan sampai di Ulak Pandang yang jaraknya sekitar dua puluh kilometer sebelum Baturaja. Disana terdapat pangkalan truk yang terletak dipingir sungai Ogan yang bila hari terang maka panorama ‘river-view’ nya begitu mempesona. Tempat itu selain menjual makanan dan miniman hangat, ternyata juga menyediakan tempat bermalam gratis. Bentuknya berupa rumah panggung yang panjang dan terbuka, dengan lantai kayu yang sangat nyaman. Selain itu juga ada tukang pijat yang sanggup melemaskan otot-otot yang tegang setelah dua hari berada di jalanan. Saat itu, jelaslah bahwa hari ini gagal mencapai Bandar Lampung.
pamalayu-5

BATURAJA-MUARADUA-LIWA-BUKITKEMUNING-BANDARLAMPUNG

(Ramadan & Novan)
Senin, 23/11/2014 H+2, Pukul 06.00 WIB : Setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan menuju Baturaja. Sebenarnya untuk mencapai Bandar Lampung tinggal mengikuti Lintas Tengah yang menuju Martapura kemudian menyeberangi perbatasan Lampung. Jalurnya melintasi belukar, perkebunan karet dan desa-desa yang sederhana dan momoton. Entah mengapa timbul ide untuk berkunjung ke danau Ranau yang indah, meskipun untuk itu harus melambung ke barat dari Baturaja.
Dengan mantap mereka mengikuti pertunjuk seorang warga setempat hingga dapat menemukan jalan menuju Simpang. Dari sana berbelok ke barat mengarah ke Muara Dua yang terletak didekat hulu sungai Komering, dari sana danau Ranau sudah dekat.  Setelah melintasi kebun-kebun kopi yang rimbun
dan guyuran hujan lebat sampailah di danau Ranau yang saat itu tertutup kabut.
12.00 WIB, Setelah hujan reda perjalanan dilanjutnya menuju Liwa, kemudian memasuki koridor yang menghubungkan Lintas Barat di Krui yang terletak di pesisir barat Sumatera dengan Lintas Tengah. Sampailah di Bukit Kemuning yang terletak di Lintas Tengah dan berhenti untuk makan siang dan beristirahat.
14.00 WIB : Perjalanan dilanjutkan menuju Kotabumi kemudian terus ke timur hingga tiba di Terbangi, dan masuk ke Lintas Timur menuju selatan.  Namun sesampainya Bandar Jaya, hujan deras turun dengan disertai angin kencang yang cukup mengerikan. Segera jalanan tertutup air seolah berubah menjadi sungai sehingga menimbulkan kemacetan panjang. Jelaslah saat itu, meskipun tidak satupun motor yang terlihat masih ada di jalan, namun dengan tertatih-tatih Ramadhan dan Novan tetap berusaha maju dengan bermanuver melalui bahu jalan, jalur lawan, sampai trotoar untuk menembus kemacetan.
Pukul 16.00 WIB , Novan dan Ramadhan sampai di Bandar Lampung dan mendapati keluarganya dalam keadaan sehat. Malamnya Ramadhan langsung kembali ke Jakarta naik bus Damri. Sedangkan kedua motor dikirim ke Jakarta  melalui perusahaan ekspedisi.

PALEMBANG-JAMBI

(Pak Sis, Mario, Pak Ustad)
Minggu 23 Nopember 2014, siang hari setelah berpisah dengan Novan dan Ramadhan. Rombongan Pak Sis, Mario dan Pak Ustad dikawal Abdee dari JamSmog dengan Yamaha Scorpio yang dimodif menjadi supermoto, dan dua orang Kracker Jambi dengan dua Kawasaki KLX150 modif Sumo yaitu Kang Katro dan Jamsuri.
Sejak keluar kota Palembang menuju Jambi, jalanan sempit dan lalu lintas sangat padat dengan aktivitas truk-truk besar berbagai jenis yang menyebabkan kemacetan. Hal ini diperparah dengan disiplin berkendaraan para pengemudi mobil dan angkot yang saling menyerobot. Namun rombongan Supermoto masih mampu meliuk dengan lincah dan memanfaatkan motor yang dapat berakselerasi dengan cepat, sehingga mampu lolos dari simpul-simpul kemacetan.
14.00 WIB : Kemacetan menjadi cair selepas Betung. Mendekati Sungai Lilin kita beristirahat di sebuah rumah makan minang yang cukup besar dan tampaknya baru dibangun. Namun sewaktu makan datang serbuan dari kawanan lalat yang  jumlahnya sangat banyak, sehingga suasana bagaikan di pasar ikan saja. Setelah kita bertanya baru diketahui kalau dibelakang ada peternakan ayam. Namun rasa lapar ternyata bisa mengalahkan pandangan, meskipun terpaksa harus makan dengan cepat agar kenyang.
Hujan dan terang silih berganti antara Sungai Lilin dan Bayungleuncir sehingga menjadikan sedikit repot untuk memakai dan melepas jas hujan. Saat itu baru diketahui apabila oli sok depan sebelah kanan Yamaha Tenere yang dikendarai Mario ternyata bocor. Akibatnya setiap kali berbelok harus melambatkan motor karena kestabilan menjadi berkurang. Ternyata hal yang sama juga terjadi pada KTM 200 Duke yang dikendarai Ramadhan yang saat ini sedang mendekati Muara Enim.
Kondisi jalan disini yang bagus, terbuka, dan sepi sehingga banyak ruasnya yang memungkinkan untuk mengexploitasi kemampuan motor. Maka terjadilah uber-uberan sengit antara Yamaha Scorpio yang sudah di modif tampilannya mirip supermoto lansiran KTM dan mesinnya juga sudah di ‘boreup’. Melawan Husqvarna 610SM yang diakhiri dengan rontoknya mesin scorpio, karena mengalami ‘overhead’ atau kepanasan akibat mesinnya terus menerus digeber melebihi batas.
Bila kedua motor dibandingkan, spesifikasinya jauh berbeda karena yang satu adalah supermoto non-pabrikan yang dikembangkan dari motor harian dengan kapasitas mesin dibawah 250 cc. Melawan supermoto pabrikan dengan mesin diatas 600 cc yang sudah mengalami modifikasi penggantian knalpot Termognini buatan Italy dan rejecting sehingga tenaganya menjadi berlipat ganda.
Sekarang terpaksa motor yang mogok harus dievakuasi dengan pick-up, sedangkan penunggangnya, yaitu Abdee malah mengantikan Pak Ustad yang kini malah jadi pembonceng. Selanjutnya keduanya melanjutkan balapan dalam satu motor melawan supermoto yang lain .  Ternyata meskipun berboncengan, kelincahan dan akselerasi Husqvarna 610SM tidak tampak berkurang.
Pukul 19.30 wib, kami memasuki Jambi dan langsung menuju markas JAMSMOG di kediaman Kang Katro yang juga seorang mekanik motor. Disana motor ditinggalkan untuk dibersihkan sekaligus diperbaiki seal sok depan Yamaha Tenere yang bocor.
Senin, 24 Nopember 2014, pukul 07.00 wib setelah sarapan pagi di Hotel, kita diantar menuju markas JAMSMOG untuk mengambil motor sekaligus persiapan melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah mengisi bensin penuh, dengan diantar rekan-rekan dari Jambi. Kita menyempatkan diri untuk mampir ke Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai Jambi untuk bersilaturahmi.
Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Candi Baru di Muaro Jambi yang berkaitan erat dengan jejak sejarah Sumatra dan Nusantara yang akan dibahas dibuku Jurnal Supermoto yang kedua. Lokasinya sekitar 25 kilometer dari kota Jambi. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Lintas Timur yang menuju Pekanbaru. Disini kami berpisah dengan rekan-rekan dari Jambi.

JAMBI-PEMATANGREBA-BASERAH

Jalan raya ini mula-mula sejajar dengan sungai Batanghari namun dua puluh kilometer kemudian mulai menanjak saat memasuki pegunungan yang kondisi jalurnya sangat bagus dan mulus. Disini dapat dijumpai sebuah lintasan aspal hotmix yang mulus dan sepi dengan turunan, tanjakan serta kelokannya yang mengasikan. Setelah dua jam bermotor dengan menempuh jarak 150 kilometer atau dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer perjam, sampailah kami di Merlung.
Cuaca yang panas membuat konsentrasi dan stamina cepat terkuras sehingga diputuskan untuk beristirahat dan mengisi bensin Premium di SPBU.  Hal ini mirip kejadian waktu SMOG melakukan perjalanan dari Wotu ke Poso, meskipun jalan lenggang dan kecepatan diatas 80 km/jam, rasanya konsentrasi dan mata sudah tidak fokus lagi.
Lepas tengah hari setelah istirahat, cuaca menjadi teduh. Sehingga setelah menuaikan sholat dhuhur dan jamak, perjalanan bisa dilanjutkan hingga menemukan warung makan karena perut sudah terasa lapar. Tampaknya perbatasan Jambi dengan Riau sudah dekat.
17.15 WIB , Di Pematang Reba kami menemukan SPBU yang menjual Pertamax. Disana kami bertiga sempat membicarakan apakah akan melanjutkan perjalanan menuju Pekanbaru. Akhirnya karena mempertimbangkan faktor stamina yang sudah menurun, malam yang segera menjelang, serta cuaca yang basah sesudah hujan. Diputuskan untuk singgah dan bermalam di Basra yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh, sekitar 70 kilometer dari Pematangreba. Karena disana tinggal Nenek mertua Pak Sis.
20.00 WIB, Setelah hampir tiga jam bermotor sampailah di Basra. Basra adalah tujuan pemberhentian, kebetulan Kampung mertua Pak Sis ada disana. Akhirnya malam ini bisa merasakan istirahat di rumah kayu khas Melayu yang sudah digelar karpet ditengah ruangan. Sebelumnya Pak Sis sempat telpon untuk minta dicarikan tukang pijat.
Akhirnya semangat Pak Uztad yang sebelumnya masih menggebu-gebu untuk meneruskan perjalanan malam itu ke Pekanbaru yang berjarak sekitar 170 km, setelah dipijat malah minta untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan pada pagi hari sehingga waktu bangun subuh kondisi badan sudah fit kembali.
pamalayu-6

BASRAH-TALUK KUANTAN-PEKANBARU

Selasa 24 Nopember 2014, Setelah sarapan pagi bertiga bersiap untuk meneruskan perjalan ke Pekanbaru.
Perjalan dimulai sekitar pukul 07.30, dengan jalan yang masih basah dari hujan semalam dan jalanan yang masih sempit , bertiga dengan gaya supermotonya masing masing berusaha untuk melaju secepatnya menuju Taluk Kuantan yang tersohor dengan acara PACU JALUR di sungai yang menjadi acara meriah yang diselenggarakan setiap tahun dan sekarang Podium menonton Pacu jalurpun sudah dibuat megah oleh Bupati.
Setelah masuk kota Taluk Kuantan, terdapat persimpangan kekiri menuju Sumatera Barat dan yang kebarat menuju Lipat Kain, yang bila terus akan sampai di Pekanbaru. Saat melewati Muara lembu Pak Sis terkenang ketika beberapa  tahun yang lalu melintasi di tempat ini menjelang magrib, dan tiba-tiba didepan terhalang oleh gerombolan babi hutan yang sedang menyeberang. Beruntung saat itu berpapasan dengan ekor rombongan, coba kalau kepergok dengan gerombolan di bagian tengah atau didepan, pasti akan lain ceritannya. Selain itu di wilayah ini konon masih sering warga memergoki harimau yang berkeliaran.
Menjelang Lipat kain yang merupakan pertengahan antara Taluk Kuantan dengan Pekanbaru, tiba-tiba motor pak Ustad mengalami masalah dengan baut knalpot yang patah sehingga harus diperbaiki secara darurat ditengah jalan. Ternyata tidak jauh dari tempat itu terdapat Warung yang menyajikan kuliner setempat, yaitu Lontong sayur khas Riau.
Setelah sarapan perjalanan dilanjutkan dengan memacu motor melintasi perbukitan yang ditutupi kebun kelapa sawit yang luas. Mendekati Pekanbaru segera menginformasikan kepada teman Kracker di kota itu yang akan menjemput untuk memandu menuju Hotel.
Sesampai dihotel Mario dan Pak Ustad membersihkan diri dan bersiap pulang ke Jakarta malam itu juga karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan Pak Sis bersama anak-anak dari Kracker Riau yang menuju Stadion Pekanbaru untuk menjajal supermoto pabrikan, yaitu Husqvarna 610SM dan supermoto hasil modifikasi motor enduro, yaitu Honda XR 650R.
Dengan merasakan sendiri mengendarai akan didapat pengalaman nyata yang sebenarnya, bukan hanya sekedar ‘katanya’. Bahkan disitu Roman yang sempat mencoba kedua motor sempat terpesona dan berkomentar, menaiki supermoto-supermoto itu serasa sedang naik motor matic saja, karena power to weight rasionya sangat besar sehingga motor terasa ringan kalau sudah berjalan.
pamalayu-7
Setelah itu Mario dan Pak Ustad berpamitan ke Bandara untuk pulang ke Jakarta. Sedangkan motor-motor mereka, kebetulan langsung bisa dikirim melalui perusahaan jasa cargo ke Jakarta malam itu. Perjalanan mengunjungi negeri Melayu ini pun diakhiri, jarak yang ditempuh dari Merak ke Palembang menuju Jambi dan berakhir di Pekanbaru dijalani sejauh 1550 km, namun kisahnya akan menjadi bagian cerita dari buku Jurnal Supermoto 2 ; Jalan Tengah Sumatera.
Walaikumsalam Wr. Wb. Terima kasih.
By | 2017-04-27T04:06:38+00:00 February 14th, 2015|Categories: smog-news|Tags: , , |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment