You are here:--Wild Wild West – Java

Wild Wild West – Java

Jakarta-Citorek-Ciptagelar-Pelabuhanratu

Trouble is a friend…seolah lagu satir yang dilantunkan Lenka bisa mengambarkan apabila sudah takdirnya, maka tidak peduli seberapa tangguhnya supermoto tetap saja mesti rontok saat jalanan menjadi tidak bersahabat….
Dan mimpi buruk itu benar-benar terjadi dalam perjalanan mengunjungi desa adat Citorek dan Ciptagelar. Bisa jadi kami telah meremehkan rute yang sudah beberapa kali dilewati ini, sampai jalanan yang sebelumnya ramah tiba-tiba menghajar kami tanpa ampun. Disini kami dipaksa menembus batas kemampuan fisik, mental dan motor kami.
wwwj-1

Jakarta-Bogor-Leuwiliang-Cipanas

21 Maret 2015, Sabtu pagi kami sudah berkumpul di jalan raya Bogor-Labuan, tepatnya di depan Institut Pertanian Bogor. Terus terang perjalanan kali hanya dengan persiapan seadanya bahkan terkesan dipaksakan. Setelah malamnya diputuskan, langsung tergesa-gesa mempersiapkan motor, peralatan dan perlengkapan.
Subuh menjelang keberangkatan baru disadari baut kopling KTM 200Duke tunggangan Pak ketua Indoc Eko hilang, sehingga terpaksa diganjal dengan paku. Kang Pri dari Pulsarian Tangerang Selatan bahkan belum sempat menganti ban offroad bawaan Monstrack 200 yang baru dibelinya, dengan ban onroad. Novan sendiri baru semalam mengambil Hyosung 125SM yang bahkan belum dicobanya, cukup percaya dengan pemilik motor yaitu Kang Sigit yang katanya semuanya beres. Bahkan Pak Sis baru subuhnya berhasil menambal radiator KTM 250EXC-F yang sudah dimodifikasi menjadi supermoto.
wwwj-2
Begitu pula dengan perlengkapan karena meskipun sejak semalam hujan turun, namun dengan percaya dirinya Novan tidak membawa raincoat. Bahkan ketika diingatkan tetap tidak berusaha mencari pinjaman atau membeli di jalan. Begitu pula dengan Pak Eko dan Kang Pri yang tidak membawa pakaian ganti. Bahkan Pak Sis juga tidak membawa peralatan dan suku cadang motornya yang khusus.
Bisa dikatakan keyakinan untuk mencapai tujuan sesuai target begitu besar. Sehingga setelah sarapan, Pak Eko dan Pak Sis yang baru saling mengenal berusaha saling unjuk gigi dengan kebut-kebutan selepas Leuwiliang hingga melewati perbatasan Jawa Barat dengan Banten. Di persimpangan Cipanas disempatkan untuk membeli bekal buat makan siang karena di Citorek tidak terdapat warung makan.
Memang di wilayah itu penduduknya masih teguh pada adat-istiadat. Dimana warganya dilarang menjual padi atau nasi. Hal ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang bertujuan untuk menjaga swasembada pangan dan mengurangi ketergantungan pada pasar kapitalis.

Cipanas-Citorek

Memasuki jalan desa yang menerobos perbukitan, kembali Pak Sis dan Pak Eko saling adu gengsi dengan menunjukan kebolehan memacu motornya. Sedangkan Novan dan Kang Pri yang menyadari motor mereka lebih inferior memilih menjadi pelancong yang berusaha menikmati panorama parahiyangan yang permai.
Awalnya jalanan masih campran aspal dan beton, yang meskipun konturnya naik-turun serta berkelak-kelok namun kondisinya cukup baik. Lalu lintasnya juga sangat sepi sehingga cocok dijjadikan arena kebut-kebutan liar. Mendekati Citorek, begitu melewati puncak tanyakan tiba-tiba kondisi jalanan yang sebelumnya bagus kini berubah menjadi jalur rusak. Pak Sis yang saat itu berada didepan dengan sigap berdiri diatas footstep untuk mengantisipasi benturan. Dan melepaskan gas untuk menurunkan kecepatan, sambil menurunkan gigi-perneling untuk memanfaatkan engine break yang mampu memperlambat motor dengan aman..
wwwj-3
Melihat hal itu Pak Eko yang menempel dibelakang berusaha mengikuti….sialnya dedengkot Duke ini lupa bahwa postur KTM 200Duke yang pendek tidak memungkinkan melakukan hal itu dengan effektif, apalagi suspensi motornya tidak dirancang buat jalur offroad. Akibatnya motor dan penungganya jadi terpental-pental seperti bola karet dan kehilangan kendali!. ….keluar dari jalan, menerjang tanggul tanah irigasi,…dan mendarat di sawah diseberangnya…diantara tanaman padi hijau yang subur milik Pak Tani.
Pak Sis yang sempat melihat rekan sekaligus lawannya berakrobat sampai keluar dari lintasan… kini berusaha menghentikan motornya didasar turunan. Selanjutnya berlari untuk menolong Pak Eko yang masih tiduran di rerumputan pematang sawah. Beruntung ia mengenakan helm, dan body-protector sehingga hanya terkilir kakinya dan memar-memar. Tidak lama kemudian Novan dan Kang Pri yang tadi ada dibelakang, juga menghentikan motornya, dan bergegas mengevakuasi motor Pak Eko.
Selain dudukan footstep depan yang patah, motor tersebut tidak rusak dan bisa meneruskan perjalanan sampai desa Citorek. Namun karena masih bisa digunakan diputuskan untuk menuju desa Citorek yang sudah tidak terlalu jauh karena disana ada bengkel motor.
Citorek adalah desa yang terisolir di pedalaman Banten. Berada di sebuah lembah yang subur, yang dikelilingi oleh pegunungan. Lokasinya sulit dicapai dari jalan raya Bogor-Labuan karena medannya berbukit-bukit. Meskipun jalan disini sudah diaspal atau dibeton, namun karena kondisi tanah dan cuaca membuatnya tidak awet. Sehingga tidak bisa dipastikan dalam suatu saat kondisi jalannya baik atau buruk.
Masyarakat Sunda disini meskipun sudah beragama Islam, namun tetap teguh memegang adat-istiadat setempat. Sebagian besar mata pencarian mereka adalah bertani, namun berbeda dengan daerah lain di negeri ini. Mereka oleh adat dilarang mengekploitasi tanah. Padi hanya boleh ditanam setahun sekali dan hasilnya tidak boleh dijual. Tujuannya untuk ketahanan pangan. Air ditempat ini yang melimpah memungkinkan saat tidak ditanami padi, sawah tadi dirubah menjadi kolam ikan.
Pegunungan di selatan desa ini mengandung cadangan emas. Sehingga warga disini banyak yang berprofesi sebagai penambang emas liar. Dulunya memang dikelola oleh PT. Aneka Tambang, namun karena dianggap tidak ekonomis sejak tahun 1990-an dihentikan penambangannya. Selanjutnya lubang-lubang bekas galian emas yang menembus ratusan meter kedalam tanah, dan menjulur ribuan meter ke berbagai arah dimanfaatkan oleh warga.
Pekerjaan ini berbahaya sehingga banyak korban yang meninggal. Namun resikonya dianggap sebanding dengan hasil yang dicapai. Jadi meskipun terpencil, ekonomi warganya termasuk makmur dibandingkan desa-desa kebanyakan. Disini rumah-rumah modern banyak dijumpai, begitu pula kendaraan yang terparkir cukup mewah.
wwwj-4

Citorek-Warung Banten

Disebuah bengkel motor konvoi berhenti untuk memperbaiki motor sebisanya. Kemudian berpindah ke pelataran toko diujung desa yang lebih nyaman untuk beristirahat. Disini Pak Eko yang masih shock sempat diurut untuk mengurangi sakitnya. Selama beristirahat Pak Eko hanya pasrah menjadi bahan ledekan kami, sesuatu yang akan sangat kami sesali!.
Tengah hari, meskipun langit mulai gelap dan hujan mulai turun. Diputuskan untuk melanjutkan perjalanan. Semua sudah mengenakan raincoat kecuali Topan yang memang tidak membawanya. Menimbang kondisi motor dan penunggannya, Pak Eko kini berada di posisi depan dan yang lain mengikuti pada jarak yang tidak terlalu jauh.
Sejak Citorek jalan aspal berubah menjadi jalan batu yang kasar. Hujan yang turun ikut andil merubahnya menjadi mirip sungai kecil. Setelah melewati sebuah kampung kecil dan melintasi jembatan yang disungainya banyak terlihat para penambang emas liar sedang beraktivitas. Konvoi langsung dihadang tanyakan curam dan panjang. Pak Eko yang berada di depan, mungkin karena kakinya bisa menapak sempurna kalau motornya tidak terlalu tinggi bisa lolos dan terus melaju. Beruntung karena sudah mengunakan engine-guard dari aluminium untuk melindungi perut mesinnya, yang kini berfungsi membetengi batu-batu sebesar kelapa.
wwwj-5
Dibelakangnya Pak Sis membuntuti. Namun karena motornya mengunakan ban tubeless yang tidak bisa dikempesin, membuatnya kesulitan saat menanjak diantara jalan batu yang licin…hingga harus rubuh berkali-kali. Sedangkan Kang Pri yang mengunakan ban pacul meskipun sudah dikempeskan, namun permukaannya yang kasar justru membuatnya terpeleset saat tersangkut bebatuan yang licin. Nasib yang sama dialami Novan yang ban supermotonya juga tubeless.
Tidak hanya itu karena kampas koplingnya juga terbakar sehingga, meskipun masih bisa berjalan namun tenaga mesin tinggal 20%nya saja…..padahal jalan baru mulai mendaki. Hampir sejam ketiga pengendara itu mesti jatuh bangun, bahu membahu mendorong motor dibawah guyuran hujan dipegunungan sepi yang dingin dan berkabut ini. Akhirnya disebuah dataran sempit, bertiga langsung rubuh kehabisan stamina. Sedangkan Pak Eko yang tidak menyadari kondisi rekan-rekannya terus tancap gas seolah tanpa dosa saja.
Selain itu sinyal handphone dipegunungan ini sering lenyap…sehingga tidak bisa saling berkomunikasi. Seharusnya masih memungkinkan untuk berbalik menuju Citorek yang berjarak lima kilometer karena jalannya menurun. Namun karena mengkuatirkan Pak Eko yang hilang ditelan hutan akhirnya diputuskan untuk tetap membuntutinya, meskipun sadar peradaban terdekat adalah Warung Banten yang jaraknya tiga puluh kilometer lagi.
…tiga puluh kilometer yang separuhnya adalah tanyakan curam dan panjang!. Yang bila mengunakan motor sehat saja akan menyulitkan karena beratnya medan. Sekarang bertiga harus bergantian menghela dan mendorong Hyosung 125SM yang mesinnya 80% lumpuh!.
Sambil makan siang bekal yang dibeli di Cipanas tadi pagi, Novan menceritakan bahwa warga disini tidak ramah terhadap pendatang, Bisa jadi selain karena budayanya yang berbeda, juga karena tanah disini mengandung emas. Namun ternyata dia salah!.
Justru di dalam kesulitan ditengah pegunungan yang sepi dan terisolir di tengahnya tanah Parahiyangan pengendara-pengendara ini bisa melihat kearifan lokal dan keluhuran waraganya. Dimulai dari seorang pelintas yang lewat yang membantu mengendorkan kabel kopling Hyosung sehingga bisa berjalan kembali. Yang selanjutnya beliau bergegas menyusul Pak Eko yang sudah jauh didepan. Nantinya setelah bertemu bapak ini menemani Pak Eko yang terdampar sendirian di jalanan yang asing dan menunggu rekan-rekannya di Warung Banten.
Saat hujan mulai reda, perjalanan diteruskan hanya untuk dihadang lagi oleh tanjakan terjal dan panjang. Terpaksa harus memeras stamina sampai kering, saat mati-matian menghela motor melewatinya. Tiba-tiba serombongan penambang emas liar dengan suka rela membantu mengantikan kami mendorong motor menaiki tanyakan hingga sampai di puncaknya. Disana kami berpisah karena mereka harus masuk ke semak-semak untuk mencapai tambangnya yang berbahaya.
Sekarang kami sampai di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan jalan disini sudah tidak terlalu terjal, bahkan permukaannya pun sudah dibeton. Beberapa kilometer kemudian jalanan mulai menuruni lereng selatan pegunungan ini. Jalanan beton pun habis dan kembali menjadi jalan batu dengan ceceran tanah bekas tanah longsor.
Namun sesampainya didasar lembah, setelah melintasi jembatan kayu jalanan kembali menanjak. Terpaksa motor dihela dan didorong sampai kehabisan nafas. Saat nyaris menyerah, tiba-tiba muncul sebuah pick-up pengangkut logistik yang bersedia mengangkut motor yang rusak. Karena tidak ada tali untuk mengikatnya, terpaksa pemilik mobil berpindah ke bak, dan bersama Novan yang nyaris pingsan karena kelelahan untuk memegangi motor. Sungguh pengalaman berpetualang yang mengerikan saat mesti menahan Hyosung dengan tangan diatas bak pick-up yang terbuka saat mendaki lereng yang kemiringannya nyaris tegal lurus!. Belum lagi permukaan jalan batunya tidak rata…dan jurang yang menggangnga ratusan meter beberapa jengkal disamping kiri!.
Karena tujuan pick-up itu hanya Cirotan yang merupakan base-camp para penambang emas liar. Ketiganya pun kembali melanjutkan perjalanan karena jalan kembali menurun. Saat itu sudah sore dan langit kembali gelap dan benar saja hujan kembali ditumpahkan dari langit. Saat itu kami sampai di sebuah dusun kecil dan berteduh di warung kopi. Ternyata tadi Pak Eko bersama dengan Bapak yang menolong kami juga beristirahat dan makan siang disini. Tentu saja karena bekal Pak Eko dibawa oleh Topan, sehingga selama tiga jam harus menahan lapar selama di pegunungan.
Di tempat itu kami bertemu dengan seorang Bapak yang tadi ternyata melihat kami saat di Cirotan, dan dari pemilik Pick up sudah mendengar kisah kami. Karena iba beliau menawarkan untuk mengantikan Novan menghela Hyosung yang kini nyaris lumpuh, dan menyerahkan motor maticnya. Setelah hujan reda, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Warung Banten yang masih sekitar sepuluh kilometer lagi.
Bapak itu berkisah bahwa selama sepuluh tahun tidak pernah membawa motor laki, hanya motor bebek terus dan bahkan baru kali ini naik supermoto. Namun dengan mesin yang nyaris lumpuh, dengan lincah menuruni lereng demi lereng yang jalurnya sulit. Bahkan tidak terkejar oleh Novan, kang Pri atau Pak Sis sekalipun yang motornya lebih superior.
Magrib mereka sampai di Warung Banten dan menemukan sebuah bengkel yang masih buka…dan beruntungnya memiliki persediaan kampas kopling Suzuki Satria FU yang sama persis dengan milik Hyosung. Karena disini ada sinyal, Pak Eko dan Bapak yang menemaninya sejak digunung tadi akhirnya bisa bergabung kembali dengan yang lain. Disini kedua bapak yang baik itu melanjutkan perjalanan ke kediamanannya di desa lain. Sedangkan penunggang-penunggang motor ini berniat menuntaskan perjalanan menuju Ciptagelar meskipun hari sudah malam dan gerimis kembali turun.
wwwj-6

Bermalam di Cikotok

Namun tiba-tiba saja lampu utama KTM 250EXC-F Pak Sis padam padahal dipegunungan ini sangat gelap. Sedangkan lampunya khusus sehingga tidak tersedia disini, akhirnya oleh pemilik bengkel disarankan untuk bermalam di Cikotok yang berjarak tiga kilometer di selatan karena disana terdapat sebuah wisma milik perusahaan tambang emas yang bisa disewakan.
Karena malam itu sangat sepi dan gelap dan letak wisma itu jauh dari jalan raya setelah berputar-putar akhirnya bisa ketemu juga. Segera dibuka tiga kamar seharga Rp75.000 semalam perkamar. Satu untuk Pak Sis dan Novan, satu lagi untuk Pak Eko dan Kang Pri dan kamar ketiga untuk keempat tunggangan kami!.
Beruntung didekat tempat ini masih ada warung makan yang buka meskipun tinggal ada tiga potong ayam gulai dan sebuah telur bumbu-bali, yang malam ini terasa lezat sekali. Selain itu ternyata penjaganya bersedia mencarikan nenek-nenek tukang-urut untuk mengilir tubuh yang terkilir, kaku dan pegal-pegal ini. Suasana bertambah meriah karena tiba-tiba listrik ditempat itu mati sehingga acara pijat-urut hanya diterangi cahaya lilin sehingga menambah kesan romantis saja.
wwwj-7

Cikotok-Cikadu

Setelah pulas beristirahat semalaman, minggu paginya perjalanan diteruskan setelah sarapan disebuah warung kecil, yang juga menjual bahan bakar sehingga motor-motor pun bisa dipenuhi tangkinya karena diwilayah ini tidak ada SPBU.
Setelah meliuk-liuk di jalan aspal yang mulus dan sepi dengan panorama pedalaman sunda yang mempesona, sampailah di Cikadu yg menjadi pintu masuk ke Ciptagelar dari arah Provinsi Banten. Selama ini kebanyakan pengunjung memasuki Ciptagelar melalui Provinsi Jawa Barat. Disana ada dua jalur yaitu melewati Pelabuhanratu atau melalui Cicadas di utara Cisolok.
wwwj-8
Melihat kondisi motor yang tanpa rem-belakang lagi dan cedera Pak Eko yang terlihat semakin parah, namun tetap keras kepala untuk meneruskan perjalanan. Akhirnya dengan keras Novan mengancam tidak akan meneruskan perjalanan kalau Pak Eko tidak mau menuruti untuk meninggalkan motornya dan berganti menyewa tukang ojek lokal!. ….akhirnya Pak Eko menyerah dan perjalanan kembali dilanjutkan.

Cikadu-Ciptagelar

wwwj-9
Keluar dari jalan raya langsung disambut jalanan batu yang menyusuri tebing curam dan panjang, hingga sampai didasar jurang dan melintasi pedesaan Sunda yang asri. Selama ini Novan terlalu sering mengunakan rem-belakang yang ternyata memiliki double-kaliper yang dirancang untuk kompetisi….dan disinilah awal dari musibah dimulai kembali!.
Ternyata rem jenis itu bila digunakan terlalu sering dan lama, meskipun pakem namun menjadi cepat panas. Akibatnya tanpa sadar rem menjadi terkunci dan mesin seolah menjadi tidak bertenaga. Akhirnya beberapa kali gagal melibas tanyakan dan mesti rubuh.
Kembali petani-petani yang kebetulan melintas dengan sigap menolong melewati tanyakan yang terjal dan panjang. Bahkan Pak Sis dan Kang Pri pun ternyata juga mengalami hal yang sama. Hanya Pak Eko yang mengunakan joki yang menunggangi Honda GL-Pro yang sudah dimodifikasi ukuran gir rantainya….yang meskipun berboncengan bisa melewati tanyakan dengan mudah.
Akhirnya sampailah di punggung perbukitan yang seolah menjadi gerbang desa Ciptagelar dibawahnya. Dipinggiran desa Novan berhenti disebuah bengkel sederhana untuk menganti kampas rem belakang yang habis sekaligus memperbaiki dan melumasi silindernya yang berkarat. Setelah selesai bergegas menyusul yang lain melewati jalanan desa yang sebagian tertutup lumpur yang basah oleh hujan sehingga licin.
Sempat terlihat bekas motor Pak Sis yang rubuh karena terpeleset saat menanjaki lereng di bawah gerbang komplek istana negeri Sunda yang hilang, Ciptagelar. Namun karena memasuki tempat ini lewat jalur Cikadu maka akan muncul melalui dapur belakang ,yang oleh Pak Eko dan Kang Pri langsung berhenti dan berfoto-foto untuk merayakan keberhasilannya….Sampai bapak tukang ojek mengingatkan bahwa tempat ini adalah dapur, sedangkan bagian depan komplek ada di sebaliknya…..
Penunggang-penunggang inipun sampai di alun-alun komplek Ciptagelar dan disambut serta di persilahkan untuk beristirahat di Imah Gede oleh Aki Katna dan Kang Yoyo mewakili tuan rumah. Ketika melihat cedera Pak Eko, dimintalah seorang tabib setempat untuk mengurut kaki dan pinggangnya agar menjadi lebih baik. Setelah itu acara dilanjutkan dengan bincang-bincang hangat ditemani kopi panas ditengah pedesaan yang sejuk dan tentram ini.
Tengah harinya tamu-tamu dari Jakarta ini dipersilahkan untuk makan siang dengan hidangan nasi liwet yang masih mengepulkan asap dan disajikan dalam “wadah dari anyaman bamboo” serta dialasi daun pisang, sayur bening dengan potongan sayur oyong yg segar, dengan lauk ikan tongkol asin, ditemani sambal uleg-mentah, …. Seolah di desa yg tersembunyi oleh alam ini mampu membuat kami sedemikian tersanjungnya menjadi tamu-istimewa….
wwwj-10
Sesudah makan kami dipersilahkan bertemu dengan pimpinan tempat ini yang dikenal dengan panggilan Abah Ugi. Sebagai pemimpin adat dan pemimpin spiritual tidak sembarangan orang bisa menemuinya. Dan bila menemui beliau harus mengunakan tata-cara tertentu. Karena itu sebelum bertemu Kang Yoyo mengajarkan kepada kami bagaimana cara bersalaman sekaligus menerangkan maknanya.
Selanjutnya kami diantar ke tempat Abah yang saat itu sedang mengawasi warganya yang sedang bekerja di salah satu rumah panggung. Sempat kami utarakan kedatangan kami adalah untuk napak tilas perjalanan yang sama setahun yang lalu, dimana saat itu kami memutuskan untuk memilih foto panorama punggungan pegunungan yang menjadi pintu gerbang ke Cipta Gelar tidak jauh dari tempat ini, kami jadikan cover buku Jurnal Supermoto Tepian Jawa yang mewakili nuansa sakral diwilayah tepian Jawa.
Setelah beramah tamah akhirnya kami pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta. Setelah menerima petuah dalam bahasa Sunda yang kurang kami mengerti, dan setelah beramah tamah akhirnya kami mohon diri untuk pulang ke Jakarta. Meskipun ada jalur lain menuju Pelabuhanratu yang kami pilih untuk rute pulangnya. Namun kami harus ke Cikadu dahulu untuk mengambil motor Pak Eko yang dititipkan di rumah bapak tukang ojek. Selain itu kami mendapat khabar bahwa ada dua rekan Kang Pri yang menunggu disana setelah berusaha menyusul kami kemarin namun tidak bertemu.
wwwj-11
Namun disebuah persimpangan di tengah desa Kang Pri karena keasikan menengok gadis-gadis dan ibu-ibu yang sedang menumbuk padi, ….tidak melihart bahwa Pak Eko yang diboncengkan tukang Ojek dan Pak Sis berbelok ke kanan. Akibatnya diambilnya jalan yang lurus, beruntung Novan yang berada paling belakang melihatnya dan mengejar. Baru bisa menyusulnya setelah Kang Pri kebingungan ketika menemukan persimpangan di pinggir desa. Bila ke kiri akan sampai di Cicadas di utara Cisolok, sedangkan bila lurus dan menuruni tebing yang jalannya hancur akan bertemu jalan utama.
Sesampainya dipersimpangan karena tidak yakin apakah Pak Eko dan Pak Sis sudah lewat, ditanyakanlah kepada seorang nenek-nenek yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Dan hanya menjawab dengan gelengan kepala yang salah dikira yang lain belum lewat. Setelah ditunggu lima belas menit tidak muncul juga, akhirnya Kang Pri berinisiatif menanyakan ke warga yang lewat yang ternyata melihat Pak Eko dan Pak Sis sudah jauh didepan. Sambil menyumpahi nenek tadi yang Cuma nyengar-nyengir, Novan dan Kang Pri bergegas menyusul.
Namun karena hujan turun disempatkan berhenti disebuah warung kopi yang penjualnya teteh muda yang cantik dan seksi. Sayang ada suaminya sehingga tidak berani mengodanya. Setelah hujan reda bergegas menyusul yang lain. Sesampainya di tanyakan Cikadu tiba-tiba rantai motor Monstrac Kang Pri putus, padahal tidak membawa sambungan rantai. Namun beruntung karena ada warga yang lewat dan ternyata memiliki sambungan rantai yang sama…sehingga perjalanan pun dilanjutkan.
Di Cikadu akhirnya mereka berempat berkumpul kembali kemudian bersama-sama melanjutkan perjalanan pulang… Ternyata disana sudah ada dua rekan Mas Pri yang menunggu untuk bersama-sama menuju Jakarta. Awalnya mereka juga ingin ke Ciptagelar, namun karena tertinggal akibat ada urusan lain akhirnya menyusul dan menunggu kami berempat di rumah bapak tukang ojek, yang konon anak gadisnya berparas manis.

Trouble are our friends

Karena ada beberapa perbaikan yang harus dilakukan terhadp monstrac kang Pri dan Duke Pak Eko. Maka Pak Sis memutuskan untuk memisahkan diri agar bisa mencari lampu motor di Cisolok. Namun karena disana tidak ada yang menjual, juga di Pelabuhan ratu. Karena hari belum gelap diputuskan untuk menuju Cibadak. Namun sampai Cikidang hari sudah gelap sehingga Pak Sis terpaksa bermotor hanya mengunakan lampu sinyal sambil mengikuti truk yang kebetulan searah. Di Cibadak, atas bantuan seorang tukang ojek akhirnya lampu yang dicari bisa didapat, sehingga KTM 250EXC-F tidak buta lagi dan bisa meneruskan perjalanan menuju Bogor kemudian Jakarta.
wwwj-12
Sedangkan yang lain karena tidak butru-buru disempatkan berhenti dulu di Cisolok untuk minum kopi. Kemudian makan ikan bakar di Pelabuhanratu. Saat itu didapat khabar Pak Sis sudah sampai Jakarta sehingga ketika yang lain sampai di Bogor diputuskan untuk kongkow-kongkow dulu, dan selepas tengah malam baru mengarah ke Jakarta.
……
Benar, perjalanan bermotor ke tempat yang jauh itu sebenarnya melelahkan, menyakitkan dan tidak nyaman. Namun akan hilang sesudah kita bisa kembali ke rumah dengan selamat, meskipun selama perjalanan harus babak-belur dihajar jalanan. Apalagi kalau perjalanan tadi kita kenang saat kita bersantai atau bercengkrama …pasti semua yang menyakitkan tadi berubah menjadi kenangan yang indah dan membuat kangen!.
By | 2017-04-27T04:06:38+00:00 May 19th, 2015|Categories: smog-news|Tags: , , , |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment