You are here:--Jalan Tengah Sumatra

Jalan Tengah Sumatra

Perjalanan bermotor jarak jauh itu tidaklah nyaman. Karena yang dirasakan saat itu secara fisik adalah ; … kelelahan, kegerahan saat panas dan kedinginan bila hujan, pegal, nyeri, masuk-angin, mengantuk, kesepian serta terasing, frustasi, was-was…

Namun kita bisa merasakan sensasi yang luar biasa justru jauh hari kemudian, yaitu saat mengenangnya!. Saat melihat foto-foto dan video perjalanan, saat bertukar cerita dengan rekan-rekan, atau saat memasang status di media sosial.

Begitu pula dengan sebuah kisah perjalanan bermotor sejauh 1600 kilometer dari Jakarta menuju Bukittingi yang digagas oleh komunitas Supermoto Owner Group. Awalnya perjalan ini sekedar touring jarak jauh biasa, namun jalanan di pulau Sumatera ternyata berhasil memberantakan keyakinan para pesertanya.

Frustasi karena ketidaksiapan maupun kerusakan motor, jadwal yang tidak sesuai rencana, informasi rute yang tidak akurat, hujan deras dan tanah longsor yang memotong jalan, perbedaan pendapat karena saling mempertahankan ego, kebut-kebutan, kecelakaan ringan, dan berbagai kekonyolan lainnya,…. Membuat peserta menjadi berhamburan sehingga terpaksa mencari jalan-nya sendiri-sendiri agar bisa mencapai tujuan.

Dan, ternyata mereka berhasil melewati semua itu!.

Tentunya kisah tersebut, bersama dengan kisah-kisah perjalanan lainnya saat menjelajahi jalanan di pulau Sumatera. Telah menginspirasi untuk menjadikan sebuah kisah tentang : Supermoto dan penunggang serta sisi gelapnya, mulai dari gaya hidup, cabe-cabean, konflik komunitas … Hingga sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu negeri ini, yaitu tentang sebuah negeri misterius yang bisa jadi akan terungkap justru bukan oleh sejarawan. Namun oleh penunggang supermoto!

JTS_2

KTM 690 SMC-R

Seperti kiasan tentang seekor gajah yang akan diartikan berbeda oleh empat orang buta, yang masing-masing memegang tubuh binatang tersebut ditempat yang berbeda-beda. Begitu juga dengan supermoto, untuk bisa memahami motor ini tentunya dengan melihat dan mencoba mengendarai langsung supermoto yang dibuat oleh pabrikan yang kompeten.
Ketika sebuah supermoto dirancang dan dibangun maka ada ratusan insinyur dengan latar belakang keahlian yang terlibat dan memikirkannya. Karena itu bisa jadi antara supermoto yang dihasilkan pabrik KTM berbeda dengan supermoto rakitan Husqvarna atau Kawasaki, karena peruntukannya memang berbeda. Pabrikan membuat KTM450SM khusus untuk kompetisi, dan Husqvarna 610SM untuk pemakaian harian di Eropa, sedangkan Kawasaki Dtraxer250 sendiri lebih dirancang untuk pemakaian harian di Asia.
Namun ada satu yang istimewa, yaitu KTM SMC 690R. Karena pabrikan merancang satu supermoto untuk berbagai fungsi cukup dengan memutar tombol untuk menganti mode-nya. Dari supermoto yang nyaman untuk digunakan sehari-hari di jalan raya, dengan menganti mode maka otomatis bisa menjadi supermoto untuk jarak jauh yang sanggup menengak jenis bahan bakar apa saja yang tersedia di jalanan. Dan cukup merubah mode dan mengisi bensin beroktan tinggi ke tangkinya maka sudah didapat supermoto dengan spesifikasi kompetisi.
JTS_3

CIPTAGELAR – KEARIFAN LOKAL

Banyak tempat-tempat eksotis di negeri ini yang letaknya sulit dijangkau. Namun dengan supermoto memungkinkan kita untuk keluar dari jalan raya dan memasuki jalan-jalan pegunungan yang bermedan berat. Misalnya berkunjung ke desa adat Ciptagelar yang tersembunyi di pegunungan Halimun yang terletak di perbatasan Jawa Barat dengan Banten.

Disanalah kami seolah-olah diperlihatkan masa lalu negeri ini sebelum budaya asing menyapu nusantara. Tentang sebuah masyarakat yang dengan teguh mempertahankan keyakinan asli bangsa ini yang tidak lekang oleh waktu dan gempuran globalisasi.

Yang menyadarkan bahwa bahwa komunitas supermoto pun mesti memiliki identitas sendiri, tentunya yang sesuai dengan budaya negeri ini. Jadi komunitas tidak harus terjebak untuk menjiplak mentah-mentah budaya asing begitu saja, namun mesti arif dan bijaksana dalam menyikapi-nya.

Dan di Ciptagelar lah kisah tentang Jurnal Supermoto II, Jalan Tengah Sumatera dimulai. Dimana kami harus sekali lagi bermotor menuju jantung suku Melayu. Tempat dimana para pendiri bangsa ini mendapatkan bahasa yang nantinya ditetapkan sebagai bahasa persatuan negeri tercinta ini, Indonesia!.

JTS_4

Gaya Hidup dan Komunitas Supermoto

Dalam buku ini juga membahas komunitas supermoto yang ada di negeri ini. Yang apabila mengambil istilah kang Sani dari SMI Bandung ; Disana bisa kita jumpai para ‘BIKER’, yang begitu mencintai motornya hingga rela menghabiskan biaya besar untuk mempercantik, bahkan tidak rela apabila kotor apalagi kalau sampai tergores. Juga ada para “RIDER’ yang kurang peduli dengan penampilan motornya. Karena yang penting bisa dipakai untuk kebut-kebutan, atau bisa disiksa untuk menyusuri ribuan kilometer menembus berbagai kondisi jalanan.
Tidak hanya itu karena dikomunitas juga dijumpai para pengusaha yang melihat potensi bisnis pada supermoto. Mulai ATPM, pedagang motor bekas, suku cadang dan asesories, bengkel dan rumah modifikasi, sampai perlengkapan, apparel hingga Even-organizer.

Tentunya perbedaan latar belakang atau kepentingan ini membuat terjadinya kesalah pahaman sehingga menimbulkan konflik di komunitas. Benar, ego dan fanatisme yang berlebihan, ketidak dewasaan dalam bersosialisasi, kepentingan dan persaingan bisnis tanpa dilandasi etika yang sehat,..semua ini berpotensi menimbulkan konflik di dalam komunitas supermoto.

Buku ini juga mencoba membayangkan sebuah komunitas supermoto yang ideal, yang direpresentasikan kedalam sebuah ‘one-stop’ bengkel imajiner. Disana para penunggang supermoto tidak hanya bisa merawat atau memperbaiki motornya. Juga disediakan ruangan yang nyaman untuk berkumpul dan membicarakan berbagai hal menarik tentang supermoto. Tempat itu juga menjual peralatan dan perlengapan untuk keperluan pemakaian sehari-hari, menjelajah, sampai untuk kompetisi balap. Mulai dari ; suku-cadang, asesories, peralatan dan perlengkapan sampai apparel.

JTS_5

Cabe Cabean

Tidak bisa dipungkiri bahwa motor, laki-laki dan wanita cantik tidak-lah bisa dipisahkan. Begitu pula dengan fenomena saat ini yg tidak terlepaskan dari dunia motor yaitu cabe-cabean atau gadis muda yang tidak hanya menghangatkan dunia motor dimalam hari, namun juga ‘memanaskannya’.

Melalui tokoh Rara pandangan kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa ‘sisi gelap laki-laki’ bisa terbaca dengan lugas melalui liar-nya dunia motor. Dimana sebuah fenomena sosial ‘Hitam-Putih’ yang setengah diakui, meskipun secara nyata dan vulgar bisa ditemukan di jalan-jalan gelap ibukota.
JTS_6

Peta Lintasan di Pulau Sumatera

Sekarang apa jadinya bila para ‘Rider’, ‘Biker’, ‘petualang’, dan ‘Pengusaha’,… dari berbagai komunitas supermoto yang berbeda serta dengan kepentingan yang berbeda pula…yang dipanasi oleh ‘cabe-cabean’ berkumpul menjadi satu.

…benar yang didapat adalah kekacauan karena fanatisme dan ego yang militan justru berujung pada balapan liar jarak jauh dengan supermoto untuk membuktikan siapa yang paling benar!. Namun ternyata jalanan di pulau Sumatera sanggup memaksa ke tiga belas perwakilan komunitas supermoto untuk menyerah. Meskipun demikian jalanan dan lintasan di pulau raksasa itu juga berhasil membuktikan ketangguhan supermoto untuk menjadi motor penjelajah yang rasional di negeri ini.
JTS_7

Supermoto dan Penunggangnya

Bagian utama dari Jurnal Supermoto II – Jalan Tengah Sumatera mengisahkan berbagai pengalaman ketika menjelajahi jalan-jalan di pulau Sumatera dengan supermoto. Dimana cerita tentang ; kenekatan, keberanian, kekonyolan, kekanak-kanakan, keteguhan, kecerdikan, kesembronoan, akan menjadi kisah bagaimana penunggang dan supermoto bertahan di jalanan yang tidak kenal ampun bagi mereka yang sial.

Tentunya agar kisah nyata tersebut dapat terangkum dengan baik, perlu dituturkan melalui kisah baik dari pelaku langsung. Maupun bantuan pelaku fiktif atau setengah-fiktif, yang karena alasan tertentu tidak bisa diungkapkan disini.
JTS_8

SRIWIJAYA

Tanpa sengaja perjalanan menjelajahi pulau Sumatera berhasil merubah pengetahuan dan sudut pandang tentang masa lalu negeri ini. Dengan merasakan sendiri lintasan-lintasan-nya, menyusuri sungai-sungai, rawa-rawa, danau, memanjati dan menuruni pegunungan terjalnya, serta melintasai daratan luas disana…tanpa sadar sanggup menyingkap misteri kerajaan besar yang tidak jelas rimbanya. Yaitu : Sriwijaya.

Jalanan di pulau itu tampaknya berhasil dengan rasional menjelaskan bagaimana kerajaan hantu itu muncul, Berjaya, hingga musnah ditelan jaman. Menjelaskan bahwa negeri besar masa lalu itu runtuh karena fanatisme sempit dan kebodohan para pemimpin dalam menyikapi perubahan ekonomi dan politik internasional-kuno.

Seolah jalanan di pulau Sumatera berusaha mengingatkan kita bahwa ‘persatuan dan gotong-royong’ adalah kekuatan utama bangsa negeri ini, untuk menjaga amanat Tuhan Yang Maha Esa yang telah mewariskan negeri-surga ini.
JTS_9

BUKIT TINGGI

Tidak banyak anak negeri yang mengetahui bahwa Bukittinggi yang terletak di jantung pulau Sumatera, pernah menjadi ibukota darurat Republik Indonesia saat Belanda berhasil melumpuhkan Jakarta dan Yogyakarta di pulau Jawa.

Begitu pula bagi ke 13 penunggang supermoto yang awalnya hanya melihat kota yang permai sekedar sebagai garis finis untuk membuktikan ego mereka. Namun setelah dihajar kerasnya lintasan-lintasan di pulau Sumatatera, yang sanggup menyadarkan bahwa keyakinan saja tidak cukup untuk bertahan.

Namun Bukittinggi berhasil member pelajaran manis bahwa untuk mencapainya dengan selamat diperlukan lebih dari keyakinan!. Namun dibutuhkan sesuatu yang lebih penting lagi, yaitu : persatuan dan gotong-royong!.
Benar, karena ke 13 penunggang yang meskipun berlatar belakang beda, berasal dari komunitas yang saling bersebrangan, mengendarai jenis motor yang berbeda….namun di Bukittinggi mereka disadarkan bahwa tunggangan mereka sama : Supermoto!.


( Untuk informasi lebih lanjut untuk pemesanan buku ini hubungi Marcelina hp. 081289610282.)

By | 2017-04-27T04:06:37+00:00 January 17th, 2016|Categories: smog-news|Tags: |0 Comments

About the Author:

Leave A Comment