You are here:-, Uncategorized-JURNAL SUPERMOTO 2018 EXPEDISI MEMOTONG KALIMANTAN LEWAT JALUR DAYAK

JURNAL SUPERMOTO 2018 EXPEDISI MEMOTONG KALIMANTAN LEWAT JALUR DAYAK

Perjalanan ini di gagas oleh Pak Sis sejak setahun yang lalu dengan VISI membuktikan konsep supermoto paling rasional untuk di kembangkan menjadi motor penjelajah jalanan di negeri ini. MISI nya sendiri berusaha memotong Kalimantan dari pesisir timur dengan mencari jalan yang terpendek menuju pesisir baratnya, dengan menghubungkan 4 hulu sungai utama di pulau itu yaitu : Mahakam, Barito, Kahayan, dan Kapuas.

Selanjutnya Pak Sis sebagai pemimpin expedisi merekrut Budi dari SMOG Chapter Semarang untuk mekanik dan Novan untuk pemandu jalan. Setelah itu baru rute dan jadwal perjalanan yang rinci di buat dan persiapan segera dilakukan.

Mulai menyiapkan dan mengirimkan tiga unit motor yang akan digunakan, yaitu : KTM 250 Excf dan Honda Xlr 250 Baja yang aslinya enduro tapi sudah dirombak menjadi supermoto, serta Husqvarna 250 Smr yang memang supermoto asli pabrikan. Sampai mengumpulkan peralatan dan perlengkapan yang diusahakan seringan dan seringkas mungkin sehinga muat dibawa dalam ransel gunung atau saddle-bag dari bahan kain corduro yang kuat, ringan dan elastic sehingga cocok untuk medan berat.

Perjalanan ini direncanakan selama 15 hari menempuh jarak 3.474 kilometer, dengan 12 hari bermotor dan 3 hari beristirahat untuk memulihkan stamina dan melakukan perbaikan bila terjadi kerusakan. Tetapi beratnya medan antara Putussibau – Entikong membuat jadwal bertambah 1 hari menjadi 16 hari, yaitu 13 hari bermotor dengan 3 hari beristirahat.

Berikut ini adalah catatan atau jurnal perjalanan bermotor untuk memotong pulau Kalimantan melalui Jalur Dayak:

D-Day ; Sabtu, 11 Agustus. Pagi-pagi sekali ditinggalkan ibu kota provinsi Kalimantan Timur, yaitu  Samarinda yang terletak di muara sungai Mahakam menuju Tengarong. Dan terus masuk ke pedalaman dengan target mencapai desa suku Dayak Banuaq di Tanjung Isuy yang letaknya berada di tepi danau Jempang yang menjadi habitat lumba-lumba air tawar alias Pesut.

Dulunya desa di hulu sungai Mahakam ini hanya bisa dicapai dengan perahu namun sekarang sudah ada jalan milik perkebunan kelapa sawit yang menghubungkan desa itu dengan Jalan Lintas Kalimantan Poros Tengah.

Kedatangan kami disambut hujan lebat yang baru pertama kali turun di musim kemarau tahun ini dan Ibu yang menjadi tetua disana mengatakan SMOG adalah komunitas pengendara motor pertama yang berkunjung.

Di desa ini terdapat rumah panjang yang disebut Rumah Lamin yang sejak tahun 1976 difungsikan untuk bermalam bagi wisatawan. Dari buku tamu bisa di ketahui sebagian besar yang berkunjung justru warga negara asing dari Eropa dan Amerika.

D+1 ; Minggu, 12 Agustus.

Esoknya mengikuti jalan raya Lintas Kalimantan ke arah barat yang jalurnya menerobos pegunungan Meratus yang ditutupi hutan lebat sampai memasuki provinsi Kalimantan Kalimantan Tengah. Di perbatasan ini tidak terdapat jaringan listrik bahkan sinyal telephone apalagi internet sulit didapat.

Aspal mulus sekarang berubah menjadi berantakan bahkan beberapa ruasnya hancur sama sekali menyisakan serakan batu bekas pondasi dan gumpalan tanah. Bisa dikatakan dari 400 kilometer jarak yang ditempuh hari ini separuhnya adalah jalur maksiat yang menyakitkan.

Kondisi ini masih diperparah dengan cuaca panas yang sangat ekstrem sehingga stamina kami cepat terkuras membuat perjalanan terasa berat. Saat dipaksa mengejar target sementara kondisi fisik sudah kelelahan membuat beberapa kali tidak mampu lagi menghindari lubang. Disini supermoto menunjukan superioritasnya karena rangka dan suspensi yang kokoh meyakinkan untuk menghajar satu demi satu lubang yang tak terhitung banyaknya meskipun laju motor antara 60-70 kilometer perjam.

Sorenya kami mencapai seberang Muara Enim di provinsi Kalimantan Tengah namun tidak memasuki kota itu karena ada jalan pintas yang bisa menghemat jarak tempuh sampai 20 kilometer bila menyeberangi sungai Barito dengan perahu. Sehabis magrib perjalanan dilanjutkan dan 3 jam kemudian sampai di Purukcahu setelah mengikuti jalan aspal hotmix yang mulus dan berkelak-kelok naik-turun menembus hutan yang gelap.

D+2 ; Senin, 13 Agustus.

Esoknya kami putuskan beristirahat di kota yang terletak di hulu sungai Barito ini untuk memulihkan stamina, mencuci pakaian kotor, serta memperbaiki kerusakan motor kami. Korban jalur kemarin  adalah : lampu belakang KTM 250 Excf rontok, plat nomor belakang Husqvarna 250 Smr copot, dan spion Honda Xrl 250 Baja patah.

Sorenya kami sempatkan mengunjungi kediaman suku Dayak Siang di desa Konut yang disebut Rumah Betang. Dan dari informasi camat setempat di dapat informasi adanya jalan tembus baru untuk mencapai tujuan selanjutnya, yaitu ibukota provinsi Kalimantan Tengah. Memang jalan perintis itu kondisinya masih jelek namun warga lokal sudah biasa melewati, sehingga kami putuskan untuk melaluinya karena bisa menghemat lebih dari 100 kilometer daripada balik ke Muara Teweh dan memutar lewat Buntok.

D+3 ; Selasa, 14 Agustus.

Dari kota Purukcahu kami mengikuti jalan beton yang sempit masuk ke hulu sungai Barito sampai sejauh 30 kilomter, hingga bertemu penyeberangan perahu. Selanjutnya dengan tertatih-tatih bergerak  menembus hutan yang berbukit-bukit mengikuti jalan tanah bekas perusahaan logging (kayu), yang kini sudah diperkeras sejauh 150 kilometer sampai bertemu hulu sungai Kahayan di Kuala Kurun.

Sekarang jalan tanah sudah berubah menjadi aspal hotmix yang sejajar dengan aliran sungai terbesar di provinsi Kalimantan Tengah menuju ke arah selatan hingga mencapai Palangkaraya. Di aliran sungai ini dan di hulu sungai Barito adalah kediaman suku Dayak Ngaju.

Dulunya suku dayak tinggal di sekitar sungai dan tidak mengenal transportasi untuk kendaraan darat karena faktor geografisnya Kalimantan, yang kalau tidak tertutup hutan pegunjungan yang lebat pasti di genangi rawa-rawa luas. Pada jaman kolonial mulai dibangun kota-kota di pesisir dan pos-pos pedalaman sebagai pangkalan perdagangan, dan jalan darat yang terbatas pun mulai dibangun di sekitarnya.

Baru setelah negeri ini merdeka mulai dibangun jalan untuk menghubungkan kota-kota utama. Namun banyak tempat di pedalaman hanya bisa dicapai dengan perahu atau dengan jalan yang dibangun perusahaan logging yang bila musim hujan sangat berat untuk dilalui karena karakter tanah liat yang sanggup memutus ruas-ruas jalan di pedalaman.

D+4 ; Rabu, 15 Agustus.

Karena keletihan kami baru bisa meninggalkan penginapan menjelang tengah hari. Tidak ada yang istimewa hari ini karena hanya melewati jalan raya hotmix yang lurus dan mulus sehingga terasa membosankan.

Setelah melewati Sampit magribnya beristirahat di sebuah SPBU selepas Pangkalan Bun. Malamnya kami berada di tengah perkebunan kelapa sawit yang tak berujung, padahal stamina telah kedodoran kering setelah menempuh jarak 450 kilometer.

Dari informasi penduduk diketahui tidak ada penginapan dalam radius 70 kilometer kedepan sehingga begitu menjumpai masjid diputuskan untuk menumpang tidur di terasnya.

D+5 ; Kamis, 16 Agustus.

Sesudah sholat subuh perjalanan dilanjutkan. Sekarang perjalanan mulai menyenangkan karena jalan lintas kalimantan disini sangat mulus, sepi dan berkelak-kelok naik-turun. Kami benar benar kegirangan menemukan jalan raya yg sensasinya sekelas sirkuit supermoto.

Sayang konsentrasi terganggu karena rasa perih dan pedih mulai terasa akibat seminggu duduk di jok supermoto yang keras dan sempit. Tentunya hal itu menyadarkan supermoto kurang nyaman untuk menjelajah terlalu jauh. Namun itu kami anggap kompensasi atas kelebihan suspensinya yg tangguh, rangka kokoh,tenaga badak & bobotnya ringan. Bentuk jok supermoto atau motor offroad sengaja dirancang sempit dan keras agar memudahkan pengendara merubah posisi duduk untuk menyesuaikan dgn karakter lintasan yg harus di libas dengan agresif.

Di Lamandau yang lokasinya tidak jauh dari perbatasan kami menemukan penginapan, yang biasa pelanggannya adalah para pedagang keliling dan awak truk. Tarifnya bervariasi mulai 25 ribu semalam untuk lesehan, 100 ribu untuk kamar biasa, dan 200 ribu yang istimewa lengkap dengan kasur empuk, ac, tv dan kamar mandi dalam. Meskipun hari masih sore namun kami putuskan menghentikan perjalanan dan bermalam disini.

D+6 ; Jumat, 17 Agustus.

Hari ulang tahun kemerdekaan NKRI yang ke 73 kami lewatkan dengan melangkahi pegunungan Muller yang menjadi perbatasan dengan provinsi Kalimantan Barat. Di Sendai kami berhenti untuk memberi kesempatan Pak Sis menunaikan sholat Jumat.

Karena posisi Novan dengan Husqvarna 250 Smr berada paling depan membuat Pak Sis dan Budi bisa melihat ada asap putih keluar dari knalpot saat gas dibuka bila bertemu tanyakan yang tinggi dan panjang. Karena kuatir ada yang tidak beres dengan mesin Husq maka kecepatan jelajah diturunkan.

Sesampainya di Balaiberkuak diputuskan untuk makan siang disebuah pemancingan di pinggir jalan. Saat itu Husq tidak bisa distarter sehingga oleh Budi aki nya ditukar dengan aki milik KTM 250 Excf dan mesin baru bisa menyala lagi. Di putuskan untuk melanjutkan perjalanan dan karena kuatir susah distarter bila dimatikan maka ketika mengisi bensin dilakukan dengan mesin tetap dibiarkan menyala.

Sorenya kami melintasi jembatan Tayan diatas sungai Kapuas dan selepas magrib setelah menempuh jarak 370 kilometer sampai di Sosok. Di depan gereja Katholik yang letaknya dipersimpangan tiba-tiba mesin Husqvarna macet dan setelah gagal dihidupkan diputuskan untuk di evakuasi ke hotel terdekat.

D+7 : Sabtu, 18 Agustus.

Pak Sis mengontak komunitas supermoto terdekat dan direspon oleh West Borneo Supermoto chapter Sangau. Selanjutnya datang anggotanya yang berinisiatif mengevakuasi Husqy ke bengkel terdekat dengan cara di stood sejauh 5 kilometer.

Seharian Budi dibantu mekanik setempat membongkar mesin namun akhirnya harus menyerah setelah mengetahui kerusakan disebabkan ada per dan klep mesin yang patah. Rencana darurat segera diambil dengan mengevakuasi Husqy ke Pontianak dengan bantuan West Borneo Supermoto, sedangkan perjalanan akan diteruskan dengan 2 motor yang tersisa.

Honda XRL 250 Baja yang sebelumnya dikendarai Budi digunakan untuk berboncengan dengan Novan, sedangkan sadlle-bag yang tadinya diangkut Husqvarna dipindahkan ke KTM yang dikendarai Pak Sis. Sedangkan untuk ransel motor serta perlengkapan dan logistik yang tidak terlalu diperlukan seperti botol penambah oktan, sarung tangan cadangan, ransum darurat, dll tidak dibawa.

D+8 : Minggu, 19 Agustus.

Hari ini kami hanya menempuh jarak 180 kilometer mengikuti aliran sungai Kapuas menuju hulunya melewati Sangau dan siangnya bertemu dengan komunitas Supermoto Sintang atau Senentang. Setelah makan siang bersama di tengah kolam ikan yang asri, mereka mengajak kami mengunjungi replika perahu Bandong yang pada jaman dahulu menjadi kendaraan transportasi utama untuk menghubungkan kota-kota di sepanjang aliran sungai Kapuas. Selanjutnya kami diajak mengunjungi bukit Kelam, yaitu bongkahan batu raksasa yang sangat eksotis yang menjadi ikon kota Sintang.

Sorenya kami keluar dari jalan raya dan masuk ke jalan tanah yang diperkeras dengan batu sejauh 15 kilometer untuk mengunjungi kediamaan suku Dayak Desa’a yang masih berkerabat dengan suku Iban. Disana setelah kami bersilaturahmi, oleh kepala dusun kami diberi tawaran utk bermalam di rumah adat yang disebut rumah Panja’a dengan panjang 118 meter, yang dihuni 24 keluarga, sedangkan rekan-rekan yang lain kembali ke Sintang.

D+9 : Senin, 20 Agustus.

Paginya kami menuju Putussibau yang terletak di kaki pegunungan Schwaner, yang jaraknya 260 kilometer melewati jalan raya yang sepi dan berbukit-bukit. Sama seperti ketika sampai di Tanjung Isuy begitu mendekati kota paling ujung di hulu sungai Kapuas ini hujan kembali turun menguyur jalanan yang datar menyeberangi rawa-rawa luas untuk pertama kalinya di musim kemarau tahun ini.

Ternyata kedatangan kami sudah ditunggu komunitas Supermoto West Borneo setempat yang langsung mengajak kami mencicipi makanan khas setempat yang disebut krupuk basah. Hidangan ini mirip empek-empek yang biasanya dimakan mentah dengan sambal. Namun bagi yang tidak tahan dengan rasanya yang amis bisa digoreng.

D+10 : Selasa, 21 Agustus.

Paginya kami melanjutkan perjalanan menuju Lanjak yang jaraknya 130 kilometer. Kota kecil ini berada di tepi perairan air tawar terbesar di negeri ini yang menjadi habitat asli ikan Red Arwana, yaitu danau Sentarum.

Namun karena saat ini adalah puncak kemarau membuat kami bisa bermotor sampai 3 kilometer menyeberangi dataran kering yang saat musim hujan tengelam oleh air danau. Namun karena bayangan mendung mulai terbentu di langit memaksa kami bergegas kembali ke jalan raya dan melanjutkan perjalanan menuju Badau yang jaraknya masih 70 kilometer lagi.

D+11 : Rabu, 22 Agustus.

Setelah memberi kesempatan Pak Sis sholat Idul Adha, kami meninggalkan Badau dan langsung di sambut jalan rusak yang cukup parah. Sepanjang jalan menembus hutan dan perkebunan kelapa sawit kami tidak menemukan warung makan yang buka. Sehingga begitu melihat ada warung kopi segera minta tolong dibuatkan sarapan sekaligus makan siang dengan satu-satunya hidangan yang tersedia yaitu pop-mie.

Sebenarnya kami sedikit curiga ketika rekan-rekan Supermoto di Putussibau mengatakan jalannya belum tembus sehingga untuk mencapai Entikong harus berbalik dan mengambil jalan memutar. Kecurigaan makin besar saat kemarin petugas di pos perbatasan Badau juga mengatakan hal yg sama. Namun hari ini kami tetap keras kepala melanjutkan perjalanan karena yakin jalannya sudah tersambung.

Ternyata kami salah!

Memang sebelum keberangkatan Novan sudah mengumpulkan informasi baik dari kenalannya mupun dari Google-map kalau jalurnya sangat jelas bahkan lengkap dengan perkiraan waktu tempuhnya segala. Akibatnya dengan enteng berani memasang target cukup sehari untuk menembus jalur sepanjang perbatasan NKRI dengan Malaysia, kenyataannya kami harus jatuh bangun menempuh perjalanan selama 3 hari untuk menerobosnya.

Di Nanga Kantuk jembatan satu-satunya yg menghubungkan Trans Kalimantan terputus oleh banjir sejak beberapa tahun lalu. Beruntung ada polisi yg iba saat melihat kami kebingungan dan bersedia memandu lewat jalan tikus untuk menyeberangi sungai di bagian yg landai dan dangkal serta dasarnya tidak berlumpur. Bila tidak kami terpaksa memutar lewat jalan perkebunan sawit sejauh 40 kilometer.

Jalur tanah yang rusak parah ini membentang sepanjang perbatasan dan menerobos hutan lindung yang sepi. Sepanjang hari udara teramat panas sehingga sorenya ketika sampai persimpangan desa Pengerat kami berhenti untuk menanyakan warung makan dan penginapan kepada warga. Dan dijawab penginapan terdekat ada di Merakai yang jaraknya 10 kilometer diselatan tetapi letak desa itu tidak berada di jalur kami, sedangkan yang sejalur di barat baru 100 kilometer lagi ada penginapan padahal stamina sudah habis. Ternyata hari ini hanya bisa menempuh jarak sejauh 70 kilometer saja meskipun nafas sudah megap-megap.

Mengetahui hal itu warga tersebut iba dan menawarkan untuk menginap di rumahnya yang langsung kami terima tanpa basa-basi. Tidak jauh dari rumah tersebut ada toko kecil dan Novan segera berbelanja : sarden kalengan, mie instand, telur, beras, ikan asin, minyak goreng, gula, kopi, teh dan biskuit untuk diserahkan kepada pemilik rumah agar dimasakan. Selanjutnya warga yang baik itu mengajak ke mata air di belakang rumahnya yang laksana surga kecil tersembunyi untuk mandi sambil berenang dan menyelam, serta mencuci pakaian.

Malam ini hujan lebat turun dengan derasnya namun dengan perut kenyang tidak menganggu nyenyaknya tidur di rumah kayu yang bersahaja dan damai ini.

D+12 : Kamis, 23 Agustus.

Hujan semalam meskipun tidak lama merubah beberapa ruas jalan tanah menjadi seperti kubangan babi, membuat jarak 20 kilometer pertama harus kami tembus selama 4 jam. Tengah hari jalanan mulai kering sehingga motor bisa dipacu lebih cepat, namun sepanjang jalan tidak bertemu warung maka sehingga begitu melihat ada toko warung segera meminta tolong untuk dimasakan supermi dan telur untuk makan siang.

Awalnya kami membeli beras dan 2 kaleng kari ayam. Namun untuk mencairkan suasana karena sifat kebanyakan warga dayak di pedalaman ini tertutup bila bertemu dengan orang asing. Membuat Novan berinisiatif memesan tambahan satu kaleng babi kecap kalengan untuk dimasak terpisah dan disantap bersama pemilik toko. Suasana pun menjadi hangat apalagi saat sebotol minuman keras buatan Malaysia ikut dibuka…

Ada kiasan di sepanjang perbatasan yang terisolir ini yang bisa mengambarkan saat nasionalisme dihadapkan pada ketidakseriusan pemerintah pusat, yaitu : Garuda di dadaku, Malaysia di perutku. Kondisi jalan yang buruk karena konturnya berbukit-bukit yang tertutup hutan lebat serta karakter tanahnya yang mencair saat tersiram hujan, membuat pasokan logistik terhambat sehingga memaksa warganya memenuhi 80% kebutuhan pokoknya dari barang2 selundupkan dari Malaysia.

Selain itu ada satu lagi yang menarik dalam perekonomkian di perbatasan ini, yaitu sistem barter ternyata masih berlaku. Sempat kami menyaksikan ada orang dayak dari pelosok datang ke toko dgn membawa ikan asin, madu dan lada untuk ditukar dengan garam, sabun, kecap, bensin, rokok, minuman keras dan lain-lain seharga barang bawaannya

Kami amati sepanjang jalan sejak kemarin listrik belum masuk memaksa warganya memasang panel surya dan genset untuk penerangan maupun untuk menghidupkan tv. Sedangkan sinyal internet benar-benar tidak ada.

Menjelang sore kami melewati kota kecil Senaning. Sebelumnya didapat informasi dari pemilik warung bensin ada jalan pintas melewati perkebunan sawit dengan menyeberangi jembatan gantung dari kayu yang bisa menghemat jarak sejauh 40 kilometer. Dan agar tidak tersesat disarankan untuk mengikuti jalur listrik yang sudah menjangkau tempat ini sampai bertemu  jalan Trans Kalimantan lagi.

Ternyata hujan lebat baru saja menguyur daerah ini membuat jalan negara yang tadinya padat kini mencair. Saat berusaha menyeberangi ruas yang tertutup lumpur, tiba-tiba motor yang saat itu dikendarai Novan dengan memboncengkan Budi selip dan terbanting. Begitu juga yang terjadi dengan Pak Sis juga terjatuh dibelakangnya.

Baru disadari kelemahan bawaan supermoto saat bertemu jalur tanah liat yang basah. Penyebabnya celah antara fork suspensi depan dengan roda sangat sempit karena mengunakan ban ukuran lebar, sehingga akan tersumbat lumpur yang membuat roda depan terkunci sedangkan roda belakang tetap mendorong sehingga motorpun terbanting.

Dari informasi warga yang melintas diketahui didepan masih ada beberapa ruas lagi yang mencair menjadi kubangan lumpur, sehingga Budi berinisiatif menghentikan pick-up 4×4 yang habis mengantar buah sawit. Setelah dilakukan sedikit negosiasi alot akhirnya sopir yang ternyata warga Dayak setembat bersedia berbalik untuk mengangkut kami sampai ke ujung aspal yang jaraknya masih 40 kilometer lagi.

Tidak hanya itu dengan diplomasi ala jalanan Novan bahkan berhasil membujuk untuk mengantar ke penginapan terdekat di Balai Karangan V yang juga berfungsi ganda sebagai lokasi pelacuran saat malam tiba. Total hari ini kami menempuh jarak 180 kilometer dimana 40 kilometernya dievakuasi.

D+13 : Jumat, 24 Agustus.

Setelah paginya dimanfaatkan untuk mencucui pakaian dan motor yang penuh lumpur, kami segera berpindah penginapan ke Entikong yang jaraknya hanya 20 kilometer. Selanjutnya Pak Sis mulai melakukan lobby dengan pejabat  Bea cukai, Kepolisian serta Kastam dan PJP Malaysia untuk mendapatkan ijin melintas menuju tujuan selanjutnya yaitu Sambas melalui Bau dan Lundu wilayah Sarawak Malaysia, yang jaraknya masih 250 kilometer. Sebenarnya kota itu bisa dicapai lewat Darit namun jaraknya harus memutar 100 kilometer lebih jauh.

D+14 : Sabtu, 25 Agustus.

Paginya kami menerima Borang atau surat ijin melintas di Malaysia yang ditempelkan di KTM 250 Excf dan Honda XRL 250 Baja. Setelah pemeriksaan passport kami meninggalkan Pos Lintas Batas Negara Entikong dan masuk pos Tebedu di wilayah Malaysia. Selanjutnya mengikuti jalan raya yang lalu lintasnya sangat tertib, dan berbelok memasuki jalanan pegunungan yang sepi dan sempit namun kondisi aspalnya bagus menuju Bau.

Kami sempat 2 kali mengisi bensin. Yang pertama di kios kecil yang menjual bensin secara sembunyi-sembunyi, dan yang kedua di SPBU Petron kota Lundu yang letaknya tidak jauh dari Pos Biawak yang berhadapan dengan Pos Lintas Batas Negara Aruk di wilayah Indonesia. Setelah itu kami tinggal mengikuti jalan raya hotmix yang sejajar dengan aliran hulu sungai Sambas ditemani panorama sore yang indah. Magribnya tiba di kota Sambas untuk bermalam.

D+15 : Minggu, 26 Agustus.

Setelah bermalam di kota yang dulunya pernah menjadi pusat kesultanan yang berpengaruh di bagian barat pulau Kalimantan, dan sempat mencicipi hidangan bubur pedas yang mirip bubur menado namun penuh dengan daun hutan seperti pakis. Selanjutnya dengan di pandu komunitas Supermoto Sambas Owners  kami menuju Singkawang yang jaraknya 80 kilometer.

Di kota Amoy ini kami ditunggu Komunitas Supermoto setempat untuk diantar  ke rumah bersejarah yang menjadi saksi kedatangan warga Tionghoa ketempat ini. Disana bisa dicicipi kuliner setempat bernama choipan yang mirip pangsit basah berisi rebung, bengkuang atau sayuran.

Selanjutnya dengan estafet sorenya kami dikawal komunitas supermoto diantar menuju Mempawah, dan malamnya kembali bergantian di antar menuju Pontianak yang menjadi markas West Borneo Supermoto.

 Dan dengan selesainya perjalanan menempuh jarak 3.474 kilometer bersamaa ini kami ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan komunitas supermoto, dan pihak-pihak lain baik pribadi maupun instansi pemerintah yang telah membantu misi kami hingga bisa menuntaskan perjalanan “Memotong Kalimantan Lewat Jalur Dayak” dengan sukses.

.
.
Perjalanan ini meyakinkan kami bahwa konsep supermoto sangat rasional dijadikan motor penjelajah jalanan yang cepat untuk negeri ini. Perlu disadari karakter negeri ini sangat khas yaitu negeri kepulauan yang beriklim tropis, yang separuh daratannya ditutupi pegunungan, dan datarannya berawa-rawa. Tidak semua fasilitas jalannya selalu dalam kondisi baik dan penduduknya padat sehingga di pelosoknya sekalipun dalam radius 100 kilometer masih bisa ditemukan bensin dan makanan juga tempat bermalam. Ada yang unik di pedalaman kalimantan bilapun bertemu SPBU pasti dalam kondisi tutup kehabisan stock, dan kalaupun beruntung ada yg buka pasti dipenuhi antrian motor yg sudah dimodifikasi tangkinya menjadi diatas 20 liter… jadi tidak aneh kalau kami melihat honda tiger dengan tangki ala Twin Africa, atau yamaha scorpio dengan tangki bergaya Tenere. Bahkan sempat terlihat matic yg bagasi tempat helemnya sudah disulap jadi tangki tambahan

Supermoto sendiri karena dikembangkan dari motor offroad yang tahan banting membuatnya unggul dalam hal : bobot yang ringan, rangka dan suspensi yang kokoh, serta tenaganya kuat. Sedangkan ban roadrace-nya memungkinkan menjelajah lintasan onroad dengan cepat.

Perjalanan bermotor memotong pulau kalimantan lewat pedalamannya memberi pelajaran bahwa sampai ke pelosok-pelosok pun sudah terhubung dengan jalanan. Bisa dikatakan 95% nya melewati onroad dan baru 5% sisanya masuk kategori offroad

Meskipun demikian tidak semua jalan raya selalu dalam kondisi baik karena kami menemukan 10% dari total lintasan onroad sulit dilewati karena berupa sedang rusak, ditambah medannya terjal dan curam.

Selain itu meskipun jalur offroad hanya 5% namun terkadang mustahil dilalui oleh motor onroad seperti motor touring yang bobotnya berat. Beruntung kami mengendarai supermoto sehingga bisa menyelesaikan perjalanan ini.

D+20, Jakarta 31 Agustus 2018

Terima kasih kami ucapkan kepada rekan-rekan komunitas motor : Prides, Indoc, Supermoto Tangerang, Supermoto Indonesia, Dr. No KTM Racing Industries, Blue Yamaha Offroad Team, Gasgas Rider serta berbagai pihak yg telah membantu terselengaranya DAKWAH SUPERMOTO 2018 yg diadakan secara dadakan oleh Pak Sis dari SMOG sebagai bagian syiar “Expedisi Memotong Kalimantan Lewat jalur Dayak” di fasilitasi tempat oleh Dealer KTM Bintaro.

By |2018-09-19T22:24:48+00:00September 19th, 2018|Categories: smog-news, Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment