Smoger http://smoger.com Supermoto Owner Group Fri, 02 Jun 2017 18:10:08 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.4 Acara HUINDONESIA Sumbawa Island, May 18-21 2017 http://smoger.com/2017/06/03/acara-huindonesia-sumbawa-island-may-18-21-2017/ http://smoger.com/2017/06/03/acara-huindonesia-sumbawa-island-may-18-21-2017/#respond Fri, 02 Jun 2017 18:10:08 +0000 http://smoger.com/?p=1412 Persiapan perjalanan sudah direncanakan 6 bulan sebelumnya, dari motor yang akan dipakai hingga para peserta yang akan berangkat, tetapi saat saat terakhir berubah para personil yang berangkat karena berbagai halangan, karena lamanya waktu yang harus disediakan untuk menuju Pulau Sumbawa. Seperti kita ketahui bahwa penyeberangan melalui kapal selain memakan waktu , juga menguras tenaga untuk antre masuk kapal hingga keluar kapal, belum lagi dikapal kita tidak bisa beristirahat.
Anggota SMOG yang akan berangkat dari Jakarta Pak Sis dengan KTM SMC690R, sedang Raka dari Semarang memakai HONDA XR650 dan Budi Ableh dengan Honda XLR 250, sedangkan dari Supermoto Rider Cilacap diwakili oleh Teddy dengan Kawasaki X250 yang baru dibeli dan Teddy dengan KLX150.
Anggota SMOG berkumpul dititik poin Banyuwangi, pada tanggal 16 Mei dan mulai perjalanan bersama sekitar pukul 11.00 , dengan rute penyeberangan Ketapang ke Gilimanuk dilanjutkan ke Singaraja karena ingin memilih jalan yang sepi dilanjut menuju ke Amed terus ke Amlapura menuju Padangbai. Dari Amed diketahui ban depan motor kurang angin setelah sampai di Amlapura baru kedapatan tukang ban untuk menambah angin. Tetapi setelah istirahat makan malam di Amlapura ban kurang angin lagi dan dikendarai terus hingga Padangbai karena sekitar jam 21.00 sudah tidak ada tukang ban yang buka. Ternyata di Padangbai waktu menunggu kapal, kita bersamaan dengan beberapa rombongan motor khusus tujuan HUIndonesia di Sumbawa, karena kita ketahui setelah sampai di Kencana Beach.

Pagi subuh sudah mendarat di Lembar, dan mencari tukang ban dipagi subuh dan ternyata, tubeless depan ada bocor dijari jari, tak jauh dari tukang ban terdapat Alfamart utk membeli Alteco, dan masalah ban teratasi. Karena kita penunggang Supermoto dengan bawaan yang minim, kita harus cerdas untuk mengatasi masalah dijalan dengan mendapatkan sesuatu yang mudah dibeli disekitar kita untuk menyelesaikan masalah. Karena meskipun telah disiapkan jauh hari, dijalan selalu ada halangan dimotor yang harus kita atasi.
Demikian pula dengan penginapan, waktu kita di Kapal , Pak Barkah dengan Vixion berdua bersama isteri dari Jakarta mengkawatirkan tentang penginapan, kita sampaikan bahwa masalah penginapan kita cari jalan keluarnya di Sumbawa Besar. Ternyata kitapun mendapat Hotel melati 2 kamar dan Pak Barkahpun memperoleh kamar ditempat lain.

Perjalanan team Supermoto Rider yang tergabung dalam SMOG dimulai tanggal 14 mei , tiga hari mendahului team pertama yang mulai berangkat menyeberang bali. Betul betul melakukan perjalanan turing panjang yang diakhiri finish kembali di Cilacap pada tanggal 24 Mei. Team Cilacap diwakili Tanjung dengan mengendarai Kawasaki X250 dan Teddy dengan menggunakan Kasakai KLX150 modif supermoto, perjalanan melewati selatan pulau Jawa dengan menginap di Malang diteruskan melewati Bromo dan menyeberang di Bali untuk beristirahat selama 2 hari. Tanggal 17 mei malam baru berangkat, sehingga kami bertemu pada tanggal 19 Mei di hotel yang sama.

Team pertama sampai di Venue Kencana Beach Pulau Sumbawa pada tanggal 18 Mei, dimana venue belum terlalu padat dengan kedatangan para petualang motor. Tujuan SMOG ke HUIndonesia Sumbawa Island 2017 ikut meramaikan acara temu petualang sedunia di Indonesia, Kebetulan kami bisa bertemu dengan Kang Jeffry Polnaja yang sudah terkenal sebagai petualang motor dunia untuk menyerahkan Buku perjalanan SMOG di Pulau Jawa dan Sumatera yaitu Buku Tepian Jawa dan Buku Jalan Tengah Sumatra, bahwa di Indonesia sudah terbit berbagai macam buku pengalaman berpetualang dengan motor terutama Motor Supermoto dengan keterbatasan dan kelebihannya. Buku pertama selain menuliskan perjalanan diberbagai bagian di Pulau Jawa juga mengenalkan apa itu motor Supermoto dan pengalaman dan kisah beberapa petualang dengan motornya. Sedang buku kedua JalanTengah Sumatra, selain menceritakan petualang dan kisah para pemotor dengan pengalamannya juga dimasukan pemahaman tentang Motor supermoto secara detail.

Team kedua berkesempatan juga berfoto dengan Kang Jeffry, saat setelah melakukan riding bersama di Pulau Sumbawa Besar.

Team pertama pada waktu mencari Kencana Beach berfikir, ada jalan dari Pelabuhan Laut Sumbawa Badas,ternyata Pelabuhan Laut Badas adalah pelabuhan umum untuk bongkar muat yang letaknya tidak terlalu jauh sekitar satu kilometer dari venue Kencana Beach. Kebetulan Pak Sis melihat tidak sengaja terdapat Kantor Bea Cukai Sumbawa di Badas, dan menyempatkan diri untuk mengunjungi teman temannya, kebetulan sedang ada persiapan rapat. Sehingga bisa bertemu dengan Kepala Kantor Bea Cukai Sumbawa dan Pejabat dari Kantor Wilayah Dit.Jen.Bea Cukai Bali, NTB dan NTT.

Pada tanggal 18 Mei Team pertama datang ke Venue, bertemu dengan Mas Andika, wartawan Otomotif yang pernah ikut turing bersama SMOG dengan rute Jakarta, Lampung, Liwa, Bengkulu, Muko muko, Padang dan Finish Bukit Tinggi sebagai Test drive KTM 200. Berlanjut dengan acara sesi foto bersama dengan Mas Billy dkk dan diteruskan dengan mencari kuliner makanan Taliwang. Warung Taliwang Mataram ternyata tidak jauh dari Hotel tempat menginap Team pertama, dan makan siang bisa kita nikmati dengan Ayam Taliwang beserta sambal dan sayuran lengkap serta ikan bakarnya dan tidak lupa berbagai jus dingin sebagai pelepas dahaga, karena cuaca di Pulau Sumbawa panas sekali.

Di hari kedua, Team pertama memutari Kota Sumbawa Besar dan berfoto didepan Kantor Bupati Sumbawa . Dimana event HUINDONESIA Sumbawa Island, May 18-21 2017 dengan misi sbb : HORIZON UNLIMITED Meetings hadir untuk siapapun yang mendambakan sebuah perjalanan petualangan di area yang belum pernah terjamah. Tak jadi masalah jika anda menggunakan sepeda motor, sepeda, ataupun kendaraan ekspedisi lainnya. Baik anda seorang petualang veteran yang senang berbagi pengalaman atau bahkan seorang pemula, bergabunglah dengan kami untuk memperoleh waktu dan kesempatan terbaik, serta saling bertukar ceritera dengan mereka yang pernah dan ingin bertualang kembali. Dan Acara ini didukung oleh Bupati Sumbawa Bp. H.M. HUSNI DJIBRIL, B.Sc dan Wakil Bupati Bp. Drs. H. MAHMUD ABDULLAH. Sangat terasa suasana acara di kota ini didukung oleh Pemerintahan Kabupaten Sumbawa. Apalagi bila Pemerintah Daerah bisa memberikan fasilitas Mes Pemda untuk menampung para peserta yang tidak dapat tempat menginap, semoga….

Team kedua ternyata melakukan perjalan sendiri, bersantai menikmati alam Sumbawa, mampir di Pulau Kenawa yang dekat dengan pelabuhan Pototano untuk menatap indahnya alam Sumbawa dan dilanjutkan perjalanan pulang menuju Pulau Bali untuk beristirahat disana dua hari dan dilanjutkan pulang ke Cilacap pada tanggal 23 Mei.

Team pertama meninggalkan kota Sumbawa besar pada tanggal 20 Mei karena mengejar waktu untuk kepentingan yang lain. Perjalanan yang paling melelahkan pada waktu penyeberangan ke Padangbai, bersamaan malam sabtu dan akan memasuki bulan Ramadhan, kapal diisi full dengan truk truk besar diparkir rapat, sehingga orang berjalanpun susah hingga motor masuk terakhir dan disusun rapat sekali di ram door kapal . Belum lagi suasana ruang penumpang yang penuh, karena motor masuk terakhir sehingga para pemotor hanya bisa istirahat didek luar. Setiba di Pulau Bali pada waktu subuh, Raka mengusulkan untuk beristirahat di Bali dan mendapatkan penginapan yang bersih dan nyaman yang biasa digunakan Raka di Bali sehingga siang hari, kami melanjutkan perjalanan, sampai di Banyuwangi malam hari, kita beristirahat dan besoknya kita terpecah, Pak Sis menuju Surabaya langsung ke Jakarta dengan pesawat karena kepentingan yang mendesak. Sedangkan Raka dengan Honda XR650 dan Budi Ableh dengan XLR250 menuju Semarang dengan rute Bromo, Malang, Kediri, Salatiga, finish Semarang tgl 22 Mei.
Dalam melakukan rencana turing jauh jauh hari telah dipersiapkan tentang rencana dan motor yang digunakan, biasanya saat saat terakhir ada keperluan lain yang mendesak atau kendala motor yang akan digunakan, semua bisa teratasi apabila kita mempunyai tekad yang kuat untuk melakukan perjalanan jauh.

Pengalaman turing dengan mengendarai motor jarak jauh, selalu memberikan sensasi sendiri, pengalaman inilah yang menjadi candu untuk melakukan perjalanan motor jarak jauh kembali, kesulitan, kelelahan, kepanasan merupakan moment yang indah untuk selalu dikenang.

]]>
http://smoger.com/2017/06/03/acara-huindonesia-sumbawa-island-may-18-21-2017/feed/ 0
Hello world! http://smoger.com/2017/04/27/hello-world/ http://smoger.com/2017/04/27/hello-world/#comments Thu, 27 Apr 2017 02:38:03 +0000 http://smoger.com/?p=1 Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

]]>
http://smoger.com/2017/04/27/hello-world/feed/ 1
Supermoto Without Border http://smoger.com/2016/08/23/supermoto-without-border/ http://smoger.com/2016/08/23/supermoto-without-border/#respond Tue, 23 Aug 2016 13:47:23 +0000 http://963.658.myftpupload.com/?p=1144
swb1

‘Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikan’

Pantun atau puisi kuno yang berasal dari bahasa Jawa : ‘tuntun’ yang berarti menyusun kata dalam bentuk sastra, merupakan kiasan bahwa tiap Negeri memiliki ke-unikan masing-masing yang bisa jadi berbeda dengan negeri lain. Begitu pula antara Sabah dengan Indonesia juga berbeda belalang dan ikannya, namun untuk supermoto tetap sama. Sehingga perbedaan sekaligus kesamaan diantara penunggang supermoto dari Kota Kinabalu, telah mendorong mengabaikan batas Negara untuk bersilahturahmi dengan rekan-rekannya di Jakarta.

Pada hari minggu tanggal 14 Agustus 2016 telah datang komunitas Motard Ride Fun ( MRF) dari Sabah-Malaysia yang berjumlah 18 orang, yang langsung dipimpin oleh ketuanya sendiri yang bernama Boy Togong. Mereka di sambut oleh tuan rumah yang diwakili : Supermoto Owner Group dan Kracker group.

Acara yang diadakan di Gelora Bung Karno diawali dengan ramah-tamah dan dilanjutkan dengan perbincangan yang mengasikan tentang motor, kegiatan, sampai ke komunitas supermoto di masing-masing Negara. Tampaknya tamu-tamu ini sangat tertarik dengan penampilan supermoto tungangan tuan rumah. Mulai dari supermoto standar seperti KTM 690 SMC/R, dan Kawasaki Dtraxer 150/250. Sampai supermoto modifikasi yang dibangun dari Honda XR650R , KTM 250 EXCF maupun Kawasaki KLX 15/250.

swb2

Sempat diceritakan bahwa modifikasi supermoto adalah kegiatan yang paling digemari di negeri mereka, dalam perbincangan mengenai parts supermoto mereka tertarik dengan knalpot imitasi merek merek terkenal dan parts limbah juga. Dari tayangan yang ditunjukan lewat You Tube bisa disaksikan penampilan supermoto komunitas MRF yang begitu ‘meriah’ oleh asesories, cutting-stiker berwarna-warni dan powder-coating dengan warna mencolok. Bahkan terlihat juga ada banyak supermoto yang dimodifikasi rodanya dengan veleg-racing (palang/bintang), dan ada juga yang menganti dengan knalpot kolong . . . . sesuatu yang diharamkan oleh penunggang supermoto di negeri ini.

Akhirnya Menjelang tengah hari rombongan MRF pun berpamitan. Saat itu Boy Togong memberikan cinderamata berupa plakat MRF, kepada Supermoto Owner Group yang diterima oleh Mario sebagai Presiden SMOG dibalas dengan pemberian kaos Supermoto Attack dan  oleh Pak Sis sebagai Penasehat/ pendiri SMOG mewakili tuan rumah dibalas memberikan kenang-kenangan berupa buku jurnal supermoto Tepian Jawa dan Jurnal Supemoto Jalan Tengah Sumatra. Cinderamata juga diberikan kepada perwakilan krecker yang ikut datang di acara tsb antara lain : 1. Kracker Nort, 2.  Kracker Central/ Movement Rangers, 3. Kracker BKT, 4. Kracker Balakaciprut, 5. Kracker Karawang, 6. Kracker Bekasi, 7. Surfree, 8. Supermoto Life Tanggerang.

swb3

Tidak lupa tamu-tamu dari Sabah ini menanyakan dimana bisa berbelanja suku-cadang dan asesories untuk supermoto mereka. Kemudian Anto sebagai ketua umum Kracker menawarkan untuk menemani rombongan MRF menuju Kebon Jeruk di Jakarta Pusat yang merupakan pusat kuliner untuk sepeda motor. Sesampainya disana  mereka dengan girang seperti segerombolan bebek yang menemukan kolam yang penuh dengan ; ikan . . . . Segera rombongan itu berpencar kemana-mana untuk memborong suku-cadang dan acesories yang sangat beragam dengan harga yang bersahabat yang tidak mereka dapati di negerinya. Akhirnya barang belanjaan beragam spareparts dan acesories menyertai para pelancong pulang ke negeri jiran.

]]>
http://smoger.com/2016/08/23/supermoto-without-border/feed/ 0
5th SMOG Anniversary http://smoger.com/2016/07/23/5th-smog-anniversary/ http://smoger.com/2016/07/23/5th-smog-anniversary/#respond Fri, 22 Jul 2016 22:08:58 +0000 http://963.658.myftpupload.com/?p=1071 as5-1

و التنظر نفس ما قدمت لغد

Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad, “Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr

[59] : 18 )

Hari ulang tahun adalah hari yang istimewa, karena ketika hari itu datang akan memaksa kembali mengangkat jemari untuk menghitung tahun-tahun yang telah dilalui di dunia ini. Sejenak kita diajak untuk melempar jauh ingatan ke masa lalu, ke hari dimana semua ini dimulai saat dilahirkan di muka bumi, …ketika masih bermain dan belajar, hingga menjalani takdir menuju kedewasaan.

Dengan memperingati hari kelahiran kita dapat mengevaluasi apa saja yang telah dilakukan, dan digunakan sebagai bahan introspeksi dalam merencanakan langkah yang lebih baik di kemudian hari. Selain itu memperingati hari kelahiran juga bisa digunakan untuk meneguhkan tali silaturrahim.

Begitu juga dengan peringatan hari lahir Supermoto Owner Group (S.M.O.G) yang ke lima di tahun 2016 ini. Dan tanpa sadar kita diajak kembali kemasa lalu dimana semua ini dimulai, melewati satu demi satu peristiwa yang sudah terjadi untuk disyukuri dan diambil hikmahnya…..,

22-23 Januari 2011, Kopdar Akbar 1 Supermoto Indonesia
Mudah diketahui siapa ibu yang melahirkan S.M.O.G, namun bila ditanya siapa bapaknya pasti tidak ada yang tahu. Meskipun demikian jawaban itu bisa ditelusuri mulai dari kesalah-pahaman yang terjadi saat sekelompok penunggang supermoto yang biasa berkumpul di bengkel modifikasi bernama Caos Custom, datang menghadiri acara yang diadakan oleh Supermoto Indonesia (SMI) di Baturaden, Jawa Tengah.

as5-2

Sepulang dari Baturaden, Pak Sis, Pak Arif, Mario , Lerry, Pak Uztad , Eljan , Faizal, Anton, Boy, Kavu bersepakat untuk membentuk komunitas supermoto yang benar-benar baru. Selanjutnya sebagian dari mereka memantapkan visi dan misi dengan melakukan perjalanan mengelilingi pulau Sumatera bagian utara, yang saat itu belum pulih dihantam bencana maha dasyat berupa Tsunami.

as5-3

21 Mei 2011,

Beberapa bulan kemudian, mereka kembali berkumpul di Otobursa Tumplek Blek, Senayan. Yang kali ini bersama-sama dengan rekan-rekan pengemar supermoto lainnya yang sepaham, untuk mengikrarkan kelahirah bayi supermoto yang diberi nama S.M.O.G. harapan diletakan kepada komunitas baru ini untuk mempersatukan para pemilik supermoto, tanpa memperdulikan latar-belakangnya. Apakah berasal dari perorangan atau dari komunitas bengkel seperti Caos Custom, maupun yang berlatar belakang komunitas supermoto seperti; Smart, Insert, Busur, Moto-X, Kracker, Kasus, Supermoto Rider, dan lain-lain. Hari itu juga secara melalui musyawarah berhasil disepati menunjuk Mario sebagai satu-satunya wali yang bertanggung-jawab menjaga dan membimbing S.M.O.G.

as5-4

Hari berganti hari membuat bayi supermoto tersebut beranjak dewasa. Jalanan dan perjalanan, kesalah-pahaman, serta konflik internal maupun eksternal membuat SMOG semakin bijak dan cerdas menyikapi dunia supermoto. Berbagai expedisi pun dibuat untuk membuktikan supermoto adalah motor yang rasional untuk menjelajahi negeri ini. Mulai dari perjalanan mengelilingi pulau Jawa, menyusuri Sulawesi, melintasi Sumatera, ..Kalimantan, hingga ke pulau-pulau di timur negeri ini. Dan untuk menunjukan keberadaan atau eksistensi-nya, S.M.O.G ikut aktif melalui ke-ikutsertaan di berbagai even motor. Mulai dari : pameran supermoto, uji-coba balapan supermoto, Fun-race, memajang foto supermoto di media-otomotif, hingga bakti sosial.

as5-5

Namun semua kegiatan tersebut masih bersifat internal dan lebih ditujukan untuk komunitas yang berafiliasi saja. Baru di pertengahan tahun 2014 mulai timbul kesadaran untuk bersama-sama dengan komunitas supermoto lainnya yang tidak berafiliasi memelopori terbitnya buku “Jurnal Supermoto : Tepian Jawa”. Melalui tulisan ini S.M.O.G berusaha berbagi dengan merangkum dan menceritakan; sejarah supermoto di negeri ini, kesalah-pahaman tentang supermoto, hingga mendapat pencerahaan tentang motor hebat ini.

as5-6

Memasuki tahun 2015 S.M.O.G semakin percaya diri mengajak komunitas supermoto seperti; Supermoto Indonesia, Kracker, Indoc, Insert, Supfree, BKS, El-Rhino dan lain-lain bersama-sama membuat pilot-project balapan supermoto ‘ala’ negeri ini; ‘Gymkhana-Supermoto’. Keterbatasan sirkuit, motor, dan dana, membuat semuanya harus memutar otak memanfaatkan sumber-daya yang tersedia semaksimal mungkin. Akhirnya sebuah duel supermoto yang memadukan; drag-race, extreme-manuver, obstacle-manuver, hingga stoppy bisa dilakukan di sebuah lapangan parkiran mall seluas 80meter x 40 meter persegi.

as5-7

20 Februari 2016,

Memasuki tahun 2016 dengan berbekal pengalaman mengoperasikan supermoto selama beberapa tahun di jalanan. Meyakinkan S.M.O.G untuk menyelesaikan buku “Jurnal Supermoto 2 : Jalan Tengah Sumatera”. Sekarang S.M.O.G sudah memantapkkan tekatnya untuk lebih jauh melakukan ‘syiar’ dengan memelopori ‘Dakwah Supermoto”. Yaitu berusaha mengajak para penunggang supermoto untuk berbuat kebaikan dengan menjadi cerdas. Sekarang S.M.O.G semakin banyak merangkul semua pihak; mulai dari penunggang, pelaku bisnis, hingga media otomotif untuk bersama-sama meyakinkan kepada masyarakat, bahwa supermoto adalah motor yang rasional bagi negeri ini.

as5-8

29 Mei 2016, Senayan.

Akhirnya di Tumplek Blek Otomotif, tempat yang sama dimana dulu dilahirkan. Hari ini pun S.M.O.G kembali merayakan hari jadinya yang ke lima. Berbeda dengan perayaan-perayaan sebelumnya, peristiwa ini dijadikan kesempatan untuk merenungkan seberapa besar S.M.O.G telah mengisi umurnya dengan hal-hal baik yang berguna bagi dunia supermoto di negeri ini.

as5-9

]]>
http://smoger.com/2016/07/23/5th-smog-anniversary/feed/ 0
Dakwah Supermoto http://smoger.com/2016/04/17/dakwah-supermoto/ http://smoger.com/2016/04/17/dakwah-supermoto/#respond Sat, 16 Apr 2016 17:00:20 +0000 http://963.658.myftpupload.com/?p=1086
DS_1

Dakwah adalah kegiatan yang bersifat mengajak dan memanggil orang untuk taat kepada Allah SWT. Dalam bahasa Arab kata dakwah berarti : ajakan, seruan atau panggilan

Dakwah serupa yang digagas Pak Sis untuk mengajak para penunggang supermoto agar bersikap cerdas terhadap motornya. Ternyata ajakan tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak, seperti ;  Kracker, Supermoto Indonesia, Badak Kulon Supermoto, Indoc, Bandung Supermoto, El-Rhino maupun pribadi-pribadi yang tidak tergabung dengan komunitas, atau biasa disebut Privatter.

Yang namanya dakwah tentunya juga ada yang menyikapi dengan negative karena berbagai alasan. Namun disitulah seninya, karena dakwah adalah perjuangan untuk menyadarkan kembali ke jalan yang benar. Kesabaran, kebesaran hati, keteguhan dan kedewasaan menjadi syarat utama para pendakwah, tidak terkecuali bagi para pendakwah supermoto.

Apapun itu, sejarah sudah mencatat kepedulian sekelompok orang yang dengan dukungan banyak pihak berhasil mengajak para penunggang supermoto untuk menjadi cerdas terhadap tunggangannya. Dan untuk itu Supermoto Owner Group mengucapkan terima kasih setulusnya kepada : Panitia, volunteer, komunitas, media maupun privatters, serta pihak-pihak yang tulus membantu sehingga kegiatan ini berhasil dilaksanakan.

PAGI KEMENANGAN

DS_2

Setelah tiga minggu merencanakan dan mempersiapkan semuanya, pagi ini akan ditentukan apakah usaha yang dilandasi ketulusan ini akan berhasil atau berantakan. Sebenarnya perasaan was-was mulai luntur karena menjelang tengah malam datang bantuan dari Kracker-Balakaciprut dan mbak Riri-Rere yang langsung membantu mempersiapkan motor-motor yang esok akan dipakai untuk test-ride. Juga kesediaan Kang Asep yang selama ini dikenal sebagai mekanik trail untuk memenuhi panggilan darurat karena ternyata ada motor yang kedapatan rusak.

Menjelang Subuh, perasaan was-was makin tersapu dengan kedatangan team Badak Kulon Supermoto. Apalagi belum lagi matahari terbit senior-senior Kracker yaitu Ogie Sutrisno dan Blinky-Bill datang dengan mengajak si sexy Vania untuk memompa semangat panitia yang masih kedinginan. Tampaknya pagi buta dengan mendung yang mengantung  dilangit, dan udara yang basah sudah tidak mampu menjegal kekuatiran kami. Tidak lama kemudian raungan knalpot belasan supermoto benar-benar merobek sepanjang Arteri Pondok Indah saat dihela  menuju lokasi dakwah yang berjarak dua kilometer.

PANGGILAN DARI QUANTUM

DS_3

Kesibukan yang sama terjadi di jalan Haji Nawi yang dijadikan lokasi dakwah. Pak Sis ternyata sudah mengerahkan ibu-ibu Dharma Wanita yang dibantu team KTM dibawah komando kang Alex Samosir yang tergabung di Supermoto Indonesia Chapter Bandung. Saat ibu-ibu menyiapkan sarapan, meja tamu dan koordinasi acara. Maka bapak-bapak sibuk menata ruangan, menata kursi, memasang backdrop dan spanduk.

Kedatangan belasan supermoto yang dihela anak-anak dari  Badak Kulon Supermoto, Balakaciprut dan privatters benar-benar membuat perasaan was-was menguap tidak berbekas. Apalagi kedatangan ‘Habib’ Rio Sujak yang ditahun 2006 ikut membidani lahirnya Supermoto Indonesia (SMI), yang membawa jamaah supermotonya benar-benar memompa semangat segenap panitia.

Setelah beramah tamah, acara selanjutnya adalah sarapan. Saat itu tamu-tamu mulai berdatangan ; Indoc, Bandung Supermotard, Kracker, Prides, Kawasaki Motor Indonesia, El Rhino, Hobby Motor, media, dan entah siapa lagi. Terima kasih, karena sekarang perasaan wasa-was benar-benar sudah berganti menjadi semangat dan kelegaan. Ternyata ajakan berbuat kebaikan telah mendapatkan jawaban yang tegas!.

.. DAN JAMAN JAHILIYAH PUN LEWAT SUDAH!

DS_4

‘Habib’ Rio Sujak langsung membuka dakwah dengan tausiah-nya yang mengingatkan tentang bagaimana perjuangan komunitas supermoto saat motor ini dikenal di negeri ini. Hikayat supermoto berawal dari para penunggang trail Hyosung RX125, yang karena kesamaan minat akhirnya berkumpul untuk berdiskusi dan bersenang-senang bersama. Namun berbeda dengan CAOS yang dideklarasikan pak Bowo di tahun 2005 yang kemudian dibesarkan namanya oleh Lerry, dimana komunitas ini lebih berlatar belakang komunitas Bengkel. Sedangkan SMI benar-benar komunitas yang awalnya didirikan oleh penunggang-penunggang yang berlatar belakang beragam dan berkumpul di sebuah café yang berlokasi dekat dengan Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Setelah jamaah dibukakan hatinya tentang sejarah komunitas supermoto di negeri ini, giliran murtader Arnaud Decamp yang pindah dari Perancis dan menjadi ‘mualaf’ di Indonesia sejak 4 tahun ini. Langsung mengisahkan hikayat supermoto yang kelahirannya di Eropa dilatarbelakangi oleh ketidak sengajaan. Kondisi cuaca disana membuat di musim dingin motor-motor trail lumpuh karena salju yang tebal. Beberapa pembalap motorcross yang pernah ikut balapan-campuran di Amerika yang dikenal sebagai SUPERBIKERS mendapat gagasan untuk menganti ban offroad motor mereka dengan ban onroad motor balap. Sekarang mereka bisa bermain-main motorcross yang sudah murtad menjadi “SUPERMOTARD’ (Inggris = supermoto) di jalan-raya atau halaman mall atau parkiran di kota-kota Prancis. Yang nantinya menjadi cikal-bakal kompetisi supermoto di seluruh dunia.

Sekarang giliran ‘Kyai’ Sis memberikan siraman-rohani nya.  Gelar kyai-nya entah mulai kapan disandang, yang pasti beliau sudah mendapatkan hadiah Yamaha DT100 di tahun 1975 saat berumur 17 tahun dikelas 2 SMA, dan pada waktu menjadi mahasiswa FE di Undip, Semarang di tahun 1980 mendapat motor pengganti Binter KE125 yang pada saat itu menjadi motor idaman anak muda. Kemudian saat bertugas di Kalimantan tahun 1997 yang jalannya masih primitive saat itu motor ikut diajak menyusuri wilayah Kalimantan Timur selama 3 tahun. Selanjutnya berbagai motor trail mulai Yamaha DT200, HondaXLR250, Husqvarna WRE125, KTM250Exc-f, HondaXR650R, sampai KTM690SMC/R sudah pernah dirasakan kelebihan dan kekurangannya.

Kisah tentang evolusi yang dimulai dari menikmati sensasi motor trail, hingga mendapatkan ‘pencerahan’ di tahun 2008 setelah ‘melaknat’ KTM250Exc/f menjadi supermoto. Jalanan-lah yang mengajari untuk memahami motor hebat ini. Hingga mendapatkan keyakinan, dengan sedikit modifikasi supermoto bisa menjadi motor yang rasional penjelajah negeri ini.

Selanjutnya Begawan “Vandra” yang menjadi perwakilan media/blogger yang sudah mencicipi berbagai jenis motor, untuk naik ke mimbar dan menyampaikan ‘opini’ nya tentang supermoto. Saat itu juga disampaikan kekecewaannya kenapa beliau, maupun rekan-rekannya baru akhir-akhir ini bisa mengenal dan merasakan supermoto.

Awalnya beliau masih memandang sebelah-mata terhadap supermoto karena tidak secepat motor-balap, tidak setangguh trail, tidak segarang moge, dan tidak se-aristoktrat vespa. Bahkan tidak lebih imut imut dari matic sekalipun. Namun ketika sudah merasakan sendiri sensasi dan memahami fungsinya, beliau baru bisa menyadari superioritas supermoto ketika berada di lintasannya. Dibalik kesederhanan tersembunyi aura : ‘agresif dan keteguhan’ yang bisa membuat percaya diri penunggangnya.

Tampaknya jamaah begitu tersihir oleh khotbah para pungawa-pungawa motor tadi hingga lupa perut mereka sudah protes. Beruntung moderator segera mengingatkan bahwa hidangan santap siang sudah tersedia. Dan motor-motor untuk test-ride pun telah disiapkan oleh panitia di halaman parkir sekolah Kristen yang terletak disebelah tempat dakwah, untuk digunakan sebagai lintasan darurat.

Rasanya terharu melihat keharmonisan dan kerukunan ini.

SUPERMOTO GILIRAN

DS_5

Dakwah supermoto yang mengajak kepada kebaikan tampaknya sirna saat deretan motor seolah berlomba menebar pesonanya. Mulai dari Hyosung RX125SM, Soib 400SM, Honda XLR250, HondaCRF250, Honda CB500, Honda XR650R, KTM250Exc-f, KTM690SMC/R, Husqvarna250SM, Husqvarna610SM, sampai Gas-Gas250SM dengan pasrah menunggu ditunjuk untuk ditunggangi oleh jamaah, yang kini berebut  didepan meja sang ‘mami’ untuk mendaftar.

Segera saja para ‘ladyboy-escort’ yang bertugas membimbing  jamaah untuk mengenal supermoto disibukan oleh antusias jamaah yang sudah tidak kuat lagi menahan ‘nafsu’nya. Segera saja lintasan kotak dengan permukaan aspal sepanjang 80 meter dan selebar 20 meter, dilindas ban-ban supermoto.

Tampaknya faktor ‘safety ride’ tidak berlaku disini… ya jelas saja karena semua juga tau supermoto itu motor balap yang agresif. Selain itu toh tempat ini area privat sehingga Undang-Undang Lalu Lintas tidak berlaku. Yang penting cukup selamat saja, ..dan nikmati kemerdekaan penuh dengan supermoto.

SUPERMOTO RELIGION

DS_6

Setelah kenyang makan dan puas merasakan sensasi berbagai supermoto. Jamaah segera kembali ke ruangan untuk session tanya jawab tentang sensasi menunggangi supermoto. Diskusi berjalan dengan meriah meskipun tetap sejuk, dan untuk melayani keingin tahuan jamaah. Kini Murtader Arnaud dan Kyai Sis mesti dibantu Om Alex untuk menjawab dan menjelaskan pertanyaaan seputar supermoto.

Benar dakwah supermoto ini adalah tindak lanjut dakwah serupa yang dilakukan dengan media yang berbeda, yaitu lewat tulisan. Berjudul Jurnal Supermoto : Tepian Jawa dan Jurnal Supermoto 2 : Jalan Tengah Sumatera. Buku tersebut sengaja dibuat sedemikian rupa karena berusaha merangkum semua hal dan kejadian yang berkaitan dengan supermoto di negeri ini. Mulai dari sejarahnya, teknis, kesalah-pahaman, kekonyolan, hingga pencerahan yang didapat dari supermoto. Yang semua itu dibungkus dalam bingkai kecintaan terhadap negeri , dan dibumbui dengan sisi gelap laki-laki yang tidak terpisahkan dengan supermoto. Semua kejadian yang ditulis di kedua buku itu adalah benar-benar terjadi,  dan dirasakan serta dialami penulis maupun nara sumber utama. Yang karena suatu alasan estetika membuat nama tokoh, tempat dan waktu harus dimodifikasi atau diganti (serta sudah dikonfirmasikan kepada yang bersangkutan). Meskipun demikian semua bisa dipertanggung jawabkan dan dijelaskan secara dewasa.

TERSENYUMLAH BILA ADA REKAN-MU YANG BERDAKWAH UNTUK BERBUAT KEBAIKAN. KARENA DENGAN SENYUMAN ITU MENGHAPUS SEGALA RASA PENAT LAHIR DAN BATHIN DALAM MENYELENGGARAKAN KEGIATAN INI.

DS_7

Terima kasih kepada : semuanya !

]]>
http://smoger.com/2016/04/17/dakwah-supermoto/feed/ 0
Jalan Tengah Sumatra http://smoger.com/2016/01/17/jalan-tengah-sumatra/ http://smoger.com/2016/01/17/jalan-tengah-sumatra/#respond Sat, 16 Jan 2016 17:00:33 +0000 http://963.658.myftpupload.com/?p=1096 Perjalanan bermotor jarak jauh itu tidaklah nyaman. Karena yang dirasakan saat itu secara fisik adalah ; … kelelahan, kegerahan saat panas dan kedinginan bila hujan, pegal, nyeri, masuk-angin, mengantuk, kesepian serta terasing, frustasi, was-was…

Namun kita bisa merasakan sensasi yang luar biasa justru jauh hari kemudian, yaitu saat mengenangnya!. Saat melihat foto-foto dan video perjalanan, saat bertukar cerita dengan rekan-rekan, atau saat memasang status di media sosial.

Begitu pula dengan sebuah kisah perjalanan bermotor sejauh 1600 kilometer dari Jakarta menuju Bukittingi yang digagas oleh komunitas Supermoto Owner Group. Awalnya perjalan ini sekedar touring jarak jauh biasa, namun jalanan di pulau Sumatera ternyata berhasil memberantakan keyakinan para pesertanya.

Frustasi karena ketidaksiapan maupun kerusakan motor, jadwal yang tidak sesuai rencana, informasi rute yang tidak akurat, hujan deras dan tanah longsor yang memotong jalan, perbedaan pendapat karena saling mempertahankan ego, kebut-kebutan, kecelakaan ringan, dan berbagai kekonyolan lainnya,…. Membuat peserta menjadi berhamburan sehingga terpaksa mencari jalan-nya sendiri-sendiri agar bisa mencapai tujuan.

Dan, ternyata mereka berhasil melewati semua itu!.

Tentunya kisah tersebut, bersama dengan kisah-kisah perjalanan lainnya saat menjelajahi jalanan di pulau Sumatera. Telah menginspirasi untuk menjadikan sebuah kisah tentang : Supermoto dan penunggang serta sisi gelapnya, mulai dari gaya hidup, cabe-cabean, konflik komunitas … Hingga sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu negeri ini, yaitu tentang sebuah negeri misterius yang bisa jadi akan terungkap justru bukan oleh sejarawan. Namun oleh penunggang supermoto!

JTS_2

KTM 690 SMC-R

Seperti kiasan tentang seekor gajah yang akan diartikan berbeda oleh empat orang buta, yang masing-masing memegang tubuh binatang tersebut ditempat yang berbeda-beda. Begitu juga dengan supermoto, untuk bisa memahami motor ini tentunya dengan melihat dan mencoba mengendarai langsung supermoto yang dibuat oleh pabrikan yang kompeten.
Ketika sebuah supermoto dirancang dan dibangun maka ada ratusan insinyur dengan latar belakang keahlian yang terlibat dan memikirkannya. Karena itu bisa jadi antara supermoto yang dihasilkan pabrik KTM berbeda dengan supermoto rakitan Husqvarna atau Kawasaki, karena peruntukannya memang berbeda. Pabrikan membuat KTM450SM khusus untuk kompetisi, dan Husqvarna 610SM untuk pemakaian harian di Eropa, sedangkan Kawasaki Dtraxer250 sendiri lebih dirancang untuk pemakaian harian di Asia.
Namun ada satu yang istimewa, yaitu KTM SMC 690R. Karena pabrikan merancang satu supermoto untuk berbagai fungsi cukup dengan memutar tombol untuk menganti mode-nya. Dari supermoto yang nyaman untuk digunakan sehari-hari di jalan raya, dengan menganti mode maka otomatis bisa menjadi supermoto untuk jarak jauh yang sanggup menengak jenis bahan bakar apa saja yang tersedia di jalanan. Dan cukup merubah mode dan mengisi bensin beroktan tinggi ke tangkinya maka sudah didapat supermoto dengan spesifikasi kompetisi.
JTS_3

CIPTAGELAR – KEARIFAN LOKAL

Banyak tempat-tempat eksotis di negeri ini yang letaknya sulit dijangkau. Namun dengan supermoto memungkinkan kita untuk keluar dari jalan raya dan memasuki jalan-jalan pegunungan yang bermedan berat. Misalnya berkunjung ke desa adat Ciptagelar yang tersembunyi di pegunungan Halimun yang terletak di perbatasan Jawa Barat dengan Banten.

Disanalah kami seolah-olah diperlihatkan masa lalu negeri ini sebelum budaya asing menyapu nusantara. Tentang sebuah masyarakat yang dengan teguh mempertahankan keyakinan asli bangsa ini yang tidak lekang oleh waktu dan gempuran globalisasi.

Yang menyadarkan bahwa bahwa komunitas supermoto pun mesti memiliki identitas sendiri, tentunya yang sesuai dengan budaya negeri ini. Jadi komunitas tidak harus terjebak untuk menjiplak mentah-mentah budaya asing begitu saja, namun mesti arif dan bijaksana dalam menyikapi-nya.

Dan di Ciptagelar lah kisah tentang Jurnal Supermoto II, Jalan Tengah Sumatera dimulai. Dimana kami harus sekali lagi bermotor menuju jantung suku Melayu. Tempat dimana para pendiri bangsa ini mendapatkan bahasa yang nantinya ditetapkan sebagai bahasa persatuan negeri tercinta ini, Indonesia!.

JTS_4

Gaya Hidup dan Komunitas Supermoto

Dalam buku ini juga membahas komunitas supermoto yang ada di negeri ini. Yang apabila mengambil istilah kang Sani dari SMI Bandung ; Disana bisa kita jumpai para ‘BIKER’, yang begitu mencintai motornya hingga rela menghabiskan biaya besar untuk mempercantik, bahkan tidak rela apabila kotor apalagi kalau sampai tergores. Juga ada para “RIDER’ yang kurang peduli dengan penampilan motornya. Karena yang penting bisa dipakai untuk kebut-kebutan, atau bisa disiksa untuk menyusuri ribuan kilometer menembus berbagai kondisi jalanan.
Tidak hanya itu karena dikomunitas juga dijumpai para pengusaha yang melihat potensi bisnis pada supermoto. Mulai ATPM, pedagang motor bekas, suku cadang dan asesories, bengkel dan rumah modifikasi, sampai perlengkapan, apparel hingga Even-organizer.

Tentunya perbedaan latar belakang atau kepentingan ini membuat terjadinya kesalah pahaman sehingga menimbulkan konflik di komunitas. Benar, ego dan fanatisme yang berlebihan, ketidak dewasaan dalam bersosialisasi, kepentingan dan persaingan bisnis tanpa dilandasi etika yang sehat,..semua ini berpotensi menimbulkan konflik di dalam komunitas supermoto.

Buku ini juga mencoba membayangkan sebuah komunitas supermoto yang ideal, yang direpresentasikan kedalam sebuah ‘one-stop’ bengkel imajiner. Disana para penunggang supermoto tidak hanya bisa merawat atau memperbaiki motornya. Juga disediakan ruangan yang nyaman untuk berkumpul dan membicarakan berbagai hal menarik tentang supermoto. Tempat itu juga menjual peralatan dan perlengapan untuk keperluan pemakaian sehari-hari, menjelajah, sampai untuk kompetisi balap. Mulai dari ; suku-cadang, asesories, peralatan dan perlengkapan sampai apparel.

JTS_5

Cabe Cabean

Tidak bisa dipungkiri bahwa motor, laki-laki dan wanita cantik tidak-lah bisa dipisahkan. Begitu pula dengan fenomena saat ini yg tidak terlepaskan dari dunia motor yaitu cabe-cabean atau gadis muda yang tidak hanya menghangatkan dunia motor dimalam hari, namun juga ‘memanaskannya’.

Melalui tokoh Rara pandangan kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa ‘sisi gelap laki-laki’ bisa terbaca dengan lugas melalui liar-nya dunia motor. Dimana sebuah fenomena sosial ‘Hitam-Putih’ yang setengah diakui, meskipun secara nyata dan vulgar bisa ditemukan di jalan-jalan gelap ibukota.
JTS_6

Peta Lintasan di Pulau Sumatera

Sekarang apa jadinya bila para ‘Rider’, ‘Biker’, ‘petualang’, dan ‘Pengusaha’,… dari berbagai komunitas supermoto yang berbeda serta dengan kepentingan yang berbeda pula…yang dipanasi oleh ‘cabe-cabean’ berkumpul menjadi satu.

…benar yang didapat adalah kekacauan karena fanatisme dan ego yang militan justru berujung pada balapan liar jarak jauh dengan supermoto untuk membuktikan siapa yang paling benar!. Namun ternyata jalanan di pulau Sumatera sanggup memaksa ke tiga belas perwakilan komunitas supermoto untuk menyerah. Meskipun demikian jalanan dan lintasan di pulau raksasa itu juga berhasil membuktikan ketangguhan supermoto untuk menjadi motor penjelajah yang rasional di negeri ini.
JTS_7

Supermoto dan Penunggangnya

Bagian utama dari Jurnal Supermoto II – Jalan Tengah Sumatera mengisahkan berbagai pengalaman ketika menjelajahi jalan-jalan di pulau Sumatera dengan supermoto. Dimana cerita tentang ; kenekatan, keberanian, kekonyolan, kekanak-kanakan, keteguhan, kecerdikan, kesembronoan, akan menjadi kisah bagaimana penunggang dan supermoto bertahan di jalanan yang tidak kenal ampun bagi mereka yang sial.

Tentunya agar kisah nyata tersebut dapat terangkum dengan baik, perlu dituturkan melalui kisah baik dari pelaku langsung. Maupun bantuan pelaku fiktif atau setengah-fiktif, yang karena alasan tertentu tidak bisa diungkapkan disini.
JTS_8

SRIWIJAYA

Tanpa sengaja perjalanan menjelajahi pulau Sumatera berhasil merubah pengetahuan dan sudut pandang tentang masa lalu negeri ini. Dengan merasakan sendiri lintasan-lintasan-nya, menyusuri sungai-sungai, rawa-rawa, danau, memanjati dan menuruni pegunungan terjalnya, serta melintasai daratan luas disana…tanpa sadar sanggup menyingkap misteri kerajaan besar yang tidak jelas rimbanya. Yaitu : Sriwijaya.

Jalanan di pulau itu tampaknya berhasil dengan rasional menjelaskan bagaimana kerajaan hantu itu muncul, Berjaya, hingga musnah ditelan jaman. Menjelaskan bahwa negeri besar masa lalu itu runtuh karena fanatisme sempit dan kebodohan para pemimpin dalam menyikapi perubahan ekonomi dan politik internasional-kuno.

Seolah jalanan di pulau Sumatera berusaha mengingatkan kita bahwa ‘persatuan dan gotong-royong’ adalah kekuatan utama bangsa negeri ini, untuk menjaga amanat Tuhan Yang Maha Esa yang telah mewariskan negeri-surga ini.
JTS_9

BUKIT TINGGI

Tidak banyak anak negeri yang mengetahui bahwa Bukittinggi yang terletak di jantung pulau Sumatera, pernah menjadi ibukota darurat Republik Indonesia saat Belanda berhasil melumpuhkan Jakarta dan Yogyakarta di pulau Jawa.

Begitu pula bagi ke 13 penunggang supermoto yang awalnya hanya melihat kota yang permai sekedar sebagai garis finis untuk membuktikan ego mereka. Namun setelah dihajar kerasnya lintasan-lintasan di pulau Sumatatera, yang sanggup menyadarkan bahwa keyakinan saja tidak cukup untuk bertahan.

Namun Bukittinggi berhasil member pelajaran manis bahwa untuk mencapainya dengan selamat diperlukan lebih dari keyakinan!. Namun dibutuhkan sesuatu yang lebih penting lagi, yaitu : persatuan dan gotong-royong!.
Benar, karena ke 13 penunggang yang meskipun berlatar belakang beda, berasal dari komunitas yang saling bersebrangan, mengendarai jenis motor yang berbeda….namun di Bukittinggi mereka disadarkan bahwa tunggangan mereka sama : Supermoto!.


( Untuk informasi lebih lanjut untuk pemesanan buku ini hubungi Marcelina hp. 081289610282.)

]]>
http://smoger.com/2016/01/17/jalan-tengah-sumatra/feed/ 0
GHYMKHANA SUPERMOTO DUEL http://smoger.com/2015/12/17/ghymkhana-supermoto-duel/ http://smoger.com/2015/12/17/ghymkhana-supermoto-duel/#respond Thu, 17 Dec 2015 16:20:42 +0000 http://963.658.myftpupload.com/?p=1109
gsd-1

…belajarlah merangkak sebelum mulai berlari @Aerosmith-amazing#

Sabtu, 6 Juni 2015 adalah hari yg bersejarah bagi komunitas supermoto di negeri ini. Saat itu Dechamps Arnaud dengan bantuan dari Pak Sis dan Mario (penasehat dan presiden SMOG), Azis (tokoh SMI Jakarta), Dion (Ketua SMI Tangerang), Antok & Iwan Ktm (Ketua/Wakil Kracker-Nusantara), dan Eko Haryo (Indoc), serta Insert. …berhasil menunjukan balapan ala supermoto pertama di negeri ini.

gsd-2

gsd-3 gsd-4

Dimulai dua bulan sebelumnya saat Arnaud yang mantan pembalap supermoto dari Perancis merasa frustasi melihat berbagai even yang diembel-embeli ‘supermoto’ di negeri ini, ternyata masih tidak sanggup mempertontonkan sebuah kompetisi yang berkarakter supermoto.

Atas bantuan Ingrid dari Fox, dipertemukan-lah dengan Pak Sis yang ternyata sudah frustasi melihat supermoto di negeri ini justru difungsikan sebagai motor tongkrongan dan motor buat ajang narsis. Selanjutnya mereka pun bertemu dan menyatukan visi serta menetapkan misi, yaitu membuat balapan supermoto yang berkarakter.
Mereka pun berbagi tugas. Arnaud akan menyiapkan tempat sedangkan Pak Sis mengkomunikasik-kan gagasan ini kepada komunitas supermoto lain, seperti SMI, SMOG, Kracker dan Indoc. Setelah dua kali pertemuan akhirnya diperoleh kesepakatan tentang : tempat dan tanggal, aturan main dan sebagainya.
Yang menarik adalah aturan main. Karena saat itu Arnaud menyadari keterbatasan tempat yang akan dijadikan arena serta kenyataan bahwa mayoritas peserta mengunakan supermoto dengan kapasitas mesin dibawah 250cc. Maka duel ala Gymkhana di jalur kembar untuk meminimalisasi tabrakan antar peserta adalah yang terbaik.

gsd-5

Gymkhana atau slalom adalah kompetisi yang menekankan ketrampilan mengendalikan motor untuk bermanuver di lintasan yang rumit. Tentunya hal ini langsung diprotes oleh yang lain karena ‘karakter’ supermoto justru tidak bisa terlihat. Setelah melalui perdebatan panjang dan saling adu argumentasi maka disepakati untuk membuat sebuah kompetisi supermoto yang sederhana. yaitu memadukan gymkhana dengan supermoto-race agar bisa memanfaatkan lahan sempit di perkotaan. pertarungan pun dibuat ala duel 1 lawan 1 dgn sistem-gugur, lintasan juga dibuat terpisah untuk menghindari tabrakan antar peserta.

….akhirnya sebuah rancang bangun arena-supermoto pun terwujud diatas lahan parkir Scientia Squere Park – Serpong yang luasnya hanya separuh lapangan sepak-bola. Sedangkan untuk membuat lintasan cukup mengunakan ; cone, tali-rafia, lakban dan 6 papan loncat.. sederhana, mudah dan murah namun effektif.

gsd-6

Sekarang terwujudlah arena supermoto yang aman ala negeri ini yang merupakan kombinasi lintasan lurus dan lintasan berbentuk ‘S’sepanjang 80 meter. Taburan berbagai jenis kelokan tajam mulai yang berbentuk L, U, V untuk memaksa peserta bermanuver habis-habisan. Serta penghalang berupa putaran 360 derajat dan 3 buah papan loncat setinggi 30cm yang disusun berderet untuk menjegal para peserta. .
Benar… dengan segala kekurangan justru menjadi kelebihannya. Disini meskipun kecepatan maksimal hanya bisa dicapai sekitar 70 km/jam, namun sempitnya arena membuat teknik mengendarai motor menjadi penting karena peserta terpaksa harus bermanuver dgn cepat. cerdas dan aman.Sedangkan untuk kelas hanya dibagi menjadi dua, yaitu mesin 4-tak berkapasitas dibawah 150cc. Dan mesin 4-tak berkapasitas sampai dengan 250cc. Syarat lainnya tidak ada.

########

Kamis malam, tanggal 4 Juni 2015 dilakukan uji-coba arena di lapangan parkir yang permukaannya dilapisi conblock. Malam itu Arnaud melakukan uji-coba hanya mengunakan garis-garis ‘imajiner’ atau garis garis khayal. Namun untuk papan loncat dilakukan uji-coba yang sebenarnya karena ternyata papannya sudah selesai dibuat dibengkel las.
Esok malamnya arena supermoto bisa dibuat hanya dalam waktu 4 jam saja. Dan nantinya ternyata sanggup dibongkar lagi hanya dalam waktu satu jam saja. Sambil menyempurnakan arena, banyak calon peserta sudah bisa apabila ingin mencicipi arena ‘knock-down’ ini.
Hari pelaksanaan atau tanggal 6 Juni 2015. Sejak dini hari peserta sudah mulai berdatangan. Dengan sigap panitia dibentuk secara darurat yang sebagian besar diisi anak-anak dari SMI. Namun ketika anak-anak dari Kracker datang mereka pun dengan sigap melebur membentuk panitia. Administrasi, komando arena, marshall, hingga medical dengan cepat dibentuk tanpa banyak formalitas. Intinya semua bergerak dengan inisiatif kegotong-royongan.

gsd-7 gsd-8

Free Practise, Dari jam 8 pagi hingga jam 12 siang peserta diberi kesempatan untuk mencoba lintasan untuk pengenalan. Selanjutnya antara jam 1 sampai jam 2 siang dilanjutkan dengan Time Practise atau mencoba mengolongkan peserta ke dalam dua kelompok. Yaitu kelompok ‘kura-kura’ untuk peserta yang lambat melibas arena, dan kelompok ‘kelinci’ untuk peserta yang cepat melibas arena. Tujuan pengolongan ini agar kompetisi menjadi menarik karena selisih kemampuan diantara para peserta tidak terlalu jauh, sehingga balapan pun menjadi seru. Terakhir adalah Race-Practise dimana kelompok ‘kura-kura’ sudah terseleksi sehingga tinggal kelompok ‘kelinci’ yang akan saling bertarung. 
Bisa dikatakan hari itu adalah hari-nya supermoto di negeri ini. Dimana batas komunitas menjadi luntur karena sudah disatukan kedalam tunggangan yang sama ; supermoto. Jadi bisa dikatakan sebuah kompetisi supermoto yang sesunguhnya, yang dibuat sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada….telah dipertontonkan dihadapan KOMUNITAS SUPERMOTO!

gsd-9 gsd-10

….dan tampaknya kompetisi ini telah menginsipirasi komunitas Supermoto untuk berinisiatif membuat kompetisi supermoto yang lebih masif dan seru di tahun 2016 nanti. Semoga perjuangan mereka berhasil sehingga revolusi supermoto bisa bergulir di negeri ini!

]]>
http://smoger.com/2015/12/17/ghymkhana-supermoto-duel/feed/ 0
Wild Wild West – Java http://smoger.com/2015/05/19/wild-wild-west-java/ http://smoger.com/2015/05/19/wild-wild-west-java/#respond Tue, 19 May 2015 16:28:49 +0000 http://963.658.myftpupload.com/?p=1121 Jakarta-Citorek-Ciptagelar-Pelabuhanratu
Trouble is a friend…seolah lagu satir yang dilantunkan Lenka bisa mengambarkan apabila sudah takdirnya, maka tidak peduli seberapa tangguhnya supermoto tetap saja mesti rontok saat jalanan menjadi tidak bersahabat….
Dan mimpi buruk itu benar-benar terjadi dalam perjalanan mengunjungi desa adat Citorek dan Ciptagelar. Bisa jadi kami telah meremehkan rute yang sudah beberapa kali dilewati ini, sampai jalanan yang sebelumnya ramah tiba-tiba menghajar kami tanpa ampun. Disini kami dipaksa menembus batas kemampuan fisik, mental dan motor kami.
wwwj-1

Jakarta-Bogor-Leuwiliang-Cipanas

21 Maret 2015, Sabtu pagi kami sudah berkumpul di jalan raya Bogor-Labuan, tepatnya di depan Institut Pertanian Bogor. Terus terang perjalanan kali hanya dengan persiapan seadanya bahkan terkesan dipaksakan. Setelah malamnya diputuskan, langsung tergesa-gesa mempersiapkan motor, peralatan dan perlengkapan.
Subuh menjelang keberangkatan baru disadari baut kopling KTM 200Duke tunggangan Pak ketua Indoc Eko hilang, sehingga terpaksa diganjal dengan paku. Kang Pri dari Pulsarian Tangerang Selatan bahkan belum sempat menganti ban offroad bawaan Monstrack 200 yang baru dibelinya, dengan ban onroad. Novan sendiri baru semalam mengambil Hyosung 125SM yang bahkan belum dicobanya, cukup percaya dengan pemilik motor yaitu Kang Sigit yang katanya semuanya beres. Bahkan Pak Sis baru subuhnya berhasil menambal radiator KTM 250EXC-F yang sudah dimodifikasi menjadi supermoto.
wwwj-2
Begitu pula dengan perlengkapan karena meskipun sejak semalam hujan turun, namun dengan percaya dirinya Novan tidak membawa raincoat. Bahkan ketika diingatkan tetap tidak berusaha mencari pinjaman atau membeli di jalan. Begitu pula dengan Pak Eko dan Kang Pri yang tidak membawa pakaian ganti. Bahkan Pak Sis juga tidak membawa peralatan dan suku cadang motornya yang khusus.
Bisa dikatakan keyakinan untuk mencapai tujuan sesuai target begitu besar. Sehingga setelah sarapan, Pak Eko dan Pak Sis yang baru saling mengenal berusaha saling unjuk gigi dengan kebut-kebutan selepas Leuwiliang hingga melewati perbatasan Jawa Barat dengan Banten. Di persimpangan Cipanas disempatkan untuk membeli bekal buat makan siang karena di Citorek tidak terdapat warung makan.
Memang di wilayah itu penduduknya masih teguh pada adat-istiadat. Dimana warganya dilarang menjual padi atau nasi. Hal ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang bertujuan untuk menjaga swasembada pangan dan mengurangi ketergantungan pada pasar kapitalis.

Cipanas-Citorek

Memasuki jalan desa yang menerobos perbukitan, kembali Pak Sis dan Pak Eko saling adu gengsi dengan menunjukan kebolehan memacu motornya. Sedangkan Novan dan Kang Pri yang menyadari motor mereka lebih inferior memilih menjadi pelancong yang berusaha menikmati panorama parahiyangan yang permai.
Awalnya jalanan masih campran aspal dan beton, yang meskipun konturnya naik-turun serta berkelak-kelok namun kondisinya cukup baik. Lalu lintasnya juga sangat sepi sehingga cocok dijjadikan arena kebut-kebutan liar. Mendekati Citorek, begitu melewati puncak tanyakan tiba-tiba kondisi jalanan yang sebelumnya bagus kini berubah menjadi jalur rusak. Pak Sis yang saat itu berada didepan dengan sigap berdiri diatas footstep untuk mengantisipasi benturan. Dan melepaskan gas untuk menurunkan kecepatan, sambil menurunkan gigi-perneling untuk memanfaatkan engine break yang mampu memperlambat motor dengan aman..
wwwj-3
Melihat hal itu Pak Eko yang menempel dibelakang berusaha mengikuti….sialnya dedengkot Duke ini lupa bahwa postur KTM 200Duke yang pendek tidak memungkinkan melakukan hal itu dengan effektif, apalagi suspensi motornya tidak dirancang buat jalur offroad. Akibatnya motor dan penungganya jadi terpental-pental seperti bola karet dan kehilangan kendali!. ….keluar dari jalan, menerjang tanggul tanah irigasi,…dan mendarat di sawah diseberangnya…diantara tanaman padi hijau yang subur milik Pak Tani.
Pak Sis yang sempat melihat rekan sekaligus lawannya berakrobat sampai keluar dari lintasan… kini berusaha menghentikan motornya didasar turunan. Selanjutnya berlari untuk menolong Pak Eko yang masih tiduran di rerumputan pematang sawah. Beruntung ia mengenakan helm, dan body-protector sehingga hanya terkilir kakinya dan memar-memar. Tidak lama kemudian Novan dan Kang Pri yang tadi ada dibelakang, juga menghentikan motornya, dan bergegas mengevakuasi motor Pak Eko.
Selain dudukan footstep depan yang patah, motor tersebut tidak rusak dan bisa meneruskan perjalanan sampai desa Citorek. Namun karena masih bisa digunakan diputuskan untuk menuju desa Citorek yang sudah tidak terlalu jauh karena disana ada bengkel motor.
Citorek adalah desa yang terisolir di pedalaman Banten. Berada di sebuah lembah yang subur, yang dikelilingi oleh pegunungan. Lokasinya sulit dicapai dari jalan raya Bogor-Labuan karena medannya berbukit-bukit. Meskipun jalan disini sudah diaspal atau dibeton, namun karena kondisi tanah dan cuaca membuatnya tidak awet. Sehingga tidak bisa dipastikan dalam suatu saat kondisi jalannya baik atau buruk.
Masyarakat Sunda disini meskipun sudah beragama Islam, namun tetap teguh memegang adat-istiadat setempat. Sebagian besar mata pencarian mereka adalah bertani, namun berbeda dengan daerah lain di negeri ini. Mereka oleh adat dilarang mengekploitasi tanah. Padi hanya boleh ditanam setahun sekali dan hasilnya tidak boleh dijual. Tujuannya untuk ketahanan pangan. Air ditempat ini yang melimpah memungkinkan saat tidak ditanami padi, sawah tadi dirubah menjadi kolam ikan.
Pegunungan di selatan desa ini mengandung cadangan emas. Sehingga warga disini banyak yang berprofesi sebagai penambang emas liar. Dulunya memang dikelola oleh PT. Aneka Tambang, namun karena dianggap tidak ekonomis sejak tahun 1990-an dihentikan penambangannya. Selanjutnya lubang-lubang bekas galian emas yang menembus ratusan meter kedalam tanah, dan menjulur ribuan meter ke berbagai arah dimanfaatkan oleh warga.
Pekerjaan ini berbahaya sehingga banyak korban yang meninggal. Namun resikonya dianggap sebanding dengan hasil yang dicapai. Jadi meskipun terpencil, ekonomi warganya termasuk makmur dibandingkan desa-desa kebanyakan. Disini rumah-rumah modern banyak dijumpai, begitu pula kendaraan yang terparkir cukup mewah.
wwwj-4

Citorek-Warung Banten

Disebuah bengkel motor konvoi berhenti untuk memperbaiki motor sebisanya. Kemudian berpindah ke pelataran toko diujung desa yang lebih nyaman untuk beristirahat. Disini Pak Eko yang masih shock sempat diurut untuk mengurangi sakitnya. Selama beristirahat Pak Eko hanya pasrah menjadi bahan ledekan kami, sesuatu yang akan sangat kami sesali!.
Tengah hari, meskipun langit mulai gelap dan hujan mulai turun. Diputuskan untuk melanjutkan perjalanan. Semua sudah mengenakan raincoat kecuali Topan yang memang tidak membawanya. Menimbang kondisi motor dan penunggannya, Pak Eko kini berada di posisi depan dan yang lain mengikuti pada jarak yang tidak terlalu jauh.
Sejak Citorek jalan aspal berubah menjadi jalan batu yang kasar. Hujan yang turun ikut andil merubahnya menjadi mirip sungai kecil. Setelah melewati sebuah kampung kecil dan melintasi jembatan yang disungainya banyak terlihat para penambang emas liar sedang beraktivitas. Konvoi langsung dihadang tanyakan curam dan panjang. Pak Eko yang berada di depan, mungkin karena kakinya bisa menapak sempurna kalau motornya tidak terlalu tinggi bisa lolos dan terus melaju. Beruntung karena sudah mengunakan engine-guard dari aluminium untuk melindungi perut mesinnya, yang kini berfungsi membetengi batu-batu sebesar kelapa.
wwwj-5
Dibelakangnya Pak Sis membuntuti. Namun karena motornya mengunakan ban tubeless yang tidak bisa dikempesin, membuatnya kesulitan saat menanjak diantara jalan batu yang licin…hingga harus rubuh berkali-kali. Sedangkan Kang Pri yang mengunakan ban pacul meskipun sudah dikempeskan, namun permukaannya yang kasar justru membuatnya terpeleset saat tersangkut bebatuan yang licin. Nasib yang sama dialami Novan yang ban supermotonya juga tubeless.
Tidak hanya itu karena kampas koplingnya juga terbakar sehingga, meskipun masih bisa berjalan namun tenaga mesin tinggal 20%nya saja…..padahal jalan baru mulai mendaki. Hampir sejam ketiga pengendara itu mesti jatuh bangun, bahu membahu mendorong motor dibawah guyuran hujan dipegunungan sepi yang dingin dan berkabut ini. Akhirnya disebuah dataran sempit, bertiga langsung rubuh kehabisan stamina. Sedangkan Pak Eko yang tidak menyadari kondisi rekan-rekannya terus tancap gas seolah tanpa dosa saja.
Selain itu sinyal handphone dipegunungan ini sering lenyap…sehingga tidak bisa saling berkomunikasi. Seharusnya masih memungkinkan untuk berbalik menuju Citorek yang berjarak lima kilometer karena jalannya menurun. Namun karena mengkuatirkan Pak Eko yang hilang ditelan hutan akhirnya diputuskan untuk tetap membuntutinya, meskipun sadar peradaban terdekat adalah Warung Banten yang jaraknya tiga puluh kilometer lagi.
…tiga puluh kilometer yang separuhnya adalah tanyakan curam dan panjang!. Yang bila mengunakan motor sehat saja akan menyulitkan karena beratnya medan. Sekarang bertiga harus bergantian menghela dan mendorong Hyosung 125SM yang mesinnya 80% lumpuh!.
Sambil makan siang bekal yang dibeli di Cipanas tadi pagi, Novan menceritakan bahwa warga disini tidak ramah terhadap pendatang, Bisa jadi selain karena budayanya yang berbeda, juga karena tanah disini mengandung emas. Namun ternyata dia salah!.
Justru di dalam kesulitan ditengah pegunungan yang sepi dan terisolir di tengahnya tanah Parahiyangan pengendara-pengendara ini bisa melihat kearifan lokal dan keluhuran waraganya. Dimulai dari seorang pelintas yang lewat yang membantu mengendorkan kabel kopling Hyosung sehingga bisa berjalan kembali. Yang selanjutnya beliau bergegas menyusul Pak Eko yang sudah jauh didepan. Nantinya setelah bertemu bapak ini menemani Pak Eko yang terdampar sendirian di jalanan yang asing dan menunggu rekan-rekannya di Warung Banten.
Saat hujan mulai reda, perjalanan diteruskan hanya untuk dihadang lagi oleh tanjakan terjal dan panjang. Terpaksa harus memeras stamina sampai kering, saat mati-matian menghela motor melewatinya. Tiba-tiba serombongan penambang emas liar dengan suka rela membantu mengantikan kami mendorong motor menaiki tanyakan hingga sampai di puncaknya. Disana kami berpisah karena mereka harus masuk ke semak-semak untuk mencapai tambangnya yang berbahaya.
Sekarang kami sampai di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan jalan disini sudah tidak terlalu terjal, bahkan permukaannya pun sudah dibeton. Beberapa kilometer kemudian jalanan mulai menuruni lereng selatan pegunungan ini. Jalanan beton pun habis dan kembali menjadi jalan batu dengan ceceran tanah bekas tanah longsor.
Namun sesampainya didasar lembah, setelah melintasi jembatan kayu jalanan kembali menanjak. Terpaksa motor dihela dan didorong sampai kehabisan nafas. Saat nyaris menyerah, tiba-tiba muncul sebuah pick-up pengangkut logistik yang bersedia mengangkut motor yang rusak. Karena tidak ada tali untuk mengikatnya, terpaksa pemilik mobil berpindah ke bak, dan bersama Novan yang nyaris pingsan karena kelelahan untuk memegangi motor. Sungguh pengalaman berpetualang yang mengerikan saat mesti menahan Hyosung dengan tangan diatas bak pick-up yang terbuka saat mendaki lereng yang kemiringannya nyaris tegal lurus!. Belum lagi permukaan jalan batunya tidak rata…dan jurang yang menggangnga ratusan meter beberapa jengkal disamping kiri!.
Karena tujuan pick-up itu hanya Cirotan yang merupakan base-camp para penambang emas liar. Ketiganya pun kembali melanjutkan perjalanan karena jalan kembali menurun. Saat itu sudah sore dan langit kembali gelap dan benar saja hujan kembali ditumpahkan dari langit. Saat itu kami sampai di sebuah dusun kecil dan berteduh di warung kopi. Ternyata tadi Pak Eko bersama dengan Bapak yang menolong kami juga beristirahat dan makan siang disini. Tentu saja karena bekal Pak Eko dibawa oleh Topan, sehingga selama tiga jam harus menahan lapar selama di pegunungan.
Di tempat itu kami bertemu dengan seorang Bapak yang tadi ternyata melihat kami saat di Cirotan, dan dari pemilik Pick up sudah mendengar kisah kami. Karena iba beliau menawarkan untuk mengantikan Novan menghela Hyosung yang kini nyaris lumpuh, dan menyerahkan motor maticnya. Setelah hujan reda, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Warung Banten yang masih sekitar sepuluh kilometer lagi.
Bapak itu berkisah bahwa selama sepuluh tahun tidak pernah membawa motor laki, hanya motor bebek terus dan bahkan baru kali ini naik supermoto. Namun dengan mesin yang nyaris lumpuh, dengan lincah menuruni lereng demi lereng yang jalurnya sulit. Bahkan tidak terkejar oleh Novan, kang Pri atau Pak Sis sekalipun yang motornya lebih superior.
Magrib mereka sampai di Warung Banten dan menemukan sebuah bengkel yang masih buka…dan beruntungnya memiliki persediaan kampas kopling Suzuki Satria FU yang sama persis dengan milik Hyosung. Karena disini ada sinyal, Pak Eko dan Bapak yang menemaninya sejak digunung tadi akhirnya bisa bergabung kembali dengan yang lain. Disini kedua bapak yang baik itu melanjutkan perjalanan ke kediamanannya di desa lain. Sedangkan penunggang-penunggang motor ini berniat menuntaskan perjalanan menuju Ciptagelar meskipun hari sudah malam dan gerimis kembali turun.
wwwj-6

Bermalam di Cikotok

Namun tiba-tiba saja lampu utama KTM 250EXC-F Pak Sis padam padahal dipegunungan ini sangat gelap. Sedangkan lampunya khusus sehingga tidak tersedia disini, akhirnya oleh pemilik bengkel disarankan untuk bermalam di Cikotok yang berjarak tiga kilometer di selatan karena disana terdapat sebuah wisma milik perusahaan tambang emas yang bisa disewakan.
Karena malam itu sangat sepi dan gelap dan letak wisma itu jauh dari jalan raya setelah berputar-putar akhirnya bisa ketemu juga. Segera dibuka tiga kamar seharga Rp75.000 semalam perkamar. Satu untuk Pak Sis dan Novan, satu lagi untuk Pak Eko dan Kang Pri dan kamar ketiga untuk keempat tunggangan kami!.
Beruntung didekat tempat ini masih ada warung makan yang buka meskipun tinggal ada tiga potong ayam gulai dan sebuah telur bumbu-bali, yang malam ini terasa lezat sekali. Selain itu ternyata penjaganya bersedia mencarikan nenek-nenek tukang-urut untuk mengilir tubuh yang terkilir, kaku dan pegal-pegal ini. Suasana bertambah meriah karena tiba-tiba listrik ditempat itu mati sehingga acara pijat-urut hanya diterangi cahaya lilin sehingga menambah kesan romantis saja.
wwwj-7

Cikotok-Cikadu

Setelah pulas beristirahat semalaman, minggu paginya perjalanan diteruskan setelah sarapan disebuah warung kecil, yang juga menjual bahan bakar sehingga motor-motor pun bisa dipenuhi tangkinya karena diwilayah ini tidak ada SPBU.
Setelah meliuk-liuk di jalan aspal yang mulus dan sepi dengan panorama pedalaman sunda yang mempesona, sampailah di Cikadu yg menjadi pintu masuk ke Ciptagelar dari arah Provinsi Banten. Selama ini kebanyakan pengunjung memasuki Ciptagelar melalui Provinsi Jawa Barat. Disana ada dua jalur yaitu melewati Pelabuhanratu atau melalui Cicadas di utara Cisolok.
wwwj-8
Melihat kondisi motor yang tanpa rem-belakang lagi dan cedera Pak Eko yang terlihat semakin parah, namun tetap keras kepala untuk meneruskan perjalanan. Akhirnya dengan keras Novan mengancam tidak akan meneruskan perjalanan kalau Pak Eko tidak mau menuruti untuk meninggalkan motornya dan berganti menyewa tukang ojek lokal!. ….akhirnya Pak Eko menyerah dan perjalanan kembali dilanjutkan.

Cikadu-Ciptagelar

wwwj-9
Keluar dari jalan raya langsung disambut jalanan batu yang menyusuri tebing curam dan panjang, hingga sampai didasar jurang dan melintasi pedesaan Sunda yang asri. Selama ini Novan terlalu sering mengunakan rem-belakang yang ternyata memiliki double-kaliper yang dirancang untuk kompetisi….dan disinilah awal dari musibah dimulai kembali!.
Ternyata rem jenis itu bila digunakan terlalu sering dan lama, meskipun pakem namun menjadi cepat panas. Akibatnya tanpa sadar rem menjadi terkunci dan mesin seolah menjadi tidak bertenaga. Akhirnya beberapa kali gagal melibas tanyakan dan mesti rubuh.
Kembali petani-petani yang kebetulan melintas dengan sigap menolong melewati tanyakan yang terjal dan panjang. Bahkan Pak Sis dan Kang Pri pun ternyata juga mengalami hal yang sama. Hanya Pak Eko yang mengunakan joki yang menunggangi Honda GL-Pro yang sudah dimodifikasi ukuran gir rantainya….yang meskipun berboncengan bisa melewati tanyakan dengan mudah.
Akhirnya sampailah di punggung perbukitan yang seolah menjadi gerbang desa Ciptagelar dibawahnya. Dipinggiran desa Novan berhenti disebuah bengkel sederhana untuk menganti kampas rem belakang yang habis sekaligus memperbaiki dan melumasi silindernya yang berkarat. Setelah selesai bergegas menyusul yang lain melewati jalanan desa yang sebagian tertutup lumpur yang basah oleh hujan sehingga licin.
Sempat terlihat bekas motor Pak Sis yang rubuh karena terpeleset saat menanjaki lereng di bawah gerbang komplek istana negeri Sunda yang hilang, Ciptagelar. Namun karena memasuki tempat ini lewat jalur Cikadu maka akan muncul melalui dapur belakang ,yang oleh Pak Eko dan Kang Pri langsung berhenti dan berfoto-foto untuk merayakan keberhasilannya….Sampai bapak tukang ojek mengingatkan bahwa tempat ini adalah dapur, sedangkan bagian depan komplek ada di sebaliknya…..
Penunggang-penunggang inipun sampai di alun-alun komplek Ciptagelar dan disambut serta di persilahkan untuk beristirahat di Imah Gede oleh Aki Katna dan Kang Yoyo mewakili tuan rumah. Ketika melihat cedera Pak Eko, dimintalah seorang tabib setempat untuk mengurut kaki dan pinggangnya agar menjadi lebih baik. Setelah itu acara dilanjutkan dengan bincang-bincang hangat ditemani kopi panas ditengah pedesaan yang sejuk dan tentram ini.
Tengah harinya tamu-tamu dari Jakarta ini dipersilahkan untuk makan siang dengan hidangan nasi liwet yang masih mengepulkan asap dan disajikan dalam “wadah dari anyaman bamboo” serta dialasi daun pisang, sayur bening dengan potongan sayur oyong yg segar, dengan lauk ikan tongkol asin, ditemani sambal uleg-mentah, …. Seolah di desa yg tersembunyi oleh alam ini mampu membuat kami sedemikian tersanjungnya menjadi tamu-istimewa….
wwwj-10
Sesudah makan kami dipersilahkan bertemu dengan pimpinan tempat ini yang dikenal dengan panggilan Abah Ugi. Sebagai pemimpin adat dan pemimpin spiritual tidak sembarangan orang bisa menemuinya. Dan bila menemui beliau harus mengunakan tata-cara tertentu. Karena itu sebelum bertemu Kang Yoyo mengajarkan kepada kami bagaimana cara bersalaman sekaligus menerangkan maknanya.
Selanjutnya kami diantar ke tempat Abah yang saat itu sedang mengawasi warganya yang sedang bekerja di salah satu rumah panggung. Sempat kami utarakan kedatangan kami adalah untuk napak tilas perjalanan yang sama setahun yang lalu, dimana saat itu kami memutuskan untuk memilih foto panorama punggungan pegunungan yang menjadi pintu gerbang ke Cipta Gelar tidak jauh dari tempat ini, kami jadikan cover buku Jurnal Supermoto Tepian Jawa yang mewakili nuansa sakral diwilayah tepian Jawa.
Setelah beramah tamah akhirnya kami pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta. Setelah menerima petuah dalam bahasa Sunda yang kurang kami mengerti, dan setelah beramah tamah akhirnya kami mohon diri untuk pulang ke Jakarta. Meskipun ada jalur lain menuju Pelabuhanratu yang kami pilih untuk rute pulangnya. Namun kami harus ke Cikadu dahulu untuk mengambil motor Pak Eko yang dititipkan di rumah bapak tukang ojek. Selain itu kami mendapat khabar bahwa ada dua rekan Kang Pri yang menunggu disana setelah berusaha menyusul kami kemarin namun tidak bertemu.
wwwj-11
Namun disebuah persimpangan di tengah desa Kang Pri karena keasikan menengok gadis-gadis dan ibu-ibu yang sedang menumbuk padi, ….tidak melihart bahwa Pak Eko yang diboncengkan tukang Ojek dan Pak Sis berbelok ke kanan. Akibatnya diambilnya jalan yang lurus, beruntung Novan yang berada paling belakang melihatnya dan mengejar. Baru bisa menyusulnya setelah Kang Pri kebingungan ketika menemukan persimpangan di pinggir desa. Bila ke kiri akan sampai di Cicadas di utara Cisolok, sedangkan bila lurus dan menuruni tebing yang jalannya hancur akan bertemu jalan utama.
Sesampainya dipersimpangan karena tidak yakin apakah Pak Eko dan Pak Sis sudah lewat, ditanyakanlah kepada seorang nenek-nenek yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Dan hanya menjawab dengan gelengan kepala yang salah dikira yang lain belum lewat. Setelah ditunggu lima belas menit tidak muncul juga, akhirnya Kang Pri berinisiatif menanyakan ke warga yang lewat yang ternyata melihat Pak Eko dan Pak Sis sudah jauh didepan. Sambil menyumpahi nenek tadi yang Cuma nyengar-nyengir, Novan dan Kang Pri bergegas menyusul.
Namun karena hujan turun disempatkan berhenti disebuah warung kopi yang penjualnya teteh muda yang cantik dan seksi. Sayang ada suaminya sehingga tidak berani mengodanya. Setelah hujan reda bergegas menyusul yang lain. Sesampainya di tanyakan Cikadu tiba-tiba rantai motor Monstrac Kang Pri putus, padahal tidak membawa sambungan rantai. Namun beruntung karena ada warga yang lewat dan ternyata memiliki sambungan rantai yang sama…sehingga perjalanan pun dilanjutkan.
Di Cikadu akhirnya mereka berempat berkumpul kembali kemudian bersama-sama melanjutkan perjalanan pulang… Ternyata disana sudah ada dua rekan Mas Pri yang menunggu untuk bersama-sama menuju Jakarta. Awalnya mereka juga ingin ke Ciptagelar, namun karena tertinggal akibat ada urusan lain akhirnya menyusul dan menunggu kami berempat di rumah bapak tukang ojek, yang konon anak gadisnya berparas manis.

Trouble are our friends

Karena ada beberapa perbaikan yang harus dilakukan terhadp monstrac kang Pri dan Duke Pak Eko. Maka Pak Sis memutuskan untuk memisahkan diri agar bisa mencari lampu motor di Cisolok. Namun karena disana tidak ada yang menjual, juga di Pelabuhan ratu. Karena hari belum gelap diputuskan untuk menuju Cibadak. Namun sampai Cikidang hari sudah gelap sehingga Pak Sis terpaksa bermotor hanya mengunakan lampu sinyal sambil mengikuti truk yang kebetulan searah. Di Cibadak, atas bantuan seorang tukang ojek akhirnya lampu yang dicari bisa didapat, sehingga KTM 250EXC-F tidak buta lagi dan bisa meneruskan perjalanan menuju Bogor kemudian Jakarta.
wwwj-12
Sedangkan yang lain karena tidak butru-buru disempatkan berhenti dulu di Cisolok untuk minum kopi. Kemudian makan ikan bakar di Pelabuhanratu. Saat itu didapat khabar Pak Sis sudah sampai Jakarta sehingga ketika yang lain sampai di Bogor diputuskan untuk kongkow-kongkow dulu, dan selepas tengah malam baru mengarah ke Jakarta.
……
Benar, perjalanan bermotor ke tempat yang jauh itu sebenarnya melelahkan, menyakitkan dan tidak nyaman. Namun akan hilang sesudah kita bisa kembali ke rumah dengan selamat, meskipun selama perjalanan harus babak-belur dihajar jalanan. Apalagi kalau perjalanan tadi kita kenang saat kita bersantai atau bercengkrama …pasti semua yang menyakitkan tadi berubah menjadi kenangan yang indah dan membuat kangen!.
]]>
http://smoger.com/2015/05/19/wild-wild-west-java/feed/ 0
Ekspedisi Pamalayu, perjalanan mengunjungi negeri Melayu http://smoger.com/2015/02/14/ekspedisi-pamalayu-perjalanan-mengunjungi-negeri-melayu/ http://smoger.com/2015/02/14/ekspedisi-pamalayu-perjalanan-mengunjungi-negeri-melayu/#respond Sat, 14 Feb 2015 16:41:38 +0000 http://963.658.myftpupload.com/?p=1135
pamalayu1

“Sebenarnya untuk melakukan perjalan bermotor, tidak perlu apapun!, …. cukup sebuah tekad sekeras baja-titanium. Itu saja!”

JAKARTA – MERAK

Memang sebulan sebelumnya pernah membicarakan sebuah perjalanan ke Sumatera melalui lintas-timur untuk melengkapi penulisan buku Jurnal Supermoto yang kedua. Benar, hanya sebatas itu saja kesepakatan yang dihasilkan, sedangkan siapa pesertanya, kapan waktunya, dan bagaimana pelaksanaan-nya… belum dibahas, bahkan tujuannya pun belum disepakati!, ..apakah hanya sampai Lampung?, Palembang?, Jambi, atau entah sampai mana!.
Baru pada hari Jumat tanggal 21 november 2014 kepastian keberangkatan didapat!, …dan itu berarti tiga hari lagi!. Lokasi tempat kumpul juga disepakati di kediaman Pak Sis, karena dari sana akan datang mobil pengangkut motor yang dipinjam Pak sis dari teman lamanya yang memiliki dealer motor besar. Sedangkan peserta yang pasti ikut ada empat orang, yaitu : Pak Sis,  Mario, Yogie dan Novan. Yang lain masih menunggu konfirmasi.
Jum’at, 21/11/2014 di hari H, Sambil menunggu datangnya mobil pengangkut motor, diisi dengan percakapan hangat. Saat itu ada tambahan satu peserta lagi yaitu Ramadhan, sehingga yang akan berangkat menjadi lima orang. Kepastian bergabungnya baru didapat sore ini setelah berhasil membereskan KTM 200 Duke yang baru turun mesin, karena mengalami kebocoran seal radiator sehingga olie tercampur air. Selain itu ternyata ijin cuti Ramadhan sampai hari ini belum didapat, sehingga baru sore tadi baru bisa memberi kepastian ikut. Tentu saja  tanpa ada restu atasan.
Ternyata apa yang dialami Ramadan menjadi awal terungkap kekacauan yang menimpa yang lainnya. Ternyata sebelum keberangkatan masing masing peserta mempunyai kendala yang harus diselesaikan. Mario sebelumnya sudah berusaha untuk memperbaiki Sumo SUZUKI DRZ 400, tetapi sampai seminggu sebelum berangkat belum bisa selesai karena ada sparepart yang belum datang. Akhirnya diputuskan untuk memakai Yamaha Tenere 600cc yang sudah dilengkapi dengan side box sehingga bisa difungsikan sebagai motor logistic.
Husqvarna 610 SM Milik Pak Ustad ( Yogie ) yang baru saja digunakan mengelilingi pulau Madura, hanya sempat dicek kelistrikannya saja. Memang dalam perjalanan itu sempat mengalami trouble, yaitu Accu-nya mendadak mati. Sama seperti Pak Sis yang juga berpartisipasi mengililingi Madura dengan Honda XR 650R, juga harus membenahi radiator karena bocor terkena baut kipas. KTM 250 EXC yang ditunggangi Novan sendiri juga bikin ulah karena baut pada dudukan setandar patah terus, meskipun sudah diganti baut baja yang kuat sampai tiga kali. Bisa dikatakan selama perjalanan motor itu harus diganjal batu agar setandar bisa menopang motor dengan kuat. Nantinya baru diketahui kalau ternyata ada per-penahan yang hilang sehingga setandar tidak bisa berfungsi maksimal.
Itu baru motor, belum masalah yang dihadapi penunggangnya. Mario terkendala jadwal pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum bisa bergabung, demikian juga dengan yang dialami Pak Ustad yang dipusingkan dengan jadwal waktunya. Pak Sis juga harus menyesuaikan waktu cutinya dengan pekerjaan kantor yang harus diselesaikan sebelum akhir tahun. Sedang Novan lebih parah lagi karena sore tadi anaknya harus masuk rumah sakit karena demam yang tinggi. Mungkin hanya komitmen yang membuat kami bisa memiliki tekad baja untuk melakukan perjalanan ini.
Malam itu juga diperoleh khabar bila ada team lain yang akan  bergabung dan langsung menuju Merak, meskipun belum bisa dipastikan. Sejam kemudian kami berangkat dengan dua mobil ; satu untuk mengangkut penumpang, dan yang lain untuk mengangkut serta menarik trailer yang berisi motor.

MERAK – BAKAUHENI

Sabtu, 22/11/2014, Selepas tengah malam rombongan sampai di Merak, dan langsung menurunkan motor dari mobil pengangkut. Karena Novan yang paling mengenal tempat ini maka yang lain mengikuti kemudian bergegas ke pelabuhan untuk membeli tiket penyeberangan. Setelah itu segera menuju dermaga yang saat itu cukup ramai oleh kendaraan yang mengantri di depan ferry yang sedang membongkar muatan. Disini tampak sekali keunggulan motor yang tidak perlu antri karena bisa menyodok langsung ke depan.
Pada pukul 02.00 WIB, Ternyata didalam perut kapal hanya ada Novan dan Pak Ustad, sedangkan yang lain tidak tampak. Baru disadari tadi mereka berdua terlalu keasikan meliuk-liuk dan menyelinap di antara antrian truk, bus, pick-up dan mobil …sehingga lupa bahwa Yamaha Tenere tunggangan  Mario tersangkut di antara celah kendaraan yang membentuk lorong sempit. Dan karena posisinya tepat di belakang Pak Ustad yang membuntuti Novan, membuat  lorong pun tersumbat. Akibatnya dua motor yang paling belakang, Pak Sis dan Ramadhan ikut terhalang. Terpaksa mereka bertiga memutar mencari-cari lorong agar bisa menyodok antrian kendaraan.
Dengan bobot dua kuital membuat Yamaha Tenere paling tambun diantara supermoto yang lain. Apalagi tambahan side-box membuat posturnya menjadi semakin gemuk. Tentunya membuat motor ini kerepotan mengikuti supermoto yang ramping dan gesit, ketika diajak menyelinap di antara kemacetan lalu lintas atau melintasi gang-gang dan jalan tikus di perkotaan. Meskipun demikian, kemampuan angkutnya terhitung luar biasa untuk ukuran motor. Sehingga selain memuat semua logistik yang dibawa Mario, juga  masih mampu dijejali sebagian logistik milik Pak Sis dan Pak Ustad.
Setelah memarkir dan membongkar bagasi yang berupa tas ransel kecuali Mario, yang kini keropotan harus membawa dua box ditambah dry-bag sehingga harus dibantu yang lain. Sasaran selanjutnya adalah menemukan ruangan yang nyaman untuk beristirahat. Beruntung masih mendapatkan ruang lesehan sehingga menjamin bisa tidur dengan nyenyak  selama pelayaran.
pamalayu-2

BAKAUHENI-SUKADANA-MENGALA –PALEMBANG

Pukul 05.00 WIB, Kapal memasuki perairan Bakauheni yang tenang dan berkabut akibat hujan semalam. Sebelum meninggalkan kapal, disempatkan berdoa bersama dipimpin oleh Pak Ustad. Kemudian disusul briefing singkat yang dipimpin Pak Sis. Saat itu lah beliau mengusulkan untuk tidak melewati Jalan Raya yang langsung mengarah ke Bandar Lampung, yang bila terus ke utara akan memasuki Lintas Timur. Alasannya sederhana, karena dua tahun yang lalu pernah dilewati oleh SMOG saat menuju Padang.
Sepertinya Pak Sis sudah melihat ada Jalur Alternatif yang menjulur ke utara sejajar dengan Jalan Raya. Jalur ini awalnya menyusuri pesisir timur Lampung. Seratus kilometer kemudian mulai berbelok memasuki pedalaman, hingga bertemu Lintas Timur di utara Mengala.
Pukul 06.00 WIB, Begitu mendarat, konvoi supermoto ini segera keluar dari pelabuhan Bakauheni, dan memasuki jalan raya yang mengarah ke Bandar Lampung. Namun tiga ratus meter kemudian terdapat persimpangan dan motor pun dibelokan ke timur hingga sekarang memasuki jalan alternatif yang jalurnya menanjak. Sesampainya di puncak tanjakan tiba-tiba terhampar panorama perairan Bakauheni yang elok dan mistis dengan berselimut kabut, yang menutupi cahaya pagi yang teduh.
Acara selanjutnya adalah menikmati kebebasan. Bisa dikatakan jalan dilintasan ini meskipun tidak terlalu lebar namun kondisinya cukup bagus sehingga berbahaya. Kenapa? ….karena aspal hotmix nya yang mulus, jalanan yang terbuka dan lalu lintasnya yang sepi, pasti mengoda siapun untuk memacu motor. Namun semua itu bisa berubah ketika menemukan tikungan tajam yang tertutup. Karena dibaliknya bisa jadi jalanan langsung berubah menjadi hamparan tanah berlubang-lubang, yang bercampur batu dan kerikil.  Begitu juga yang kami alami. Begitu memasuki tikungan dengan kecepatan cukup tinggi, tiba-tiba di balik tikungan mendapati aspal hotmix lenyap. Yang bisa dilakukan hanya melawan panik ; menstabilkan motor, melepaskan gas sambil perlahan menekan dan mengijak rem,…dan bersiap menghadapi benturan!.
Beruntung kami mengendari supermoto yang memiliki rangka kokoh dan suspensi handal. Dengan berdiri diatas footstep dan mencoba bermanuver menghindari lubang yang dalam,kami libas ruas yang hancur itu. Selanjutnya kami cukup memacu motor pada kecepatan jelajah antara 60 sampai 90 kilometer perjam, sesuai kondisi dan situasi saja.
Pagi ini kami membentuk konvoi longar yang jarak antara satu motor dengan yang lain bisa satu atau bahkan lima kilometer. Juga disepakati untuk beristirahat dan berkumpul setiap menempuh jarak seratus kilometer.
07.30 WIB, Seratus kilometer pertama terjelang ketika konvoi sampai di Pelabuhan Maringai. Bila ditarik garis lurus ke barat, kota ini sejajar dengan Bandar lampung yang terpisah oleh jarak sejauh 70 kilometer. Ketika menemukan sebuah rumah makan yang tampaknya nyaman, kami pun berhenti dan beristirahat.
pamalayu-3
Sekarang perjalanan dilanjutkan dengan memasuki pedalaman Lampung. Setelah melewati Way Jepara, persimpangan kearah pelatihan gajah di Way Kambas, Sukadana,.. akhirnya sampai di perkebunan tebu yang amat luas. Kondisi jalan disini bagus, datar dan lurus, dengan lalu luintas yang bisa dikatakan kosong!.  Pak Ustad, Pak Sis dan Mario kegirangan saat menemukan surga para pemuja topspeed ini. Karena  bisa berekpresi tanpa perlu kuatir akan menggangu siapapun di tempat sesepi ini. Sedangkan Topan dan Ramadhan tetap asik menikmati panorama alam yang melaju dengan kecepatan jelajah.
10.00 WIB,  Jalur Alternatif ini akan bertemu dengan Lintas Timur di sebelah utara Mangala. Ketika jarak tempuh kembali mencapai seratus kilometer, kami pun mencari-cari warung kopi yang nyaman untuk beristirahat. Setengah jam kemudian perjalanan dilanjutkan, namun tiba-tiba hujan lebat turun dengan derasnya. Akibatnya formasi menjadi berantakan dan terpecah menjadi tiga kelompok.
Ketika hujan turun Pak Uztad dan Mario yang berada paling depan sudah sampai di Mesuji, dan memutuskan untuk berteduh sambil menunggu yang lain di sebuah rumah makan yang lokasinya sedikit menjorok kedalam. Sedangkan Pak Sis yang berada dibelakang mereka langsung berhenti  untuk berganti raincoat, kemudian bergegas menyusul.
Meskipun kedua rekannya sempat melihat, namun Pak Sis tidak melihat dan tanpa sadar malah melewatinya hingga melintasi perbatasan provinsi Lampung dengan Sumatera Selatan.  Sedangkan Novan dan Ramadhan yang berada di posisi paling belakang terpaksa berteduh di sebuah warung akibat derasnya hujan.
Mungkin karena gangguan cuaca buruk, ternyata saat itu kami tidak bisa saling menghubungi lewat handhone, sekitar dua jam mereka tidak saling mengetahui kondisi dan lokasi kelompok yang lain. Ketika hujan mulai reda Novan dan Ramadhan yang berada paling belakang bergegas menyusul yang lain. Entah kenapa, sama seperti Pak Sis ternyata mereka berdua juga tidak melihat Pak Uztad dan Mario yang sedang beristirahat di Mesuji.
Setelah melintasi sungai Mesuji yang menjadi perbatasan kedua provinsi, Novan dan Ramadhan memutuskan berhenti di emperan sebuah toko yang tutup dan memarkir motor dibahu jalan agar mudah dilihat. Diputuskan untuk menunggu khabar apakah posisinya sudah didepan atau malah masih dibelakang.
14.00 WIB : Pak Uztad dan  Mario menemukan Novan dan Ramadhan di dekat perbatasan. Sekarang posisi menjadi jelas bahwa Pak Sis pasti ada didepan, sehingga diputuskan untuk menyusul. Tidak lupa untuk mengirimkan pesan melalui SMS agar Pak Sis bisa mengetahui posisi kami, karena hubungan lewat telepon masih belum memungkinkan .
15.00 WIB : Di tengah perjalanan akhirnya Pak Sis menghubungi dan memberitahukan posisinya yang sudah sampai di Kayu Agung. Akhirnya diputuskan Pak Sis tetap maju kearah Palembang sedangkan kami berempat membuntuti.
18.00 WIB : Hujan yang masih turun serta stamina yang mulai terkuras membuat perjalanan menjadi lambat dan sulit. Apalagi ketika malam tiba….ternyata listrik disepanjang jalan yang kami lewati padam sehingga suasana menjadi gelap gulita. Masih ditambah dengan gerimis dan aspal yang basah sehingga memantulkan lampu motor dan berbalik menyilaukan mata. Belum lagi ketika berpapasan dengan kendaraan disini yang tanpa dosa mengunakan lampu led yang sanggup membutakan pandangan selama beberapa saat. Pak Sis yang paling susah, karena lampu utama motor mati sehingga terpaksa meneruskan perjalanan hanya dengan menyalakan lampu sein.
19.00 WIB : Para rider dari Sriwijaya Supermoto dan rombongan dari Jambi  sudah menunggu dipinggir kota Palembang, dan Pak Sis ternyata sudah bisa melakukan kontak dengan anak-anak tadi. Diputuskan Pak Uztad dan Mario untuk bergegas menuju titik kumpul, yang selanjutnya menuju Hotel. Sedangkan Novan dan Ramadhan yang kelelahan memilih berhenti dan beristirahat di sebuah warung.
21.00 WIB : Semua sudah berkumpul di Palembang,…namun tidak seorangpun yang mengetahui bahwa hari ini adalah ulang tahun Novan yang ke 41. Apapun itu tampaknya perjalanan dan kebersamaan ini adalah kado yang indah.
Acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan malam. Selanjutnya tuan rumah mempersilahkan kelima tamu dari Jakarta dan tiga tamu dari Jambi untuk beristirahat. Namun tidak untuk motornya, karena anak-anak supermoto Sriwijaya itu ingin meredakan hiruk pikuk segerombolan penunggang motor yang  dengan provokatif berkumpul disekitar Hotel sambil memamerkan gelegar knalpot motornya. . . .  Akhirnya Husqvarna 610SM unjuk kebolehan dan ditangan anak-anak Sriwijaya Supermoto , aksinya ternyata mampu menggentarkan motor-motor yang lain. Apalagi motor itu sudah dilengkapi knalpot TERMOGNINI buatan Italy.
Minggu, 23/11/2014 H+1 ; 07.00 WIB : Esok paginya setelah sarapan diisi acara menyiapkan motor . Baru diketahui kalau bola lampu utama Pak Sis remuk sehingga harus diganti.  Selanjutnya mereka bergegas menuju Benteng kuto Besak yang terletak di pinggir sungai Musi. Namun saat sedang mengisi bensin disebuah SPBU, tiba-tiba dudukan setandar Honda XR650R yang ditunggangi Pak Sis patah, sehingga harus mencari tukang las untuk diperbaiki. Tanpa setandar Pak Sis tidak bisa menyalakan motor yang tidak dilengkapi electric-starter itu. Namun tidak kekurangan akal, empat orang segera menahan motor agar mantap berdiri sehingga Pak Sis bisa bisa menendang engkol untuk menyalakan motor.
Akhirnya mereka sampai dilokasi yang letak tempat itu tidak jauh dari jembatan Ampera yang menjadi latar penyerahan Plakat Pengukuhan dari Presiden SMOG, Sdr. Mario kepada Sriwijaya Supermoto atas berdiri dan bergabungnya Sriwijaya Supermoto dikeluarga besar Supermoto Owner Group sebagai Grup para pemilik Supermoto di Indonesia.
pamalayu-4
Saat itu Novan menyatakan keinginan untuk menyudahi perjalanan di Palembang karena anaknya masih dirawat di rumah sakit. Ternyata Ramadhan berniat menemaninya karena mempertimbangkan cutinya yang belum disetujui. Diputuskan untuk berbalik ke Bandar Lampung, dari sana motor akan dipaketkan ke Jakarta dan orangnya bisa mengunakan pesawat terbang atau bus Damri jurusan Lampung-Jakarta.
Pukul 11.00 WIB, Novan dan Ramadhan berpisah, sedang  Pak Sis, Pak Uztad dan Mario serta rekan-rekan dari Jambi yang ikut menjemput di Palembang, melanjutkan perjalanan menuju Jambi, sedangkan Novan dan Ramadhan balik menuju Lampung dengan memilih jalur yang berbeda dengan saat kedatangan, yaitu Lintas Tengah. Cabangnya ada di Indralaya yang jika ke keselatan akan memasuki Lintas Timur, sedangkan bila terus ke barat memasuki koridor yang menghubungkan dengan Lintas Tengah.

PALEMBANG-MUARAENIM-BATURAJA

(Ramadan & Novan)
Dalam perjalanan tengah hari, cuaca cukup terik meskipun berawan. Mereka beristirahat di sebuah rumah makan di Prabumulih yang merupakan pertemuan dengan Lintas Tengah Sumatera. Jalan raya ini adalah jalur darat tertua yang dibuat kolonial Belanda di Sumatera yang menghubungkan bagian selatan Sumatera di Bandar Lampung, hingga Banda Aceh di utara. Disini terdapat persimpangan yang ke selatan menuju Baturaja, sedangkan yang ke Barat menuju Muaraenim.
Karena jalur yang melewati Lintas Tengah dari Prabumulih menuju Baturaja di selatan relatif datar dan monoton dengan hamparan kebun kelapa sawit dan karet yang luas. Diputuskan melalui Muara Enim yang melambung.Dari Prabumulih jalurnya menyusuri salah satu anak sungai Musi, yaitu Lematang hingga sampai di Muara Enim. Setelah itu baru berbelok ke selatan menerobos pegunungan melalui jalur alternative yang akan bertemu Lintas Timur lagi di Baturaja .
16.00 WIB : Sesampainya di Muara Enim diputuskan untuk beristirahat. Baru selepas magrib perjalanan dilanjutkan memasuki jalur alternatif yang berupa jalan pegunungan yang gelap, sepi, sempit, naik-turun dan berkelak-kelok.
19.00 WIB : Hujan deras yang turun memaksa berteduh selama dua jam di sebuah masjid di Muara Pandan. Nyaris tidak ditemukan kendaraan lain yang melintas, bahkan di kampung-kampung nya pun tidak terlihat seorangpun yang tampak.
22.00 WIB, Akhirnya Ramadhan dan Novan keluar dari pegunungan yang gelap, dan sampai di Ulak Pandang yang jaraknya sekitar dua puluh kilometer sebelum Baturaja. Disana terdapat pangkalan truk yang terletak dipingir sungai Ogan yang bila hari terang maka panorama ‘river-view’ nya begitu mempesona. Tempat itu selain menjual makanan dan miniman hangat, ternyata juga menyediakan tempat bermalam gratis. Bentuknya berupa rumah panggung yang panjang dan terbuka, dengan lantai kayu yang sangat nyaman. Selain itu juga ada tukang pijat yang sanggup melemaskan otot-otot yang tegang setelah dua hari berada di jalanan. Saat itu, jelaslah bahwa hari ini gagal mencapai Bandar Lampung.
pamalayu-5

BATURAJA-MUARADUA-LIWA-BUKITKEMUNING-BANDARLAMPUNG

(Ramadan & Novan)
Senin, 23/11/2014 H+2, Pukul 06.00 WIB : Setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan menuju Baturaja. Sebenarnya untuk mencapai Bandar Lampung tinggal mengikuti Lintas Tengah yang menuju Martapura kemudian menyeberangi perbatasan Lampung. Jalurnya melintasi belukar, perkebunan karet dan desa-desa yang sederhana dan momoton. Entah mengapa timbul ide untuk berkunjung ke danau Ranau yang indah, meskipun untuk itu harus melambung ke barat dari Baturaja.
Dengan mantap mereka mengikuti pertunjuk seorang warga setempat hingga dapat menemukan jalan menuju Simpang. Dari sana berbelok ke barat mengarah ke Muara Dua yang terletak didekat hulu sungai Komering, dari sana danau Ranau sudah dekat.  Setelah melintasi kebun-kebun kopi yang rimbun
dan guyuran hujan lebat sampailah di danau Ranau yang saat itu tertutup kabut.
12.00 WIB, Setelah hujan reda perjalanan dilanjutnya menuju Liwa, kemudian memasuki koridor yang menghubungkan Lintas Barat di Krui yang terletak di pesisir barat Sumatera dengan Lintas Tengah. Sampailah di Bukit Kemuning yang terletak di Lintas Tengah dan berhenti untuk makan siang dan beristirahat.
14.00 WIB : Perjalanan dilanjutkan menuju Kotabumi kemudian terus ke timur hingga tiba di Terbangi, dan masuk ke Lintas Timur menuju selatan.  Namun sesampainya Bandar Jaya, hujan deras turun dengan disertai angin kencang yang cukup mengerikan. Segera jalanan tertutup air seolah berubah menjadi sungai sehingga menimbulkan kemacetan panjang. Jelaslah saat itu, meskipun tidak satupun motor yang terlihat masih ada di jalan, namun dengan tertatih-tatih Ramadhan dan Novan tetap berusaha maju dengan bermanuver melalui bahu jalan, jalur lawan, sampai trotoar untuk menembus kemacetan.
Pukul 16.00 WIB , Novan dan Ramadhan sampai di Bandar Lampung dan mendapati keluarganya dalam keadaan sehat. Malamnya Ramadhan langsung kembali ke Jakarta naik bus Damri. Sedangkan kedua motor dikirim ke Jakarta  melalui perusahaan ekspedisi.

PALEMBANG-JAMBI

(Pak Sis, Mario, Pak Ustad)
Minggu 23 Nopember 2014, siang hari setelah berpisah dengan Novan dan Ramadhan. Rombongan Pak Sis, Mario dan Pak Ustad dikawal Abdee dari JamSmog dengan Yamaha Scorpio yang dimodif menjadi supermoto, dan dua orang Kracker Jambi dengan dua Kawasaki KLX150 modif Sumo yaitu Kang Katro dan Jamsuri.
Sejak keluar kota Palembang menuju Jambi, jalanan sempit dan lalu lintas sangat padat dengan aktivitas truk-truk besar berbagai jenis yang menyebabkan kemacetan. Hal ini diperparah dengan disiplin berkendaraan para pengemudi mobil dan angkot yang saling menyerobot. Namun rombongan Supermoto masih mampu meliuk dengan lincah dan memanfaatkan motor yang dapat berakselerasi dengan cepat, sehingga mampu lolos dari simpul-simpul kemacetan.
14.00 WIB : Kemacetan menjadi cair selepas Betung. Mendekati Sungai Lilin kita beristirahat di sebuah rumah makan minang yang cukup besar dan tampaknya baru dibangun. Namun sewaktu makan datang serbuan dari kawanan lalat yang  jumlahnya sangat banyak, sehingga suasana bagaikan di pasar ikan saja. Setelah kita bertanya baru diketahui kalau dibelakang ada peternakan ayam. Namun rasa lapar ternyata bisa mengalahkan pandangan, meskipun terpaksa harus makan dengan cepat agar kenyang.
Hujan dan terang silih berganti antara Sungai Lilin dan Bayungleuncir sehingga menjadikan sedikit repot untuk memakai dan melepas jas hujan. Saat itu baru diketahui apabila oli sok depan sebelah kanan Yamaha Tenere yang dikendarai Mario ternyata bocor. Akibatnya setiap kali berbelok harus melambatkan motor karena kestabilan menjadi berkurang. Ternyata hal yang sama juga terjadi pada KTM 200 Duke yang dikendarai Ramadhan yang saat ini sedang mendekati Muara Enim.
Kondisi jalan disini yang bagus, terbuka, dan sepi sehingga banyak ruasnya yang memungkinkan untuk mengexploitasi kemampuan motor. Maka terjadilah uber-uberan sengit antara Yamaha Scorpio yang sudah di modif tampilannya mirip supermoto lansiran KTM dan mesinnya juga sudah di ‘boreup’. Melawan Husqvarna 610SM yang diakhiri dengan rontoknya mesin scorpio, karena mengalami ‘overhead’ atau kepanasan akibat mesinnya terus menerus digeber melebihi batas.
Bila kedua motor dibandingkan, spesifikasinya jauh berbeda karena yang satu adalah supermoto non-pabrikan yang dikembangkan dari motor harian dengan kapasitas mesin dibawah 250 cc. Melawan supermoto pabrikan dengan mesin diatas 600 cc yang sudah mengalami modifikasi penggantian knalpot Termognini buatan Italy dan rejecting sehingga tenaganya menjadi berlipat ganda.
Sekarang terpaksa motor yang mogok harus dievakuasi dengan pick-up, sedangkan penunggangnya, yaitu Abdee malah mengantikan Pak Ustad yang kini malah jadi pembonceng. Selanjutnya keduanya melanjutkan balapan dalam satu motor melawan supermoto yang lain .  Ternyata meskipun berboncengan, kelincahan dan akselerasi Husqvarna 610SM tidak tampak berkurang.
Pukul 19.30 wib, kami memasuki Jambi dan langsung menuju markas JAMSMOG di kediaman Kang Katro yang juga seorang mekanik motor. Disana motor ditinggalkan untuk dibersihkan sekaligus diperbaiki seal sok depan Yamaha Tenere yang bocor.
Senin, 24 Nopember 2014, pukul 07.00 wib setelah sarapan pagi di Hotel, kita diantar menuju markas JAMSMOG untuk mengambil motor sekaligus persiapan melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah mengisi bensin penuh, dengan diantar rekan-rekan dari Jambi. Kita menyempatkan diri untuk mampir ke Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai Jambi untuk bersilaturahmi.
Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Candi Baru di Muaro Jambi yang berkaitan erat dengan jejak sejarah Sumatra dan Nusantara yang akan dibahas dibuku Jurnal Supermoto yang kedua. Lokasinya sekitar 25 kilometer dari kota Jambi. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Lintas Timur yang menuju Pekanbaru. Disini kami berpisah dengan rekan-rekan dari Jambi.

JAMBI-PEMATANGREBA-BASERAH

Jalan raya ini mula-mula sejajar dengan sungai Batanghari namun dua puluh kilometer kemudian mulai menanjak saat memasuki pegunungan yang kondisi jalurnya sangat bagus dan mulus. Disini dapat dijumpai sebuah lintasan aspal hotmix yang mulus dan sepi dengan turunan, tanjakan serta kelokannya yang mengasikan. Setelah dua jam bermotor dengan menempuh jarak 150 kilometer atau dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer perjam, sampailah kami di Merlung.
Cuaca yang panas membuat konsentrasi dan stamina cepat terkuras sehingga diputuskan untuk beristirahat dan mengisi bensin Premium di SPBU.  Hal ini mirip kejadian waktu SMOG melakukan perjalanan dari Wotu ke Poso, meskipun jalan lenggang dan kecepatan diatas 80 km/jam, rasanya konsentrasi dan mata sudah tidak fokus lagi.
Lepas tengah hari setelah istirahat, cuaca menjadi teduh. Sehingga setelah menuaikan sholat dhuhur dan jamak, perjalanan bisa dilanjutkan hingga menemukan warung makan karena perut sudah terasa lapar. Tampaknya perbatasan Jambi dengan Riau sudah dekat.
17.15 WIB , Di Pematang Reba kami menemukan SPBU yang menjual Pertamax. Disana kami bertiga sempat membicarakan apakah akan melanjutkan perjalanan menuju Pekanbaru. Akhirnya karena mempertimbangkan faktor stamina yang sudah menurun, malam yang segera menjelang, serta cuaca yang basah sesudah hujan. Diputuskan untuk singgah dan bermalam di Basra yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh, sekitar 70 kilometer dari Pematangreba. Karena disana tinggal Nenek mertua Pak Sis.
20.00 WIB, Setelah hampir tiga jam bermotor sampailah di Basra. Basra adalah tujuan pemberhentian, kebetulan Kampung mertua Pak Sis ada disana. Akhirnya malam ini bisa merasakan istirahat di rumah kayu khas Melayu yang sudah digelar karpet ditengah ruangan. Sebelumnya Pak Sis sempat telpon untuk minta dicarikan tukang pijat.
Akhirnya semangat Pak Uztad yang sebelumnya masih menggebu-gebu untuk meneruskan perjalanan malam itu ke Pekanbaru yang berjarak sekitar 170 km, setelah dipijat malah minta untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan pada pagi hari sehingga waktu bangun subuh kondisi badan sudah fit kembali.
pamalayu-6

BASRAH-TALUK KUANTAN-PEKANBARU

Selasa 24 Nopember 2014, Setelah sarapan pagi bertiga bersiap untuk meneruskan perjalan ke Pekanbaru.
Perjalan dimulai sekitar pukul 07.30, dengan jalan yang masih basah dari hujan semalam dan jalanan yang masih sempit , bertiga dengan gaya supermotonya masing masing berusaha untuk melaju secepatnya menuju Taluk Kuantan yang tersohor dengan acara PACU JALUR di sungai yang menjadi acara meriah yang diselenggarakan setiap tahun dan sekarang Podium menonton Pacu jalurpun sudah dibuat megah oleh Bupati.
Setelah masuk kota Taluk Kuantan, terdapat persimpangan kekiri menuju Sumatera Barat dan yang kebarat menuju Lipat Kain, yang bila terus akan sampai di Pekanbaru. Saat melewati Muara lembu Pak Sis terkenang ketika beberapa  tahun yang lalu melintasi di tempat ini menjelang magrib, dan tiba-tiba didepan terhalang oleh gerombolan babi hutan yang sedang menyeberang. Beruntung saat itu berpapasan dengan ekor rombongan, coba kalau kepergok dengan gerombolan di bagian tengah atau didepan, pasti akan lain ceritannya. Selain itu di wilayah ini konon masih sering warga memergoki harimau yang berkeliaran.
Menjelang Lipat kain yang merupakan pertengahan antara Taluk Kuantan dengan Pekanbaru, tiba-tiba motor pak Ustad mengalami masalah dengan baut knalpot yang patah sehingga harus diperbaiki secara darurat ditengah jalan. Ternyata tidak jauh dari tempat itu terdapat Warung yang menyajikan kuliner setempat, yaitu Lontong sayur khas Riau.
Setelah sarapan perjalanan dilanjutkan dengan memacu motor melintasi perbukitan yang ditutupi kebun kelapa sawit yang luas. Mendekati Pekanbaru segera menginformasikan kepada teman Kracker di kota itu yang akan menjemput untuk memandu menuju Hotel.
Sesampai dihotel Mario dan Pak Ustad membersihkan diri dan bersiap pulang ke Jakarta malam itu juga karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan Pak Sis bersama anak-anak dari Kracker Riau yang menuju Stadion Pekanbaru untuk menjajal supermoto pabrikan, yaitu Husqvarna 610SM dan supermoto hasil modifikasi motor enduro, yaitu Honda XR 650R.
Dengan merasakan sendiri mengendarai akan didapat pengalaman nyata yang sebenarnya, bukan hanya sekedar ‘katanya’. Bahkan disitu Roman yang sempat mencoba kedua motor sempat terpesona dan berkomentar, menaiki supermoto-supermoto itu serasa sedang naik motor matic saja, karena power to weight rasionya sangat besar sehingga motor terasa ringan kalau sudah berjalan.
pamalayu-7
Setelah itu Mario dan Pak Ustad berpamitan ke Bandara untuk pulang ke Jakarta. Sedangkan motor-motor mereka, kebetulan langsung bisa dikirim melalui perusahaan jasa cargo ke Jakarta malam itu. Perjalanan mengunjungi negeri Melayu ini pun diakhiri, jarak yang ditempuh dari Merak ke Palembang menuju Jambi dan berakhir di Pekanbaru dijalani sejauh 1550 km, namun kisahnya akan menjadi bagian cerita dari buku Jurnal Supermoto 2 ; Jalan Tengah Sumatera.
Walaikumsalam Wr. Wb. Terima kasih.
]]>
http://smoger.com/2015/02/14/ekspedisi-pamalayu-perjalanan-mengunjungi-negeri-melayu/feed/ 0
Buku Supermoto – Jurnal Supermoto Tepian Jawa http://smoger.com/2014/11/12/buku-supermoto-jurnal-supermoto-tepian-jawa/ http://smoger.com/2014/11/12/buku-supermoto-jurnal-supermoto-tepian-jawa/#respond Wed, 12 Nov 2014 13:53:30 +0000 http://963.658.myftpupload.com/?p=1150 Sebagai penggemar Motor Supermoto, terutama bagi mereka yang baru mengenal motor khususnya Motor Supermoto, disarankan untuk dapat membaca buku ini sebagai paduan awal tentang Motor Supermoto. Karena sebagian besar penggemar / pehobby Motor Supermoto diawali dengan ketidak tahuan tentang apa itu Motor Supermoto. Selanjutnya dengan ketidaksengajaan, akhirnya mengenal lebih jauh tentang Motor Supermoto , setelah mengenal lebih jauh akhirnya mencintai dunia Motor Supermoto dan ternyata dunia Motor Supermoto adalah sangat Indah apabila kita mengenalnya.Buku Jurnal Supermoto Tepian Jawa diulas oleh Tabloid MOTOR PLUS edisi 803.XV.16 – 22 Juli 1014. Dengan resensi sebagai berikut :Didalam buku ini berisi ketidak sengajaan penulis mengendarai Motor Supermoto untuk melakukan ” blusukan ” seantero Pulau Jawa yang akhirnya bertemu dengan komunitas pemilik Motor Supermoto yang melakukan perjalanan bersama, dimana dalam perjalanan tersebut terdapat pengalaman dan konflik seputar Motor Supermoto yang memberikan pengetahuan / edukasi tentang Motor Supermoto yang sebenarnya.

stj1

Sekilas tentang Buku Jurnal Supermoto Tepian Jawa :

Cover Depan Buku

Cover Depan Buku

stj3

Peta perjalanan Jelajah Tepian Pulau Jawa, berbagai pengalaman selama melakukan perjalanan mengendarai Motor Supermoto baik sendirian maupun Bersama beberapa orang rider Supermoto.

stj3

stj7

stj4

Kata pengantar yang merupakan pengalaman pribadi dari salah seorang pelaku perjalanan.

stj5

Pesan bijak yang perlu kita pahami dan mengerti, biasanya orang akan memahami dan mengambil hikmahnya setelah mengalaminya, sehingga kita selalu harus ingat pepatah bahwa ” Pengalaman adalah guru yang paling baik”.

stj6

Untuk memberikan gambaran dan pengertian tentang motor Supermoto, buku ini mencoba memberikan gambaran dan pembanding Motor Dual purpose, Motor Cross/MX, Motor Enduro dan Motor Supermoto.

stj8

Gambaran balap dari tiga macam lintasan yang digabung, yang menjadikan cikal bakal balap Superbikers yang akhirnya dikenal sebagai Supermoto.

stj9 stj10

Diberikan juga gambaran tentang Helm Supermoto dengan berbagai macam model, yang terinspirasi dari Gabungan Helm Motor Cross dan Motor Gede.

stj11

Gambaran Peta Jawa Timur dan pegunungan Bromo yang telah dijelajahi oleh para rider Motor Supermoto dalam buku ini

stj12

Demikian juga sampai pemakaian Ban Moge yang dipakai di Motor Supermoto

stj13

Bahwa pada 16 Mei Tahun 1917 di Pulau jawa sudah ada Pengendara Motor yang menempuh jarak Jakarta ke Surabaya kurang dari 24 jam

stj14

Buku ini memberikan pesan atas pengalaman perjalanan hidup yang benar terjadi.

stj15

Buku ini ditutup dengan Kisi-kisi tentang penulisan lanjutan Buku ke dua yang Insya Allah akan diterbitkan, mengenai perjalanan di Pulau Sumatra yang telah dijelajahi dari Pelabuhan Panjang sampai dengan Kilometer Nol di Pulau Sabang, baik melalui jalur normal/tengah, Jalur Timur maupun Jalur Barat. Dibuku kedua akan diulas tentang Motor Supermoto dengan lebih detail dari Roda sampai rangka motor dsb. serta sejarahnya yang dibantu oleh seorang mantan pembalap Supermoto Eropa. Buku kedua diharapkan dapat memberikan edukasi, sharing pengetahuan dan pengalaman tentang Motor Supermoto seutuhnya. ( Buku Jurnal Supermoto Tepian Jawa yang telah terbit untuk sementara dipasarkan secara terbatas. Pemesan dapat menghubungi Sdr. Novan dgn nomor Hp (0858-8131-1877 ).

 

 

]]>
http://smoger.com/2014/11/12/buku-supermoto-jurnal-supermoto-tepian-jawa/feed/ 0